Kita hidup di zaman di mana dosa seksual semakin hari semakin dianggap hal yang wajar. Apa yang dulu sulit didapat, kini hadir begitu mudah bahkan tanpa diminta. Pornografi, yang dulu harus dicari dengan usaha, kini justru hadir mendatangi manusia lewat internet, iklan, film, televisi, hingga media sosial. Paparan sensualitas begitu merajalela, seakan-akan menjadi hal yang lumrah. Banyak orang tidak lagi merasa bersalah ketika terjatuh dalam dosa seksual, karena lingkungan sosial pun seolah memberi pembenaran. Namun di tengah situasi ini, kita perlu mendengar kembali suara Allah dalam Sepuluh Perintah-Nya, khususnya perintah ketujuh: “Jangan berzinah!” (Keluaran 20:14).
Perintah ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung makna rohani yang sangat dalam. Allah tidak hanya melarang tindakan fisik berupa perzinahan, tetapi memanggil umat-Nya untuk menjaga hati, pikiran, dan tubuh agar hidup dalam kesucian. Rasul Paulus mengingatkan jemaat Tesalonika, “Supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah” (1 Tes. 4:4–5). Dari ayat ini terlihat jelas bahwa inti dari perintah ketujuh adalah pengudusan dan penghormatan. Kita dipanggil untuk menghargai tubuh kita, karena tubuh ini telah lebih dahulu dihargai dan dikuduskan oleh Allah sendiri.
Paulus bahkan menegaskan kepada jemaat di Korintus bahwa tubuh orang percaya bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan bahwa “tubuhmu adalah anggota Kristus” (1 Kor. 6:13, 15, 20). Lebih jauh lagi ia menambahkan: “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu.” Ini berarti tubuh kita bukan milik kita sendiri. Allah sudah membelinya dengan harga yang sangat mahal, yaitu darah Kristus. Karena itu, menjaga tubuh dari perzinahan adalah bentuk penghormatan kita kepada Allah yang lebih dahulu menguduskan tubuh ini.
Yesus sendiri dalam Khotbah di Bukit memperluas pengertian perintah ketujuh. Ia mengajarkan bahwa perzinahan tidak hanya soal hubungan fisik, melainkan juga soal pandangan, keinginan, dan tindakan. Maka jelaslah bahwa ketaatan pada perintah ini harus dimulai dari hal-hal yang tampaknya kecil namun sangat menentukan arah hidup seseorang. Pertama, Yesus menyinggung soal mata. Ia berkata: “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Mat. 5:28). Dari sini kita memahami bahwa dosa seringkali berawal dari pandangan. Melihat lawan jenis bukanlah dosa, tetapi jika pandangan itu diiringi hawa nafsu, maka hal itu sudah menjadi dosa di hadapan Allah. Karena itu, menjaga mata dari tontonan yang tidak kudus adalah bagian penting dari ketaatan pada perintah ketujuh.
Kedua, Yesus mengingatkan bahwa masalah hati pun menjadi penentu. Hati adalah pusat dari segala keinginan dan motivasi manusia. Jika hati dipenuhi dengan hawa nafsu, maka cepat atau lambat itu akan mendorong seseorang jatuh dalam dosa. Pikiran najis yang dipelihara dalam hati lambat laun akan diwujudkan dalam tindakan. Karena itu, menjaga hati tetap murni dengan firman Tuhan adalah keharusan. Firman yang hidup memelihara hati dari hawa nafsu dan menuntun kita untuk hidup dalam kasih yang benar, bukan dalam keinginan yang salah.
Ketiga, Yesus berbicara tentang tangan yang melambangkan tindakan nyata. Ia berkata, “Jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu” (Mat. 5:30). Tentu saja ini adalah bahasa figuratif, tetapi Yesus ingin menegaskan betapa seriusnya bahaya perbuatan yang salah. Lebih baik kehilangan sesuatu yang berharga di dunia ini daripada kehilangan hidup kekal. Tangan mewakili perbuatan yang konkret. Jika mata membuka pintu dan hati menyimpan keinginan, maka tangan adalah yang mewujudkan dosa itu. Karena itu, menjaga perbuatan agar tetap dalam jalur kesucian sama pentingnya dengan menjaga mata dan hati.
Semua ini semakin relevan di zaman modern. Dunia yang permisif membuat banyak orang tidak lagi merasa bersalah ketika terjerat dalam dosa seksual. Seks bebas dianggap gaya hidup, pornografi dianggap hiburan, bahkan perselingkuhan dianggap hal yang lumrah. Tetapi firman Allah tidak berubah: “Jangan berzinah!” Perintah ini bukanlah larangan kaku yang membatasi kebebasan manusia, melainkan pagar kasih yang Allah berikan untuk melindungi kehidupan kita. Seksualitas adalah anugerah Allah yang indah, tetapi hanya dalam bingkai pernikahan yang kudus. Di luar itu, seks justru merusak hubungan kita dengan Allah, pasangan, keluarga, bahkan diri sendiri.
Perintah ketujuh pada dasarnya adalah panggilan untuk menghargai tubuh, sebab Allah lebih dahulu telah menghargai tubuh kita. Tubuh ini adalah bait Roh Kudus, anggota Kristus, dan sudah ditebus dengan harga yang mahal. Karena itu, kita tidak boleh menodainya dengan dosa perzinahan. Menghargai tubuh bukan berarti menolak seksualitas, melainkan menempatkannya sesuai dengan rancangan Allah yang kudus. Seksualitas adalah bagian dari ciptaan yang baik, tetapi harus dijaga dalam pernikahan. Di luar pernikahan, seks justru menjadi dosa yang menghancurkan.
Karena itu, marilah kita bertanya pada diri sendiri: apakah mata kita sudah dijaga dari pandangan yang najis? Apakah hati kita sudah dipenuhi keinginan yang murni atau masih terikat hawa nafsu? Apakah tangan kita dipakai untuk melakukan hal-hal yang memuliakan Allah atau justru untuk perbuatan yang melawan Dia? Yesus menegaskan bahwa perzinahan bukan hanya tindakan lahiriah, tetapi juga kondisi hati yang salah. Menjaga kesucian berarti menguduskan mata, hati, dan tangan bagi Tuhan.
Akhirnya, perintah ketujuh bukanlah sekadar larangan, tetapi sebuah panggilan untuk hidup dalam kesucian. Dengan menjaga tubuh, kita menghormati Allah yang sudah lebih dahulu menghormati dan menebus tubuh ini. Di tengah dunia yang semakin permisif terhadap dosa seksual, orang percaya dipanggil untuk hidup berbeda: menjaga kesucian sebagai kesaksian iman. Dengan demikian, kita bukan hanya menaati hukum Allah, tetapi juga menjadi terang bagi dunia.