Kemahatahuan (omniscience)
Pengetahuan Allah mencakup segala sesuatu, bersifat spontan dan sempurna. Tiga karakteristik kemahatahuan Allah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, Allah mengetahui segala sesuatu baik diri-Nya sendiri secara sempurna maupun maupun segala sesuatu di luar diri-Nya, baik yang bersifat benar-benar terjadi (aktual) maupun yang mungkin terjadi (possible).
Allah mengenal diri-Nya sendiri secara sempurna sesuai pernyataan 1 Korintus 2:10-11. Alkitab berkata: “Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah.”
Dari sisi lain, Allah mengetahui segala hal diluar diri-Nya baik yang bersifat benar-benar terjadi (aktual) maupun yang mungkin terjadi (possible). Allah mengetahui hal-hal yang aktual, misalnya semua ciptaan (Ibr 4:13), masa depan (Yes 46:9-10), kebutuhan kita yang tak atau belum terkatakan (Mat 6:8), jumlah rambut kita (Mat 10:30), pikiran manusia (Mzm 139:1-2), kata-kata yang belum diucapkan (Mzm 139:4), detail kehidupan kita (Mzm 139:16). Allah juga mengetahui hal-hal yang mungkin akan terjadi tetapi tidak terjadi (1 Sam 23:11-13; Mat 11:21, 23; 2 Raj 13:19).
Kedua, pengetahuan Allah bersifat spontan dan kekal karena tidak melalui proses belajar atau pengalaman. Jika pengetahuan Allah dapat bertambah melalui proses belajar, maka pajatinya pengetahuan Allah tidak sempurna.
Ketiga, pengetahuan Allah yang sempurna dinyatakan dalam Ayub 37:16b, dimana terjemahan literal adalah “yang sempurna dalam pengetahuan”. Demikian juga Ia tahu segala sesuatu seperti pernyataan 1 Yohanes 3:20 yang terdapat frasa “Allah…mengetahui segala sesuatu”.