Sekilas, pertanyaan “Apakah yang dimaksud dengan Alkitab?” terdengar begitu sederhana. Banyak dari kita mungkin merasa tak perlu mempertanyakannya lagi karena sejak kecil sudah diajarkan bahwa Alkitab adalah kitab suci umat Kristen. Namun justru karena anggapan bahwa kita sudah tahu, pertanyaan ini patut direnungkan kembali. Sebab sering kali, pemahaman yang dalam justru lahir dari keberanian untuk bertanya ulang atas hal-hal yang kita anggap sudah pasti.
Untuk memahami makna Alkitab secara utuh, kita dapat membedahnya dari dua sisi yang saling melengkapi: sisi leksikal (yakni makna kata itu sendiri) dan sisi teologis (yakni makna berdasarkan keyakinan iman). Pendekatan ini menolong kita melihat bahwa Alkitab bukan hanya sekumpulan teks kuno, melainkan firman yang hidup dan penuh kuasa bagi umat Allah sepanjang zaman.
Makna Alkitab secara Leksikal: “Kitab Itu”
Secara etimologis, kata “Alkitab” berasal dari bahasa Arab: al-kitab, yang secara harfiah berarti “kitab itu” atau “buku itu.” Penggunaan artikel penentu “al-” menunjukkan bahwa ini bukan sembarang kitab. Ketika seseorang menyebut “Alkitab”, maka yang dimaksud adalah kitab itu—kitab yang khusus, yang memiliki posisi istimewa dan unik di antara semua kitab lain yang pernah ada.
Dalam bahasa Inggris, kita mengenalnya sebagai The Bible, dan untuk memperkuat kesuciannya sering disebut The Holy Bible. Penekanan ini tidak muncul tanpa alasan. Di balik penyebutan itu, tersirat pengakuan bahwa Alkitab adalah otoritas tertinggi dalam kehidupan iman Kristen. Ia bukan buku sejarah biasa, bukan pula karya literatur spiritual semata, tetapi firman Allah yang kekal.
Ketika orang Kristen menyebut “Alkitab”, tidak ada kebingungan tentang kitab mana yang dimaksud. Tidak perlu dijelaskan lagi bahwa yang dimaksud adalah kitab dari Kejadian hingga Wahyu. Ini menunjukkan bahwa sejak awal, umat percaya meyakini bahwa Alkitab adalah satu-satunya sumber kebenaran ilahi yang dapat diandalkan.
Makna Alkitab secara Teologis: Kanon dan Keyakinan Iman
Namun jika kita mendalami lebih jauh secara teologis, makna Alkitab tidaklah selalu seragam. Pemahaman teologis tentang apa itu Alkitab berbeda-beda tergantung pada tradisi iman dan kerangka kepercayaan masing-masing kelompok. Di sinilah kita mulai melihat keragaman yang ada.
Misalnya, dalam tradisi Yudaisme, istilah Alkitab merujuk hanya pada apa yang kita kenal sebagai Perjanjian Lama. Namun mereka tidak menyebutnya “Perjanjian Lama”, karena bagi mereka, itu adalah seluruh Kitab Suci. Dalam kanon Ibrani, kitab-kitab tersebut disusun secara berbeda—dimulai dari Kejadian dan berakhir dengan Tawarikh, bukan Maleakhi seperti dalam susunan Kristen. Beberapa kitab digabung menjadi satu, seperti 1 dan 2 Samuel, atau 1 dan 2 Raja-raja, sehingga jumlah keseluruhannya hanya 24 kitab. Kendati berbeda susunan dan penamaan, isi Perjanjian Lama dalam kanon Yahudi secara substansi sama dengan yang kita miliki hari ini.
Sementara itu, umat Katolik memahami Alkitab mencakup bukan hanya Perjanjian Lama dan Baru, tetapi juga sejumlah kitab yang disebut Deuterokanonika—secara harfiah berarti “kanon kedua.” Kitab-kitab seperti Tobit, Yudit, Kebijaksanaan Salomo, dan Makabe termasuk dalam kategori ini. Bagi umat Katolik, kitab-kitab Deuterokanonika memiliki otoritas ilahi dan dianggap sebagai bagian sah dari Kitab Suci.
Berbeda dengan itu, umat Kristen Protestan, termasuk kita, meyakini bahwa Alkitab terdiri dari 66 kitab, yaitu 39 kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab Perjanjian Baru. Kita menolak kitab-kitab Deuterokanonika sebagai bagian dari firman Allah karena berbagai alasan historis dan teologis—yang akan kita bahas lebih lanjut dalam seri tersendiri. Namun yang jelas, kita mengakui bahwa baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru adalah firman Allah yang diilhamkan Roh Kudus, otoritatif, dan tidak berubah.
Alkitab: Firman Allah yang Hidup dan Kekal
Mengapa pemahaman ini penting? Karena semakin dalam kita mengenal apa itu Alkitab, semakin kita menghargainya bukan sebagai sekadar buku kuno, melainkan sebagai firman hidup. Firman yang menuntun, menegur, menghibur, dan memulihkan. Firman yang memberi terang bagi langkah kita dan kekuatan bagi iman kita.
2 Timotius 3:16-17 menegaskan:
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”
Ayat ini mengingatkan kita bahwa Alkitab tidak ditulis sekadar untuk dibaca, tetapi untuk mengubah kehidupan. Ia menyingkapkan karakter Allah, membuka jalan keselamatan di dalam Kristus, dan menuntun umat percaya hidup dalam kekudusan dan kebenaran.
Menjadikan Alkitab Sebagai Sumber Kebenaran yang Tertinggi
Oleh karena itu, sebagai orang percaya, kita dipanggil bukan hanya untuk memiliki Alkitab, tetapi juga mengasihi dan mempercayai isinya sepenuhnya. Firman Tuhan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah sumber kebenaran tertinggi, bukan hanya untuk memahami iman kita, tetapi juga untuk menjawab persoalan etika, sosial, dan eksistensi manusia dalam dunia yang terus berubah.
Dalam dunia yang penuh relativisme dan kebingungan moral, Alkitab hadir sebagai jangkar kebenaran yang tak tergoyahkan. Ia bukan sekadar warisan spiritual, tetapi kompas hidup yang menunjukkan arah kepada siapa saja yang bersedia membuka dan merenungkannya.
Penutup: Menghargai Firman yang Telah Diberikan
Kiranya melalui pemahaman ini, kita makin menghargai anugerah besar yang Tuhan berikan kepada kita dalam bentuk Alkitab. Kiranya kita bukan hanya menyimpannya di rak atau membacanya di waktu senggang, tetapi menjadikan Alkitab sebagai pusat hidup, sumber hikmat, dan dasar setiap keputusan.
Alkitab adalah “buku itu”—buku yang berbeda, khusus, dan kudus. Ia adalah wahyu tertulis dari Allah, diberikan kepada umat manusia supaya kita mengenal Dia, hidup dalam kehendak-Nya, dan mengalami kuasa-Nya yang mengubah segalanya.
Firman Allah itu indah, hidup, kekal, dan tidak mungkin berubah. Dan kepada firman inilah kita boleh bersandar, hari ini dan selama-lamanya.