Pelajaran 03
DOKTRIN KRISTUS
PENGANTAR
“Kekristenan adalah Kristus. Ungkapan singkat ini telah merangkumkan intisari dari segala hal mengenai kekristenan. Tanpa Kristus tidak ada kekristenan. Keselamatan dalam iman Kristen bergantung sepenuhnya pada Pribadi dan karya Tuhan Yesus. Sebab itu, pengenalan yang tepat tentang siapakah Yesus Kristus dan apa yang telah dikerjakan-Nya bagi penebusan manusia berdosa merupakan syarat penting untuk beriman kepada-Nya. Alkitab adalah pedoman bagi kita untuk memperoleh pemahaman yang benar tentang jati diri dan pekerjaan Kristus.
INKARNASI YESUS KRISTUS
Yesus Kristus adalah pribadi kedua dari Allah Tritunggal. Ia memiliki esensi keilahian yang sama dengan kedua pribadi lainnya (Bapa dan Roh Kudus) secara setara, secara bersamaan bukan bergantian, dan secara sempurna sejak di dalam kekekalan. Untuk melaksanakan misi penyelamatan manusia berdosa, maka Tuhan Yesus menjelma atau berinkarnasi menjadi manusia. Penjelmaan ini tidak berarti bahwa la melepaskan status keilahian-Nya. Anak Allah tidak pernah berhenti sebagai pribadi ilahi, melainkan la mengambil natur manusia sejati untuk dipersatukan dengan keilahian-Nya (lih. Yoh. 1:12,14, 8:58, 17:5; Flp. 2:5-7).
Inkarnasi adalah titik awal bagi Allah Anak untuk berada dalam persatuan dengan natur manusia. Itu berarti Pribadi kedua Allah Tritunggal tidak memiliki natur kemanusiaan sebelum la menjelma menjadi manusia. Natur manusia Kristus tidak bereksistensi dari kekekalan melainkan diciptakan dalam sejarah melalui karya Roh Kudus (Luk. 1:35). Jadi, ada satu poin dalam perjalanan waktu di mana manusia Yesus Kristus belum ada. Namun tidak pernah ada satu detik pun dalam bentangan waktu, Sang Anak Allah tidak ada. Pada saat inkarnasi, Anak Allah dikenal dengan nama Yesus Kristus dan Pribadi kedua Allah Tritunggal menjadi Allah-Manusia.
KELAHIRAN DARI ANAK DARA
Keberadaan Yesus Kristus sebagai manusia tidak disebabkan oleh perpaduan benih dari Yusuf dan Maria. Inkarnasi Kristus terjadi melalui peristiwa supra-alamiah yaitu kelahiran dari Anak Dara Maria (Mat. 1:20-23; Luk. 2:1-7). Roh Kudus berperan penting, yaitu berkarya secara ajaib melalui rahim perawan Maria untuk menghadirkan Anak Allah ke dalam dunia ini (Mat. 1:20; Luk. 1:35).
Peristiwa kelahiran yang supra-alamiah ini memungkinkan Kristus memiliki sifat kemanusiaan sempurna, tanpa mewarisi natur berdosa dari Adam. Fakta ketidakberdosaan ini merupakan syarat mutlak bagi Tuhan Yesus untuk menjalankan misi-Nya sebagai Juruselamat manusia berdosa. Hanya yang tidak bercacat cela dan tanpa dosa yang dapat menjadi pengantara antara Allah Mahakudus dengan umat manusia yang berdosa.
Alkitab secara jelas dan tegas mengajarkan ketidakberdosaan Yesus Kristus. la sendiri pernah berkata, “Siapakah diantara kamu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?” (Yoh. 8:46). Rasul Paulus juga menyatakan kalau Kristus tidak mengenal dosa (2 Kor. 5:21). Penulis Ibrani menyebutkan tentang Yesus sebagai Imam Besar “yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa…” (Ibr. 7:26). Rasul Petrus menggambarkan “darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat” (1Ptr. 1:19). Selain itu, “la tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya” (1Ptr. 2:22).
DWI-NATUR YESUS KRISTUS
Juruselamat kita, Yesus Kristus, adalah figur yang unik. Ia tidak sama dengan para tokoh pendiri agama-agama di dunia ini. Dia lebih dari sekedar orang suci. la bukan hanya berjabatan sebagai Nabi, Imam dan Raja. Alkitab menegaskan kebenaran yang tidak bisa dinegosiasikan tentang jati diri Kristus, yaitu Dia adalah Allah yang sejati dan sekaligus manusia sejati. Yesus Kristus adalah satu Pribadi dengan dwi-natur.
