Dalam membahas tentang natur manusia, terdapat kebutuhan untuk membedakan antara elemen yang sekadar menyusun keberadaan fisik manusia dan elemen yang tergolong sebagai inti eksistensial. Secara lahiriah, tubuh manusia memang terdiri atas berbagai organ—jantung, otak, paru-paru, dan seterusnya—yang menunjang kehidupan biologis. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, tubuh manusia juga memiliki dimensi batiniah: kehendak, akal budi, emosi, dan kesadaran moral. Elemen-elemen ini, meski penting, tidak selalu dipandang sebagai elemen esensial dalam teologi Kristen. Elemen esensial manusia berkaitan erat dengan dimensi eksistensial dan spiritual: tubuh, jiwa atau roh.
Pertanyaan mendasar kemudian muncul: berapakah elemen utama dalam diri manusia menurut Alkitab? Diskursus teologis terhadap pertanyaan ini telah melahirkan tiga pandangan utama: monisme, dikotomi, dan trikotomi. Masing-masing memiliki landasan argumentatif yang khas serta implikasi doktrinal yang luas.
Monisme: Kesatuan Totalitas Manusia
Pandangan monisme melihat manusia secara utuh tanpa memisahkan elemen-elemen penyusunnya. G.C. Berkouwer, dalam karya terkenalnya Man: The Image of God, menekankan bahwa pemahaman Alkitab tentang manusia tidak terletak pada substansi non-fisik, melainkan dalam konteks relasional antara manusia dengan Allah. Monisme berasal dari kata Yunani monos, yang berarti “satu”, dan dalam konteks ini menunjuk pada keutuhan keberadaan manusia tanpa dikotomisasi.
Monisme menggarisbawahi bahwa Alkitab memandang manusia sebagai makhluk relasional yang utuh, bukan entitas yang tercerai-berai antara tubuh, jiwa, dan roh. Pandangan ini juga mengkritisi bahaya fragmentasi manusia, yang kerap mengarah pada superioritas salah satu elemen atas yang lain. Misalnya, menganggap roh lebih kudus daripada tubuh adalah pendekatan yang tidak alkitabiah, karena tubuh pun diciptakan Allah dan akan dibangkitkan pada akhir zaman.
Namun demikian, argumen terhadap monisme tidak dapat mengabaikan sejumlah teks Alkitab yang menyiratkan pemisahan elemen fisik dan non-fisik. Misalnya, dalam Pengkhotbah 12:7 tertulis, “debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah”. Demikian pula, doa Stefanus dalam Kisah Para Rasul 7:59, “Tuhan Yesus, terimalah rohku,” jelas menunjukkan eksistensi roh sebagai entitas non-fisik yang tetap hidup setelah tubuh mati.
Paulus pun menyatakan dalam Filipi 1:23-24 bahwa ia rindu “beralih dan diam bersama-sama dengan Kristus”, namun masih harus “tinggal dalam daging” demi jemaat. Dalam 2 Korintus 5:8, kematian digambarkan sebagai perpindahan dari tubuh menuju hadirat Tuhan. Semua ini menjadi penegasan bahwa Alkitab tidak semata-mata menekankan relasi, tetapi juga mengakui eksistensi elemen non-fisik secara nyata dan operasional.
Trikotomi: Tiga Elemen Esensial dalam Diri Manusia
Berbeda dengan monisme, pandangan trikotomi berpendapat bahwa manusia terdiri atas tiga elemen esensial: tubuh, jiwa, dan roh. Pandangan ini cukup populer di kalangan awam Kristen, walaupun hanya sedikit teolog yang mengafirmasinya secara eksplisit. Dalam trikotomi, tubuh mencakup aspek fisik, jiwa meliputi akal, emosi, dan kehendak, sementara roh adalah elemen tertinggi yang memungkinkan relasi manusia dengan Allah.
