Apa yang dimaksud dengan ketidakberubahan Allah?

Sifat ketidakberubahan Allah (unchangeableness, immutability)

Firman Tuhan menjelaskan berbagai hal tentang ketidakberubahan Allah. Allah tidak berubah dalam hal keberadaan (Mzm 102:27-28), kesempurnaan (Mzm 90:1-2; Mal 3:6; Yak 1:17), tujuan (Mzm 33:11; Yes 46:9-11; Mat 13:35; 25:24; Ef 1:4, 11; 3:9, 11; 2 Tim 2:19; 1 Pet 1:20; Why 13:8), dan janji-janji-Nya (Bil 23:19; Mzm 12:7-8). Mengapa sifat ketidakberubahan Allah penting? Sebab perubahan menunjukkan ketidaksempurnaan. Bertambah baik atau buruk menunjukan ketidaksempurnaan. Hal itu tidak akan terjadi pada Allah yang sempurna.

Meski demikian, ada beberapa perikop Alkitab yang menunjukan bahwa seolah-olah Allah berubah pikiran atau ketetapan-Nya,  misalnya Allah menyesal dan sebagainya. Tatkala Alkitab terlihat berubah pikiran atau rencana, hal itu hanyalah respon Allah terhadap situasi yang berbeda-beda yang diungkapkan dalam bahasa manusia (Bil 23:19; 1 Sam 15:11, 29, 35).

Dalam pengalaman hidup, situasi hidup kita bisa berubah karena berdoa (2 Raj 20:1-5). Ada doa kita yang terkabul karena kita berdoa. Namun demikian hal itu tidak berarti Allah mengalami perubahan dalam ketetapan-Nya. Sebagai suatu contoh dalam 2 Raja-raja 20:1-6 tentang kisah kisah Hizkia yang dinyatakan akan mati ternyata mendapatkan kesempatan hidup lima belas tahun lagi. Menarik sekali ternyata dalam 2 Raja-raja 20:6b disana dikatakan “oleh karena Aku dan oleh karena Daud, hamba-Ku” sebagai alasan mengapa usia Hizkia diperpanjang.