Natur Keilahian Yesus Kristus
Alkitab menegaskan kebenaran bahwa Yesus Kristus adalah Allah sejati.
- Berdasarkan kesaksian dari Alkitab (Yoh. 1:1; Rm. 9:5; Flp. 2:5-7; Kol. 1:15-17; Ibr. 1:3; 1Yoh. 5:20).
- Berdasarkan pengakuan Yesus Kristus sendiri (Yoh 5:16-18; 10:30-33)
- Yesus Kristus menerima penyembahan sebagai Allah (Mat. 28:9,17; Luk. 17:15-16; Yoh. 5:23; Ibr.1:16). Bandingkan dengan reaksi malaikat ketika ia disembah (Why. 19:9-10, 22:8-9). Bandingkan juga dgn reaksi dari manusia tatkala ia hendak disembah (Kis. 10:25-26).
- Yesus Kristus memiliki sifat-sifat Allah:
- Kekal (Yoh. 1:1-2; 8:58; 17:5).
- Mahakuasa (Mat. 28:18; Why. 1:8).
- Mahakudus (Yoh. 8:46; 2 Kor. 5:21; 1 Yoh. 3:5).
- Tidak berubah (lbr. 13:8)
e. Yesus Kristus melakukan pekerjaan Allah
- Menciptakan (Yoh. 1:3; Kol. 1:16).
- Mengampuni dosa (Luk. 5:24).
- Menghakimi (Mat. 25:31-46; Yoh. 5:22; Kis. 10:42,17:31; 2 Tim. 4:1)
Natur Kemanusian Yesus Kristus
Alkitab menegaskan Yesus Kristus adalah manusia sejati.
- Berdasarkan kesaksian dari Alkitab (Yoh. 1:14; Fil. 2:7-8; 1Tim. 2:5; lbr. 5:7; 1 Yoh. 4:2; 2 Yoh 7).
- Yesus Kristus memakai gelar Anak Daud bagi diri-Nya (Mat. 9:27; 12:23; Mrk. 10:47; Luk. 18:38-39).
- Segala hal yang berhubungan dengan aspek fisik dan psikologis ada pada Kristus.
- Aspek-aspek fisik Yesus Kristus:
- Kelahiran dari anak dara Maria (Mat. 1:20-23; Luk. 2:1-7).
- Disunat pada hari ke-8 (Luk. 2:21).
- Pertumbuhan fisik (Luk. 2:40).
- Mengalami pencobaan (Mat. 4:1-11; Luk. 4:1-13; Ibr. 2:18; 4:15; bdk. Yak. 1:13).
- Lapar (Mat. 4:2; Mrk. 11:12).
- Haus (Yoh. 4:7; 19:28).
- Makan-minum (Luk. 7:34).
- Mengalami keletihan (Yoh. 4:6).
- Tertidur (Mat. 8:24; Luk. 8:23).
- Aspek-aspek psikologis Yesus Kristus:
- Bersukacita (Luk. 10:21; Yoh. 15:11; 17:13).
- Marah (Mat. 21:12-13; Mrk. 10:14).
- Heran (Mrk. 6:6a; Luk. 7:9).
- Menangis (Yoh. 11:33, 35, 38)
3. Yesus mengalami kematian (Mat. 27:50; Mrk. 15:37; Luk. 23:46; Yoh. 19:30)
Keharusan Dua Natur Kristus
Mengapa Yesus Kristus harus memiliki dua natur? Keberadaan kedua natur dalam pribadi Yesus adalah ajaran yang sangat penting berkaitan dengan karya penebusan-Nya.
a. Yesus Kristus harus bersifat ilahi sepenuhnya, supaya: Kematian Kristus mempunyai nilai yang tidak terbatas sehingga mencukupi untuk menebus dosa segenap umat manusia (1Yoh. 2:12). Melalui kebangkitan-Nya, la mengalahkan maut (Yoh. 2:19, 21-22, 11:25-26)
b. Yesus Kristus harus bersifat manusiawi sepenuhnya (yang tidak berdosa), supaya: la dapat mewakili sesamanya untuk menanggung hukuman dari akibat dosa manusia (2 Kor. 5:21; Gal. 4:4-5; 1Yoh. 3:5). la dapat merasakan pergumulan manusia dan menjadi pengantara serta Imam Besar Agung antara manusia dan Allah Bapa (lbr. 4:15).
