Hingga hari ini, kita tidak memiliki catatan pasti tentang siapa yang pertama kali merumuskan Pengakuan Iman Rasuli. Kita juga tidak tahu berapa banyak orang yang terlibat dalam prosesnya, atau berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyusunnya. Namun, dari teks yang telah diwariskan kepada kita, kita dapat mempelajari strukturnya. Dan dari struktur itu, kita bisa menangkap pola pikir dan maksud para perumusnya.
Jika dibaca dengan cermat, Pengakuan Iman Rasuli memiliki dua struktur utama yang saling melengkapi: struktur trinitarian dan struktur kronologis.
Pertama, struktur trinitarian. Kata “trinitarian” berarti bersifat Tritunggal, yaitu berhubungan dengan Allah Tritunggal: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Pengakuan ini dimulai dengan pernyataan, “Aku percaya kepada Allah Bapa yang Mahakuasa”. Setelah itu, fokus beralih kepada “Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal”. Menariknya, jika kita membaca dari awal hingga akhir, sebagian besar isi Pengakuan Iman Rasuli berbicara tentang Yesus Kristus—tentang kelahiran-Nya, penderitaan-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, dan kemuliaan-Nya. Baru setelah itu, kita sampai pada bagian “Aku percaya kepada Roh Kudus”.
Dengan demikian, urutannya jelas: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Walaupun tidak ada pernyataan eksplisit seperti “satu hakikat, tiga pribadi” yang menjadi formula resmi doktrin Tritunggal, susunan ini secara alami mencerminkan iman gereja kepada Allah Tritunggal. Kemungkinan, pada masa itu, rumusan eksplisit tidak diperlukan karena pemahaman tentang Tritunggal sudah menjadi pengetahuan umum di kalangan gereja.
Penting untuk diingat, doktrin Tritunggal bukanlah ajaran yang kering atau abstrak. Justru, ia adalah fondasi dari seluruh iman Kristen. Segala sesuatu dalam kehidupan gereja—pelayanan, ibadah, pengajaran—berdiri di atas pengenalan akan Allah Tritunggal. Rasul Paulus sendiri menegaskan hal ini dalam 1 Korintus 12:4-6: “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.” Bahkan ketika berbicara tentang pelayanan, Paulus melakukannya dalam kerangka Tritunggal.
Demikian pula, para perumus Pengakuan Iman Rasuli menempatkan struktur Tritunggal sebagai kerangka utama, menegaskan bahwa iman Kristen berpusat pada Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Kedua, struktur kronologis. Selain bersifat trinitarian, Pengakuan Iman Rasuli juga disusun mengikuti alur waktu karya Allah. Ia dimulai dengan penciptaan: “Aku percaya kepada Allah Bapa, Pencipta langit dan bumi.” Lalu berlanjut kepada penebusan: “Dan kepada Yesus Kristus, Anak-Nya yang tunggal, Tuhan kita…”—dengan uraian yang cukup panjang tentang karya Kristus di dunia. Setelah itu, masuk ke bagian pengudusan: “Aku percaya kepada Roh Kudus, gereja yang kudus dan am…”, dan diakhiri dengan penggenapan akhir: kebangkitan orang mati dan kehidupan yang kekal.
Susunan ini memberi kesan bahwa para perumusnya ingin menuntun kita melihat karya Allah dari awal sejarah dunia hingga kekekalan. Namun, kita harus berhati-hati agar tidak berpikir bahwa penciptaan hanya karya Bapa, penebusan hanya karya Anak, dan pengudusan hanya karya Roh Kudus. Alkitab mengajarkan bahwa seluruh Pribadi dalam Allah Tritunggal terlibat dalam setiap karya. Yohanes 1:3 menegaskan bahwa Yesus Kristus, Sang Firman, juga terlibat dalam penciptaan: “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”
Demikian pula, penebusan adalah karya bersama: Bapa yang mengutus Anak, Anak yang melaksanakan penebusan, dan Roh Kudus yang menerapkannya dalam hati orang percaya. Pengudusan pun adalah karya bersama Allah Tritunggal. Namun, dalam Pengakuan Iman Rasuli, penekanan kronologis ini membantu kita memahami peran-peran yang ditekankan: Bapa dikaitkan dengan penciptaan, Anak dengan penebusan, dan Roh Kudus dengan pengudusan—semuanya mengarah pada penggenapan akhir di kehidupan kekal.
Kedua struktur ini—trinitarian dan kronologis—menunjukkan bahwa Pengakuan Iman Rasuli tidak disusun secara tergesa-gesa atau sembarangan. Ada pemikiran teologis yang matang di baliknya. Para perumusnya bukan hanya menyusun kata-kata indah, tetapi juga membangun kerangka iman yang kokoh, yang mengajarkan kita siapa Allah itu, apa yang telah Ia lakukan, dan kemana arah karya-Nya membawa kita.
Memahami struktur ini menolong kita mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli dengan lebih sadar. Kita tidak hanya mengulang kata-kata, tetapi juga menegaskan iman kita kepada Allah Tritunggal yang berkarya dari penciptaan hingga kekekalan. Dan setiap kali kita mengucapkannya, kita diingatkan bahwa iman Kristen berdiri di atas fondasi yang kokoh—fondasi yang telah menopang gereja sepanjang sejarah dan akan terus menopangnya sampai akhir zaman.