Pendukung trikotomi mengutip 1 Tesalonika 5:23 sebagai dasar utama: “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna…” Penempatan tiga elemen secara terpisah dan dengan penggunaan kata sambung Yunani kai—menunjukkan bahwa ketiganya bukan sinonim, melainkan elemen yang berbeda.
Ibrani 4:12 menambah kekuatan argumen dengan menyatakan bahwa firman Allah mampu memisahkan antara jiwa dan roh, memperlihatkan bahwa keduanya tidak identik. Lebih lanjut, dalam 1 Korintus 2:14–3:4, Paulus mengkategorikan manusia ke dalam tiga jenis: manusia kedagingan (sarkinos), manusia jiwani (psychikos), dan manusia rohani (pneumatikos). Ini bukan hanya penggolongan etis, tetapi ontologis, yang mencerminkan kondisi spiritual seseorang.
Roh, dalam perspektif trikotomi, adalah elemen yang mengalami kelahiran baru ketika seseorang percaya kepada Kristus. Seperti tertulis dalam Roma 8:10, “jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.” Roh inilah yang mengaktifkan ibadah sejati, seperti dijelaskan dalam Yohanes 4:24, “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”
Bukti lain berasal dari pengalaman spiritual banyak orang percaya. Terkadang mereka merasakan kehadiran Allah atau memperoleh pencerahan rohani bukan melalui emosi atau akal budi, tetapi melalui intuisi mendalam yang diyakini berasal dari roh. Hal ini menguatkan gagasan bahwa manusia memiliki dimensi batiniah yang berbeda dari jiwa biasa.
Perbandingan dengan binatang juga kerap dikedepankan. Binatang memiliki tubuh dan, dalam kadar tertentu, jiwa. Namun mereka tidak dapat menyembah Allah atau menerima wahyu ilahi. Inilah yang menjadi pembeda manusia: manusia memiliki roh, bukan sekadar jiwa.
Akhirnya, trikotomi juga menekankan bahwa saat seseorang bertobat dan menerima Kristus, terjadi perubahan esensial dalam roh. Sebelumnya, roh manusia mati secara rohani. Namun dengan kehadiran Kristus, roh itu dihidupkan kembali (Roma 8:10), dan relasi yang sebelumnya terputus dengan Allah kini dipulihkan.
Kritik Terhadap Pandangan Trikotomi
Setelah mengkaji berbagai argumen yang dikemukakan oleh para penganut trikotomi, tampak bahwa sebagian besar interpretasi mereka terhadap teks-teks Alkitab bersifat selektif dan kurang menyeluruh. Banyak teks yang dikutip justru tidak mendukung pemisahan tegas antara tubuh, jiwa, dan roh.
Pertama, 1 Tesalonika 5:23 sebenarnya menekankan pada totalitas pengudusan manusia. Penyebutan “roh, jiwa, dan tubuh” di sini bukanlah klasifikasi elemen secara ontologis, melainkan bentuk retoris untuk menyatakan keseluruhan pribadi manusia. Seperti halnya Ulangan 6:5 dan ayat-ayat paralelnya dalam Injil yang menggunakan variasi istilah namun tetap menekankan kasih kepada Tuhan dengan seluruh atau totalitas diri.
Kedua, Ibrani 4:12 lebih tepat dipahami secara figuratif. Pemisahan antara “jiwa dan roh” serta “sendi dan sumsum” bukan menunjukkan dua entitas berbeda, melainkan merupakan cara puitis untuk menegaskan kuasa penetratif firman Allah. Ini adalah akumulasi retoris untuk menunjukkan bahwa tidak ada bagian dalam manusia yang tersembunyi dari Allah.
Ketiga, dalam 1 Korintus 2:14–3:4, tiga jenis manusia yang disebutkan—yucikos, pneumatikos, dan sarkinos—adalah kategori etis atau rohani, bukan ontologis. Mereka mencerminkan kondisi rohani seseorang dalam relasinya dengan Allah, bukan struktur esensial dari manusia.