Pada intinya, sistem keselamatan melalui karya penebusan yang bersifat penggantian (substitutif) memang mengharuskan secara mutlak keberadaan Sang Penebus yang memiliki dua natur yaitu keilahian sempurna dan kemanusiaan sejati. Tanpa dua natur ini, Yesus Kristus tidak mungkin bisa menjadi Juruselamat yang menggantikan manusia berdosa.
KEMATIAN DAN KEBANGKITAN YESUS KRISTUS
Karya penyelamatan yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus terfokus pada salib dan kubur kosong. Kematian dan kebangkitan-Nya adalah landasan bagi penebusan manusia berdosa. Ada beberapa makna penting yang telah digenapi Kristus melalui salib dan kubur kosong.
Kristus menggantikan kita
Pada dasarnya, manusia sangat layak menerima hukuman Allah karena keberdosaannya. Tetapi Markus 10:45 menggambarkan kematian Kristus sebagai pengganti bagi manusia berdosa. Yesus adalah Anak Domba Allah yang menjadi korban karena menggantikan tempat kita (Yoh. 1:29). Kematian-Nya telah menggenapi nubuatan mesianik tentang Hamba yang menderita sebagai korban pengganti (Yes. 53:11-12). Kristus adalah Imam Besar yang mempersembahkan diri-Nya menjadi korban yang menggantikan orang berdosa (Ibr. 9:11-14). Betapa luar biasa kasih-Nya kepada kita.
Kristus menghapuskan dosa.
Tujuan pengorbanan dan penderitaan Tuhan Yesus di salib adalah untuk menutupi dosa, membuang kesalahan atau menghapuskan pelanggaran sehingga tidak lagi menjadi penghalang dalam hubungan dan persekutuan antara manusia dengan Allah (1 ptr. 3:18).
Kristus menghentikan murka Allah.
Dosa adalah hal yang sangat serius di hadapan Allah. Allah tidak pernah mentolerir dosa, melainkan selalu meresponnya dengan penghukuman. Sebagai penanggung hukuman karena menggantikan tempat orang berdosa, maka kematian Kristus di atas salib telah meredakan murka Allah (Rm. 5:8-9).
Kristus menebus manusia berdosa.
Penebusan berarti pembebasan dari sesuatu yang jahat dengan pembayaran suatu harga. Ada dua unsur penting dalam karya penebusan Kristus melalui kematianNya di kayu salib. Pertama adalah harga yang dibayarkan, yang tidak lain ialah darah Kristus sebagai gambaran tentang nyawa atau kehidupan-Nya yang diserahkan demi untuk kelepasan manusia berdosa dari kebinasaan kekal (Mrk. 10:45; Ef. 1:7; Why. 5:9). Kedua adalah ide pembebasan atau kemerdekaan sebagai konsekuensi dari penebusan Yesus. Kematian Kristus telah menebus manusia dengan membebaskannya dari:
a. Perbudakan yang membuatnya berstatus hamba dosa (Yoh. 8:34; Rm. 6:18,22).
b. Belenggu kutukan hukum Taurat (Gal. 3:13).
c. Penaklukan oleh kuasa kematian (Rm. 3:23; 5:15,17; lbr. 2:15).
d. Penguasaan Iblis (Kis. 26:18; Ibr. 2:14; 1 Yoh. 3:8).
e. Keterikatan pada cara hidup sia-sia warisan dari nenek moyang (1Ptr. 1:18-19).
Kristus adalah dasar pembenaran.
Manusia berdosa dapat diterima sebagai orang benar secara legal karena karya Kristus telah menghapuskan dosa (expiation), menghentikan murka Allah (propitiation) dan memenuhi tuntutan keadilan ilahi (satisfaction) lewat kematianNya di kayu salib. Karena itu Allah Mahakudus tidak lagi melihat kita sebagai orang berdosa, melainkan orang benar di dalam Kristus (Rm. 3:24, 5:1,9; Gal. 2:16; Flp. 3:9).
Kristus mendamaikan kita.
Dampak kematian Yesus Kristus jelas menyebabkan terjadinya perdamaian secara vertikal antara Allah dengan manusia (Rm. 5:10-11) dan juga secara horizontal antara manusia dengan sesamanya. Pendamaian vertikal adalah dasar yang mengharuskan adanya pendamaian horizontal. Jika Allah saja sudah bisa menerima setiap orang berdosa, sebenarnya tidak ada alasan untuk tidak menerima dan bersekutu dengan sesama kita yang ditebus oleh Kristus (Ef. 2:11-22).
Kristus menaklukkan Iblis.
