Kewajiban agama terakhir yang disinggung oleh Tuhan Yesus dalam Matius 6 adalah praktik puasa. Dalam Alkitab, puasa bukanlah hal yang asing. Kata “puasa” muncul sebanyak 68 kali dalam teks LAI:TB, mencerminkan betapa umum dan pentingnya praktik ini dalam kehidupan rohani umat Allah. Para pengikut Yohanes Pembaptis dan golongan Farisi dikenal rutin berpuasa (Mat 9:14; Luk 5:33). Bahkan, orang-orang Farisi berpuasa dua kali seminggu, yakni pada hari Senin dan Kamis, dan mereka seringkali membanggakan kebiasaan tersebut (Luk 18:12).
Tradisi puasa juga diteruskan oleh gereja mula-mula. Dalam situasi-situasi penting seperti penunjukan pelayan atau pengutusan misionaris, jemaat berdoa dan berpuasa bersama (Kis 13:2-3; 14:23). Bahkan dalam Kitab Didachē (akhir abad ke-1 M), orang Kristen dinasihati untuk berpuasa pada hari Rabu dan Jumat, sebagai pembeda dari orang Farisi.
Dalam Matius 6:16-18, Yesus tidak memerintahkan puasa secara eksplisit. Ia mengasumsikan bahwa murid-murid-Nya sudah mempraktikkannya. Fokus pengajaran-Nya adalah pada cara berpuasa yang benar di hadapan Allah.
Berpuasa yang Keliru (ayat 16)
Sebagaimana dalam bersedekah dan berdoa, rutinitas dalam berpuasa tidak menjamin bahwa praktik tersebut dilakukan dengan benar. Dalam ayat 16, Yesus mengecam praktik puasa yang dimotivasi oleh keinginan untuk pamer kesalehan.
Orang-orang munafik melakukan dua hal utama agar semua orang tahu bahwa mereka sedang berpuasa. Pertama, mereka memasang wajah muram (skythrōpē). Istilah ini menggambarkan ekspresi kesedihan mendalam, seperti kesedihan para pegawai Firaun dalam penjara (Kej 40:7) atau dua murid dalam perjalanan ke Emaus (Luk 24:17). Wajah murung ini bukanlah hasil dari kejujuran hati, melainkan sebuah penampilan yang sengaja diciptakan.
Kedua, mereka mengubah air muka mereka (aphanizō). Kata ini berarti merusakkan atau melenyapkan. Mereka mungkin menaburkan abu di kepala atau memakai kain kabung, membuat wajah mereka terlihat lusuh dan menyedihkan. Tujuan utama mereka hanyalah satu: agar orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa.
Motivasi semacam ini disebut Yesus sebagai kemunafikan. Mengapa? Karena tampilan luar mereka tidak mencerminkan kondisi hati yang sesungguhnya. Puasa dalam Alkitab adalah bentuk perendahan diri, pertobatan, dan kebergantungan kepada Allah (Im 16:29; Ez 8:21; Dan 9:3-6). Namun, bagi para munafik, puasa menjadi sarana untuk menaikkan reputasi diri. Mereka menangis bukan karena dosa, tetapi karena ingin dipuji. Mereka berpura-pura menderita agar tampak saleh. Puasa yang seharusnya menjadi pengakuan akan dosa, justru dijadikan alat untuk berdosa melalui kesombongan.
Yesus menegaskan bahwa orang seperti ini sudah menerima upahnya. Pujian dari manusia menjadi satu-satunya balasan yang mereka terima. Mereka telah “lunas dibayar” dan tidak ada imbalan lain dari Allah.
Berpuasa yang Benar (ayat 17-18)
Sebagai kontras, Yesus mengajarkan cara berpuasa yang benar. Ayat 17 diawali dengan penekanan yang kuat: “Tetapi engkau, apabila engkau berpuasa…” Ini bukan perintah baru, tetapi koreksi terhadap praktik yang keliru.
Yesus memerintahkan agar orang yang berpuasa tetap tampil seperti biasa: meminyaki kepala dan mencuci muka. Dua tindakan ini merupakan rutinitas harian orang Yahudi. Jadi, pesan Yesus bukanlah menyembunyikan puasa dengan sikap mencolok, melainkan menjaga agar puasa dilakukan dengan sikap rendah hati dan biasa, tidak mencari perhatian.
Esensi dari puasa bukanlah pada perubahan penampilan luar, tetapi pada sikap hati. Puasa yang benar bukan alasan untuk melarikan diri dari tanggung jawab atau untuk berdiam diri seharian. Puasa adalah momen memperbarui relasi dengan Allah. Yang membedakan puasa dari hari biasa bukanlah wajah yang lesu, tetapi hati yang lebih sadar akan kehadiran dan kuasa Allah.
Karena itu, Yesus menekankan bahwa puasa adalah relasi pribadi antara kita dan Allah. Kita tidak perlu memberi tahu orang lain bahwa kita sedang berpuasa, karena yang terpenting adalah bahwa Allah mengetahuinya. Ia hadir dalam yang tersembunyi dan Ia akan memberikan upah atas kesetiaan yang tersembunyi itu.
Jika puasa melibatkan kepentingan orang lain, maka hal itu haruslah demi kebaikan mereka, bukan untuk menonjolkan kesalehan pribadi. Daud, misalnya, berpuasa untuk orang lain yang sedang menderita (Mazmur 35:13-14). Sebaliknya, Yesaya mengecam bangsa Yehuda karena puasa mereka tidak menghasilkan belas kasih kepada orang yang tertindas (Yes 58:3-7).
Allah bukan hanya mengetahui isi hati kita, tetapi juga berkenan memberkati setiap disiplin rohani yang dilakukan dengan motivasi yang benar. Ini adalah paradoks ilahi: tindakan yang tidak mengejar upah justru akan mendapatkan upah dari Allah.
Pentingnya Disiplin Puasa bagi Orang Kristen
Sayangnya, banyak orang Kristen modern mengabaikan praktik puasa. Kita sering kali tenggelam dalam rutinitas, kesibukan, dan kenyamanan hidup, sehingga melupakan pentingnya meluangkan waktu secara khusus untuk berserah kepada Tuhan. Kita lupa bahwa puasa adalah momen untuk merenungkan dosa, mengakui kelemahan, dan menyadari betapa kita sangat membutuhkan pertolongan Allah.
Puasa mengajarkan kita untuk berkata “tidak” pada keinginan daging. Ia melatih kita mengendalikan nafsu, termasuk dorongan-dorongan jasmani yang wajar, seperti makan dan minum. Jika kita dapat mengendalikan keinginan mendasar ini, maka kita juga akan lebih siap untuk mengendalikan keinginan-keinginan lain yang lebih kompleks.
Puasa juga menjadi sarana pembentukan karakter dan ketaatan. Melalui puasa, kita menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Tuhan. Kita belajar bersandar kepada-Nya, bukan kepada kekuatan dan kepandaian kita sendiri.
Penutup
Tuhan Yesus mengajarkan bahwa puasa adalah tindakan rohani yang berharga ketika dilakukan dengan hati yang benar. Ia bukan untuk memamerkan kesalehan atau mengejar pujian. Ia adalah wujud dari kasih, kerendahan hati, pertobatan, dan kebergantungan kepada Allah. Mari kita jadikan puasa sebagai bagian dari disiplin hidup rohani kita, bukan sebagai beban, tetapi sebagai sarana kasih dan persekutuan yang lebih dalam dengan Allah.
“Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Matius 6:18)