Keempat, dalam 1 Korintus 14:14, doa dalam bahasa roh tidak diikuti dengan pemahaman akal budi. Namun Paulus sendiri mengatakan bahwa ia juga berdoa dengan akal budinya (ayat 15). Ini menekankan keutuhan manusia dalam ibadah, bukan pemisahan antara “roh” dan “jiwa” sebagai elemen berbeda.
Kelima, 1 Korintus 15:44 berbicara tentang transformasi tubuh dalam kebangkitan. Tubuh yucikos dan tubuh pneumatikos merujuk pada dua kondisi yang berbeda dari tubuh yang sama: tubuh yang fana dan tubuh yang telah dimuliakan. Ini bukan pembagian elemen manusia, tetapi perubahan eskatologis.
Keenam, pengalaman rohani pribadi, meskipun penting, tidak dapat menjadi dasar sistematis untuk menyusun doktrin antropologi. Alkitab juga menunjukkan bahwa penyembahan kepada Allah dapat dilakukan oleh jiwa, seperti dinyatakan Daud dan Maria dalam pujian mereka. Hal ini menunjukkan fleksibilitas istilah-istilah Alkitab dalam merujuk pada keberadaan batin manusia.
Ketujuh, argumen bahwa manusia memiliki roh dan binatang tidak, juga tidak sepenuhnya akurat. Dalam beberapa teks, binatang juga dikatakan memiliki “roh” (ruah), yang menunjukkan bahwa istilah tersebut memiliki arti yang lebih luas daripada sekadar kapasitas relasi dengan Allah.
Kedelapan, perubahan dalam diri manusia saat pertobatan tidak terbatas pada “roh” saja. Seluruh aspek batin manusia diperbarui, termasuk hati, pikiran, dan kehendak. Ini ditunjukkan oleh banyak ayat seperti 2 Korintus 5:17 dan Efesus 2:4–5, yang menekankan penciptaan baru secara menyeluruh.
Argumen bahwa orang tidak percaya memiliki roh yang pasif pun tidak kuat. Alkitab mencatat bahwa roh orang fasik pun dapat aktif, namun untuk memberontak terhadap Allah. Contohnya adalah roh Raja Sihon (Ulangan 2:30) dan Nebukadnezar (Daniel 5:20) yang disebut telah dikeraskan.
Implikasi Teologis dan Praktis dari Pandangan Trikotomi
Pandangan trikotomi juga dapat mengarah pada ketimpangan pemahaman spiritual. Salah satu bahayanya adalah dualisme praktis yang memisahkan kehidupan rohani dari kehidupan fisik dan intelektual. Spiritualitas dipahami sempit sebagai aktivitas yang berkaitan dengan “roh”, seperti doa, puasa, dan penyembahan, sementara aspek tubuh dan pikiran dianggap kurang penting.
Ini membuka peluang munculnya anti-intelektualisme, yaitu sikap yang meremehkan pentingnya pengajaran Alkitab dan pertumbuhan dalam pengetahuan iman. Padahal Alkitab sangat menekankan pentingnya akal budi dan pemikiran yang diperbarui (Roma 12:2), serta kesalehan yang dibentuk melalui pengenalan yang benar akan Tuhan (2 Petrus 3:18).
Konsep yang tidak menyeluruh juga berpotensi menciptakan spiritualitas palsu yang menekankan pengalaman di atas pengajaran. Dalam jangka panjang, hal ini dapat melemahkan fondasi iman Kristen yang sehat.
Dikotomi: Tubuh dan Jiwa/Roh dalam Kesatuan Alkitabiah
Pandangan dikotomi adalah keyakinan bahwa manusia terdiri dari dua elemen utama: tubuh sebagai unsur fisik, dan jiwa/roh sebagai unsur non-fisik. Pendekatan ini dipegang oleh hampir semua teolog Reformed dan tercermin dalam Pengakuan Iman Westminster (XXXII.1), yang menyatakan bahwa tubuh manusia kembali ke debu saat kematian, tetapi jiwa langsung kembali kepada Allah. Ini adalah pandangan yang konsisten dengan ajaran Alkitab secara menyeluruh.
