Alkitab memberikan landasan yang kuat untuk mempercayai bahwa Yesus Kristus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Dalam edisi kali ini, kita akan melihat bukti-bukti Alkitab yang menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah Allah yang sejati. Ada banyak bukti yang bisa kita bahas, tetapi kita akan menyoroti beberapa di antaranya.
1. Pernyataan Eksplisit dalam Alkitab bahwa Yesus adalah Allah
Salah satu bukti utama keilahian Yesus adalah pernyataan eksplisit dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Yesus adalah Allah. Beberapa teks penting yang menjadi dasar keyakinan ini antara lain:
- Yohanes 1:1: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa Firman (Yesus) adalah Allah sejak semula.
- Yohanes 20:28: Setelah melihat Yesus yang bangkit, Tomas mengakui dengan penuh keyakinan: “Ya Tuhanku dan Allahku!” Ini adalah pengakuan eksplisit bahwa Yesus adalah Allah.
- Yohanes 1:18: “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.” Beberapa versi bahasa Inggris yang lebih baru menerjemahkan bagian ini sebagai “Allah yang tunggal” (monogenes theos) berdasarkan manuskrip kuno yang lebih dapat dipercaya.
Perbedaan terjemahan ini terjadi karena adanya variasi dalam manuskrip kuno. Sebagian besar teolog dan ahli Alkitab lebih memilih terjemahan “Allah yang tunggal”, karena didukung oleh manuskrip yang lebih awal dan lebih otoritatif. Ini menunjukkan bahwa Yesus adalah satu-satunya yang secara unik dapat menyatakan Bapa karena Dia sendiri adalah Allah.
Meskipun beberapa kelompok seperti Saksi Yehuwa atau Unitarian menuntut agar Yesus sendiri mengucapkan klaim eksplisit bahwa Dia adalah Allah, bukti-bukti dalam Alkitab sudah cukup eksplisit. Pernyataan-pernyataan ini, meskipun tidak keluar langsung dari mulut Yesus dalam bentuk tertentu, tetap secara gamblang menyatakan keilahian-Nya.
2. Penggunaan Sebutan “Tuhan” atau “Kurios” untuk Kristus
Sebutan kurios dalam bahasa Yunani sering kali digunakan dalam Alkitab untuk menyebut Yesus Kristus. Beberapa orang mungkin beranggapan bahwa kata kurios hanya digunakan dalam arti umum sebagai “tuan” atau bentuk penghormatan biasa. Namun, dalam banyak ayat, penggunaan kata ini merujuk pada keilahian Yesus secara khusus.
- Lukas 2:11: Ketika malaikat memberitahu para gembala tentang kelahiran Yesus, ia berkata: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” Sebutan “Tuhan” di sini bukan sekadar penghormatan biasa, melainkan menunjukkan bahwa bayi yang lahir itu adalah Allah yang sejati.
- Roma 1:4: “Yesus Kristus dinyatakan sebagai Anak Allah yang berkuasa… Tuhan kita.” Penggunaan kata “Tuhan” di sini jelas mengacu pada otoritas dan keilahian Yesus.
- Roma 10:9-10: “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.”
Yang menarik, dalam Roma 10:13, Paulus mengutip ayat dari Perjanjian Lama: “Barangsiapa berseru kepada Tuhan, maka dia akan diselamatkan.” Dalam konteks Perjanjian Lama, kata “Tuhan” yang digunakan merujuk kepada YHWH (TUHAN), nama kudus Allah. Namun, ayat ini kemudian diterapkan kepada Yesus, yang menunjukkan bahwa para penulis Perjanjian Baru dengan jelas mengidentifikasi Yesus dengan YHWH.
Bagi orang Yahudi pada zaman itu, menyematkan gelar “Tuhan” dalam konteks ketuhanan kepada seseorang selain YHWH adalah hal yang tidak mungkin dilakukan kecuali benar-benar percaya bahwa orang tersebut adalah Allah. Oleh karena itu, penggunaan sebutan kurios untuk Yesus dalam banyak teks Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Dia bukan sekadar seorang guru atau nabi, tetapi adalah Tuhan yang sejati.
Kesimpulan: Yesus Kristus adalah Allah yang Sejati
Dari bukti-bukti di atas, kita dapat melihat bahwa:
- Alkitab secara eksplisit menyatakan bahwa Yesus adalah Allah, baik melalui kesaksian Yohanes maupun pengakuan para murid.
- Sebutan “Tuhan” yang diberikan kepada Yesus bukan sekadar gelar kehormatan biasa, tetapi secara khusus digunakan dalam arti yang sama dengan YHWH dalam Perjanjian Lama.
- Penggunaan istilah teologis yang dikaitkan dengan Yesus menunjukkan bahwa keilahian-Nya diakui oleh jemaat mula-mula dan penulis Perjanjian Baru.
Sebagai orang percaya, memahami keilahian Yesus adalah hal yang fundamental dalam iman kita. Yesus bukan sekadar seorang nabi atau tokoh sejarah, tetapi Dia adalah Allah yang telah datang ke dunia dalam rupa manusia untuk menyelamatkan kita. Dengan memahami hal ini, kita semakin dikuatkan dalam keyakinan bahwa iman kita kepada Yesus bukanlah iman yang kosong, tetapi iman kepada Tuhan yang sejati, yang berkuasa atas segala sesuatu. Kiranya pemahaman ini semakin memperkokoh iman kita dalam Kristus, Sang Juruselamat yang hidup dan berkuasa untuk selama-lamanya. Amin.