Permohonan kedua dalam Doa Bapa Kami berbunyi: “Datanglah kerajaan-Mu.” Sekilas kalimat ini bisa menimbulkan pertanyaan: apakah kerajaan Allah belum hadir? Bukankah Allah adalah Pencipta yang berkuasa penuh atas alam semesta dan seluruh ciptaan? Jika Ia sudah memerintah, mengapa Yesus masih mengajarkan kita untuk berdoa agar kerajaan Allah datang? Pertanyaan ini wajar, sebab sering kali kita mengira kerajaan Allah identik dengan kekuasaan politik atau bentuk pemerintahan di dunia. Namun, makna yang Yesus maksud jauh lebih mendalam dan rohaniah.
Dalam doa ini, Yesus mengajarkan kita untuk merindukan tatanan ilahi di mana Allah berkuasa penuh, kerajaan kegelapan dihancurkan, dan Injil Kristus semakin menyebar ke seluruh bumi. Dengan kata lain, permohonan “Datanglah kerajaan-Mu” memiliki dua dimensi: penghancuran total kuasa Iblis, dan perluasan nyata kerajaan Allah melalui doa dan pemberitaan Injil.
Pertama, permohonan ini mengingatkan kita bahwa kerajaan Allah sudah hadir melalui pelayanan Yesus, tetapi kepenuhannya masih dinantikan. Sejak awal pelayanan-Nya, Yesus berkata, “Kerajaan Allah sudah dekat” (Markus 1:15). Namun, di kemudian hari Ia menegaskan, “Kalau Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Matius 12:28). Dengan kata lain, kehadiran Yesus di dunia, mukjizat-Nya, dan pengusiran setan menandai invasi kerajaan Allah ke dalam dunia yang dikuasai kegelapan.
Bahkan Yesus sendiri berkata kepada murid-murid-Nya setelah mereka kembali dari pelayanan: “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit” (Lukas 10:18). Pernyataan ini menegaskan bahwa melalui pelayanan Yesus dan para murid, kuasa kegelapan sudah mulai diguncang. Titik puncaknya adalah salib. Ketika Yesus wafat dan bangkit, Ia berkata, “Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar” (Yohanes 12:31). Peristiwa salib adalah momen di mana janji Kejadian 3:15 tergenapi—keturunan perempuan itu meremukkan kepala ular, yaitu Iblis.
Namun, meski Iblis sudah dikalahkan, ia belum sepenuhnya dimusnahkan. Rasul Paulus dalam 1 Korintus 15:24–26 menulis bahwa Kristus harus memerintah sampai semua musuh-Nya ditaklukkan di bawah kaki-Nya, termasuk kuasa maut. Akhir dari segala kuasa kegelapan baru akan terwujud sepenuhnya ketika Kristus datang kembali. Wahyu 20 menggambarkan hari itu: saat Iblis dilemparkan ke dalam lautan api dan mengalami kekalahan final. Karena itu, ketika kita berdoa “Datanglah kerajaan-Mu,” kita sebenarnya sedang merindukan penggenapan penuh dari janji itu—kerajaan kegelapan dihancurkan total, dan hanya kerajaan Allah yang kekal yang berdiri.
Kedua, doa ini juga mengajarkan bahwa kerajaan Allah diperluas melalui doa dan pekabaran Injil. Berdoa agar kerajaan Allah datang bukanlah doa pasif, melainkan doa yang melibatkan partisipasi kita. Kerajaan Allah bertumbuh ketika Injil diberitakan, ketika orang-orang berbalik dari dosa, dan ketika nilai-nilai Kristus mulai mengubah masyarakat.
Itulah sebabnya Yesus mengajarkan murid-murid-Nya dalam Matius 9:37–38: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Kerajaan Allah datang ketika pekerja Injil diutus, ketika doa dipanjatkan untuk membuka pintu-pintu pelayanan, dan ketika umat percaya taat melayani. Paulus pun menegaskan hal ini. Dalam 2 Tesalonika 3:1, ia meminta jemaat: “Berdoalah untuk kami, supaya firman Tuhan beroleh kemajuan dan dimuliakan, sama seperti yang telah terjadi di antara kamu.” Paulus sadar bahwa setiap langkah pemberitaan Injil adalah bagian dari perluasan kerajaan Allah.
Selain itu, Paulus juga berbicara tentang peperangan rohani dalam Efesus 6. Ia mengingatkan bahwa pergumulan kita bukan melawan darah dan daging, melainkan melawan pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di udara. Karena itu, ia menutup pengajarannya tentang perlengkapan rohani dengan penekanan pada doa: “Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dengan segala doa dan permohonan” (Efesus 6:18). Dengan kata lain, doa adalah senjata rohani yang mengiringi pemberitaan Injil, sehingga kerajaan Allah semakin nyata di dunia.
Permohonan “Datanglah kerajaan-Mu” juga menegaskan bahwa kerajaan Allah tidak identik dengan kekuasaan politik atau bentuk negara tertentu. Kita tidak dipanggil untuk menjadikan sebuah bangsa sebagai “negara Kristen.” Yang lebih penting adalah supaya nilai-nilai kerajaan Allah—kasih, keadilan, pengampunan, dan kebenaran—semakin nyata dalam kehidupan pribadi, keluarga, komunitas, dan masyarakat. Yang terutama adalah agar semakin banyak orang tunduk dan mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan. Itulah esensi kerajaan Allah: pemerintahan Allah yang diterima dan dihidupi oleh hati manusia.
Karena itu, doa “Datanglah kerajaan-Mu” adalah doa yang aktif. Kita bukan hanya berdoa, tetapi juga memberi diri untuk menjadi bagian dari jawabannya. Kita berdoa supaya lebih banyak pekerja diutus, dan pada saat yang sama kita pun bersedia melayani. Kita berdoa supaya Injil diberitakan di tempat yang gelap, dan kita pun mendukung penginjilan dengan waktu, tenaga, dan harta. Kita berdoa agar kerajaan kegelapan dihancurkan, dan kita pun berdiri teguh dalam peperangan rohani.
Dengan demikian, permohonan kedua dalam Doa Bapa Kami bukanlah sekadar harapan samar tentang masa depan, melainkan doa yang menggerakkan kita untuk berpartisipasi dalam karya Allah di dunia ini. Kita berdoa dengan iman bahwa Kristus sudah menang, kita menantikan hari di mana kemenangan itu digenapi sepenuhnya, dan kita terlibat supaya kerajaan Allah semakin diperluas sekarang.
Jadi, ketika mulut kita mengucapkan “Datanglah kerajaan-Mu,” hati kita seharusnya bergetar dengan kerinduan akan kemenangan Kristus yang final, sekaligus berkomitmen untuk ikut serta dalam pekerjaan-Nya. Inilah doa yang menyatukan pengharapan eskatologis dengan panggilan misi yang nyata.