Kerohanian (spirituality)
Allah adalah Roh. Yohanes 4:24 berkata: “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” JIka Allah adalah Roh, maka keberadaan-Nya tidak terbuat dari materi seperti pernyataan Kisah para rasul 17:29 bahwa: “Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia.” Allah juga tidak memiliki dimensi ruang. Kisah para rasul menuliskan bahwa: “Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia”. Sebagai konsekuensi, Allah tidak dapat ditangkap oleh indera manusia maupun dibatasi oleh ruang atau waktu.
Karena Allah adalah Roh, hal ini membawa beberapa implikasi penting. Pertama, karena Allah adalah Roh, maka Allah tidak bisa dipahami, dipersepsi, dideteksi atau dijamah melalui indra manusia. segala hal yang tangkap dengan panca indra adalah hal-hal yang bersifat materi dan jasmaniah. Meski demikian di dalam anugerah-Nya Dia mengijinkan kehadiran-Nya secara rohani itu bisa dialami dan nikmati. Misalnya di dalam ibadah, kita bisa merasakan jamahan tangan Tuhan. Di dalam waktu doa pribadi, kita bisa mengalami persekutuan yang intim dengan Tuhan. Di dalam doa-doa kita, tidak jarang kita bisa merasakan Allah begitu dekat dengan kita.
Kedua, karena Allah adalah Roh, berarti ibadah kita tidak bisa dibatasi oleh tempat dan hal-hal yang sifatnya jasmani atau benda-benda tertentu. Hal itu dikatakan dalam Yohanes 4:21-24 bahwa: “… saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. … Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran…”. Oleh karena itu, meskipun Allah adalah Roh, oleh anugerah-Nya kita bisa mendekati Dia kapanpun dan dimanapun, tidak ada batasan waktu dan tempat.