Kita sudah mengetahui bahwa Perintah Kelima dalam Sepuluh Hukum Allah memerintahkan kita untuk menghormati ayah dan ibu kita. Perintah ini bukan hanya berbicara mengenai penghormatan kepada orang tua secara biologis, tetapi juga mencakup dimensi yang lebih luas: penghormatan kepada otoritas, status, jabatan, bahkan otoritas rohani dan sosial. Namun, banyak dari kita yang bergumul dalam melaksanakan perintah ini. Terkadang, kondisi pribadi atau perilaku dari mereka yang seharusnya kita hormati menjadi hambatan bagi kita untuk menaati perintah ini. Misalnya, bagaimana kita bisa menghormati orang tua yang kita nilai tidak layak dihormati karena kesalahan mereka, seperti mengabaikan keluarga, hidup dalam kebiasaan buruk, atau bahkan menyakiti anak-anak mereka? Atau bagaimana jika pemimpin, guru, atau atasan kita bersikap tidak adil dan tidak pantas dihormati? Lalu, apa sebenarnya dasar dari perintah ini?
Jawabannya tertulis dalam Keluaran 20:12, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” Ayat ini menunjukkan bahwa penghormatan kepada orang tua berkaitan langsung dengan janji Allah tentang umur panjang dan kehidupan yang baik. Hal ini ditegaskan kembali oleh Rasul Paulus dalam Efesus 6:2-3, ketika ia berkata, “Hormatilah ayahmu dan ibumu – ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.”
Yang menarik adalah, baik Musa dalam Keluaran maupun Paulus dalam suratnya, tidak menyebutkan kondisi orang tua sebagai syarat untuk dihormati. Mereka tidak berkata bahwa kita harus menghormati orang tua karena mereka baik, berjasa, atau penuh kasih. Penghormatan kepada orang tua tidak bersumber dari kelayakan mereka, melainkan dari ketaatan kita kepada perintah Allah. Allah memberikan janji-Nya kepada siapa saja yang menaati perintah ini, tanpa syarat tergantung pada perilaku objek yang dihormati. Janji Tuhan inilah yang menjadi dasar dan motivasi kita untuk tetap menghormati, sekalipun kadang terasa berat.
Jika kita renungkan lebih dalam, sebenarnya penghormatan kepada orang tua semestinya adalah sesuatu yang alamiah. Bukankah mereka adalah orang yang telah memberi kita kehidupan? Namun, Tuhan tetap memberikan perintah ini dengan sebuah janji khusus – janji kebahagiaan dan umur panjang. Ini menunjukkan betapa seriusnya Tuhan memandang penghormatan kepada otoritas yang telah Ia tetapkan dalam hidup kita.
Bagi sebagian orang, janji umur panjang mungkin tidak terlalu mengesankan, terutama dalam konteks modern. Kita mungkin bertanya, apa artinya hidup panjang jika harus dijalani dalam penderitaan? Namun, untuk memahami janji ini secara benar, kita perlu melihatnya dalam konteks budaya Alkitab. Dalam budaya kuno, umur panjang dipandang sebagai tanda perkenanan Tuhan. Sebaliknya, kematian muda sering kali dipahami sebagai kutuk atau akibat dosa. Maka ketika Tuhan berjanji akan memperpanjang umur orang yang menghormati orang tuanya, ini berbicara lebih dari sekadar lamanya hidup, tetapi tentang kualitas hidup yang disertai damai dan perkenanan Allah.
Itulah sebabnya dalam Efesus 6, Paulus menambahkan dimensi baru pada janji ini: bukan hanya panjang umur, tetapi juga “supaya kamu berbahagia.” Ini senada dengan janji dalam Ulangan 4:40, “Berpeganglah pada ketetapan dan perintah-Nya… supaya baik keadaanmu dan keadaan anak-anakmu… dan supaya lanjut umurmu.” Dengan kata lain, umur panjang dan kebahagiaan adalah simbol dari hidup yang diberkati dan diperkenan oleh Allah.
Namun kita juga perlu menyadari bahwa dalam terang Perjanjian Baru, perkenanan Tuhan tidak selalu berarti umur panjang secara harfiah. Tuhan Yesus sendiri meninggal di usia muda, tetapi hidup-Nya sepenuhnya diperkenan oleh Bapa. Banyak orang kudus yang mengasihi Tuhan juga mengalami kematian dini, namun bukan berarti mereka tidak menerima janji Tuhan. Intinya tetap: siapa pun yang menghormati ayah dan ibunya serta menaati perintah Tuhan, maka ia akan hidup dalam perkenanan Allah, dan Allah akan memberikan kepadanya segala sesuatu yang terbaik menurut hikmat-Nya.
Dengan pemahaman ini, kita didorong untuk menaati Perintah Kelima bukan karena manusia yang kita hormati layak secara moral, tetapi karena kita percaya pada janji Tuhan. Ketaatan kita adalah bentuk penghormatan kepada Allah yang menetapkan struktur otoritas dalam hidup kita. Hormat kepada orang tua bukan sekadar etika sosial, melainkan tindakan iman yang menyenangkan hati Allah dan membuka jalan bagi berkat-Nya atas hidup kita.