Dasar Spiritualitas Kristen: Kesatuan Sejati Dengan Kristus (Yohanes 17:20-26)

Gamaliel, dalam Kisah Para Rasul 5:34-40, memberikan nasihat bijak kepada para Farisi dan Ahli Taurat yang terganggu oleh para Rasul yang terus berkhotbah tentang Injil Yesus Kristus meskipun mereka telah ditentang dan dianiaya. Gamaliel menasihati mereka untuk tidak bingung dengan para Rasul itu dan belajar dari dua contoh: Teudas, yang mengaku sebagai sosok istimewa dengan sekitar 400 pengikut, tetapi setelah dia dibunuh, para pengikutnya tercerai-berai. Juga Yudas, seorang Galilea, yang membawa banyak pengikut dalam pemberontakan, tetapi dia juga tewas dan para pengikutnya tercerai-berai. Gamaliel mengatakan, “Jangan bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka. Sebab jika perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi jika berasal dari Allah, kamu tidak dapat melenyapkan mereka; mungkin nanti terbukti bahwa kamu melawan Allah.” Nasihat Gamaliel diterima, dan para Rasul dipanggil, disesah, dilarang mengajar dalam nama Yesus, dan kemudian dilepaskan.

Nasihat Gamaliel ini berdasar pada pengamatan dan pengalaman manusiawi, namun terbukti benar. Ajaran para Rasul bertahan hingga lebih dari 2.000 tahun kemudian, menunjukkan bahwa gereja tetap berdiri bukan karena usaha manusia, tetapi karena ini adalah pekerjaan Allah.

Bagaimana seharusnya gereja hidup? Melalui Yohanes 17:20-26, kita akan belajar bagaimana gereja seharusnya hidup dan bersatu.

Konteks perikop

Perikop ini membahas doa Yesus yang tercatat dalam Yohanes 17, yang terdiri dari tiga bagian: doa untuk diri-Nya sendiri (ayat 1-5), doa untuk para murid (ayat 6-19), dan doa untuk semua orang percaya yang akan datang melalui pemberitaan para murid (ayat 20-27). Fokus utama dari doa Yesus adalah untuk memohon kesatuan di antara semua orang percaya, yang merupakan inti dari pengharapan-Nya.

Doa Yesus untuk Kesatuan Umat (Yohanes 17:20-21)

Yesus tidak hanya berdoa untuk para rasul, tetapi juga untuk semua orang percaya. Kita sering berterima kasih kepada teman seiman yang berdoa untuk kita, namun seharusnya kita lebih menghargai doa dari Yesus, Anak Allah. Doa ini memohon agar umat Kristen sejati menerima lebih banyak kebaikan dibandingkan yang bisa diberikan oleh dunia.

Yesus tidak memohon agar Bapa menyelamatkan umat-Nya karena keselamatan sudah pasti bagi mereka yang dipilih-Nya (Yohanes 17:2, 24). Yesus memohon agar semua orang percaya menjadi satu, bukan hanya dalam organisasi, tetapi dalam kesatuan yang organik dan fungsional, seperti kesatuan Bapa dan Anak. Kesatuan ini harus melampaui perbedaan dalam cara beribadah dan melayani Allah, menyatukan orang percaya dalam kasih. Sayangnya, kesatuan Kristen sering terluka karena lebih mengutamakan organisasi gereja masing-masing daripada kasih satu sama lain. Kasih yang ditanamkan oleh Allah yang bisa merobohkan penghalang ini.

Barnes mengatakan bahwa orang-orang Kristen, meski terbagi dalam denominasi yang berbeda, semua ditebus dengan darah yang sama dan menuju surga yang sama. Mereka mempunyai kebutuhan, musuh, dan sukacita yang sama. Kesatuan mereka harus mencerminkan bahwa mereka adalah anak-anak Allah dan Bapa yang sama. Kesatuan ini harus terlihat oleh dunia yang belum diselamatkan, menunjukkan kuasa kebangkitan Kristus dalam gereja-Nya.

Doa Yesus untuk Kemuliaan Umat (Yohanes 17:22-23)

Yesus berdoa agar orang-orang percaya dimuliakan, dengan kemuliaan yang sama yang diberikan Bapa kepada-Nya. Kemuliaan ini adalah kerendahan hati dalam inkarnasi-Nya, yang berpuncak pada penyaliban dan kebangkitan-Nya. Inkarnasi Yesus bertujuan untuk memuliakan Bapa, dan murid-murid-Nya juga akan menerima kemuliaan ini, terutama dalam penderitaan demi Kristus.

Kemuliaan Yesus terlihat melalui penderitaan dan kematian-Nya di kayu salib. Dia memerintahkan murid-murid-Nya untuk memikul salib mereka (Matius 16:24), yang adalah hak istimewa dan kemuliaan kita juga. Kesatuan Kristen menunjukkan kasih Bapa bagi mereka yang percaya kepada Yesus, mencerminkan kasih yang sama yang Bapa miliki untuk Putra-Nya.

Doa Yesus untuk Kehadiran Umat Bersama-Nya (Yohanes 17:24-26)

Ketika Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia akan pergi ke tempat di mana mereka tidak bisa mengikuti-Nya, mungkin mereka menyimpulkan bahwa Dia tidak ingin mereka bersama-Nya lagi. Namun, Yesus sangat ingin mereka bersama-Nya dan berdoa agar mereka dapat melihat kemuliaan surgawi-Nya.

Petrus, Yakobus, dan Yohanes diberi kesempatan untuk mencicipi kemuliaan Allah pada peristiwa transfigurasi Yesus, dan Yohanes juga melihat lebih banyak lagi dalam visinya yang tercatat di Kitab Wahyu (Wahyu 1:9). Paulus juga melihat sekilas kemuliaan (2 Korintus 12:1). Kita semua akan melihat kemuliaan Allah ketika kita bersama Tuhan di surga.

Kemuliaan yang diberikan Bapa kepada Anak adalah tanda kasih-Nya. Seperti seorang pemuda yang memberikan cincin sebagai tanda cintanya kepada kekasihnya, Bapa memberikan kemuliaan kepada Anak sebagai simbol cinta-Nya yang besar. Yesus ingin semua orang percaya melihat kemuliaan ini dan bersama-Nya dalam surga, melihat tanda kasih yang besar dari Bapa.