Yesus melihat kematian-Nya sebagai peristiwa kekalahan Iblis, si penguasa yang dilucuti dan dilemparkan keluar (Yoh. 12:31; Ibr. 2:14). Kemenangan Kristus atas kuasa Iblis terjadi melalui kematian dan kebangkitan-Nya (Kol. 2:13-15). Kematian-Nya yang menaklukkan Iblis ini adalah penggenapan terhadap janji Allah saat Adam dan Hawa berbuat dosa di taman Eden (Kej. 3:15).
Seluruh makna karya Kristus di atas kayu salib ini merupakan aspek mendasar dari Injil sejati. Kematian dan kebangkitan adalah landasan teologis yang krusial bagi karya keselamatan yang ditunaikan Yesus.
KENAIKAN YESUS KRISTUS KE SORGA DAN KEDATANGANNYA KEMBALI
Setelah menyelesaikan karya keselamatan-Nya dengan sempurna di dalam dunia ini, Yesus Kristus kembali ke surga untuk duduk di sebelah kanan Allah Bapa (Kis. 5:31, 7:56; Ef. 1:19-20). Di surga, Kristus tetap menyertai umatNya melalui kehadiran dan pelayanan Roh Kudus. Di samping itu, Kristus juga masih terus berkarya lewat kesaksian dan pengabaran Injil orang Kristen untuk membangun gereja sebagai tubuh di mana la adalah kepalanya (Ef. 2:1314,16,19,21-22; Kol. 1:18).
Selanjutnya, Kristus akan terus berperan sebagai pengantara kita dan Juru syafaat serta pembela kita (Yoh. 17:6-26; Rm. 8:33-39; Ibr. 7:25). Kristus yang pernah datang ke dalam dunia 2.000-an tahun lalu telah berjanji untuk datang kedua kalinya (Mat. 24:30, 25:31; Luk. 9:26; Kis. 1:11; Why. 1:7). Pada hari yang mulia itu, orang percaya akan mendapatkan tubuh kebangkitan untuk hidup secara sempurna bersama dengan Allah di surga (1Tes. 4:13-18). Kedatangan-Nya ini adalah untuk memberi upah kepada orang percaya yang telah hidup dan menggunakan kesempatan dalam melayani Allah (1 Kor. 3:1315). Sedangkan orang yang tidak percaya akan diadili sesuai dengan keberdosaannya dan dihukum untuk selama-lamanya (Why. 20:11-15).
PENUTUP
Manusia berdosa tidak mungkin dapat menyelamatkan dirinya sendiri berdasarkan segala amal ibadah, kesucian dan semua perbuatan baiknya. Kita semua sedang menuju pada kebinasaan abadi karena konsekuensi perbuatan dosa kita. Tetapi puji Tuhan, Allah sedemikian mengasihi kita sehingga la sudah menyediakan Juruselamat yang dapat menyelesaikan persoalan dosa manusia secara sempurna. Karena itu, percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi kita adalah tindakan yang sangat rasional bagi orang berdosa yang sama sekali tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.
Karya keselamatan yang telah ditunaikan dengan sempurna melalui kematian dan kebangkitan Kristus memberikan jaminan dan kepastian tentang kehidupan kekal bagi setiap orang yang mau percaya kepada Kristus. Manusia membutuhkan kepastian untuk hal-hal lahiriah. Seharusnya untuk hal-hal rohani dan kekekalan, kebutuhan akan kepastian ini mestinya lebih urgen lagi. Hanya Yesus Kristus yang dapat memberikan kepastian akan hidup kekal karena la adalah Allah yang mencari manusia berdosa bukan seperti para pendiri agama yang adalah manusia berdosa yang mengajarkan kita untuk mencari Allah.
Yesus Kristus adalah Juruselamat satu-satunya (Yoh. 4:6, Kis. 4:12) bukan salah satunya. Karena itu mari kita selalu mengutamakan dan senantiasa memperutamakan Dia sebagai Tuhan yang menguasai, memimpin dan mengatur kehidupan kita dalam segala keadaan. Biarlah hati kita terus terfokus pada Kristus, setia kepada-Nya dan seumur hidup menjadikan Dia sebagai satu-satunya sumber pertolongan, kekuatan dan penghiburan dalam menghadapi semua beban, persoalan dan pergumulan kita dalam kehidupan ini. Semoga setiap kita sebagai pengikut Kristus dapat menunjukkan iman yang bersifat “unconditional” terhadap Yesus Kristus yang telah mengasihi kita secara “unconditional.”