Dalam Kejadian 2:7, penciptaan manusia dijelaskan sebagai kombinasi antara tanah (tubuh) dan nafas kehidupan dari Allah (jiwa/roh). Hal ini ditegaskan kembali dalam Pengkhotbah 12:7: “debu kembali menjadi tanah seperti semula, tetapi roh kembali kepada Allah.” Bahkan Yesus mengingatkan kita untuk tidak takut kepada mereka yang hanya dapat membunuh tubuh tetapi tidak jiwa (Mat 10:28), yang secara jelas menunjukkan dualitas esensial dalam diri manusia.
Argumen utama dari pandangan dikotomi adalah kenyataan bahwa istilah “jiwa” (Ibrani: nepesh, Yunani: yuch) dan “roh” (Ibrani: ruah, Yunani: pneuma) sering kali digunakan secara bergantian dalam Alkitab. Ini menunjukkan bahwa kedua istilah tersebut merupakan sinonim, bukan entitas berbeda. Misalnya, dalam Yohanes 12:27 Yesus berkata, “jiwa-Ku terganggu,” sementara dalam Yohanes 13:21 dinyatakan bahwa roh-Nya terganggu. Maria dalam Lukas 1:46–47 menyatakan, “jiwa-Ku memuliakan Tuhan dan roh-Ku bergembira,” suatu bentuk paralelisme Ibrani yang menegaskan kesamaan makna antara keduanya.
Kematian manusia juga sering digambarkan sebagai perpisahan antara tubuh dengan jiwa atau roh. Dalam Kejadian 35:18, jiwa Rahel pergi saat ia mati. 1 Raja-raja 17:21 menyebut Elia memohon agar jiwa seorang anak dikembalikan kepadanya. Dalam Yesaya 53:12, Yesus digambarkan sebagai menyerahkan jiwa-Nya kepada maut. Sedangkan dalam Lukas 23:46 dan Yohanes 19:30, disebut bahwa Yesus menyerahkan roh-Nya. Jika keduanya adalah entitas berbeda, maka Alkitab seharusnya menyebut keduanya secara bersamaan saat kematian—namun kenyataannya tidak demikian.
Penyebutan terhadap orang-orang yang telah mati juga mendukung kesamaan ini. Ibrani 12:23 menyebut mereka sebagai “roh-roh orang benar,” sedangkan Wahyu 6:9 dan 20:4 menyebut “jiwa-jiwa orang-orang yang mati karena firman.” Ini memperkuat gagasan bahwa istilah roh dan jiwa digunakan secara sinonim.
Beberapa teks Alkitab membagi manusia hanya menjadi tubuh dan jiwa (Mat 10:28) atau tubuh dan roh (1Kor 5:5; Yak 2:26). Jika jiwa dan roh benar-benar berbeda, seharusnya semua pembagian dalam Alkitab menyebut ketiga istilah. Paulus juga tidak pernah menuntut kekudusan dari “jiwa” secara terpisah, melainkan menyebut tubuh dan roh (1Kor 7:34; 2Kor 7:1).
Bahkan dosa pun dapat dikaitkan baik dengan jiwa maupun roh. Sementara trikotomi menganggap roh sebagai bagian yang murni dan tidak berdosa, Alkitab menunjukkan bahwa roh dapat berdosa. Yesaya 29:24 menyebut pikiran (ruah) sesat, Amsal 16:32 dan Ulangan 2:30 menunjukkan bahwa roh bisa dikeraskan atau tidak terkendali, dan Daniel 5:20 menyatakan roh Nebukadnezar dikeraskan. Semua ini menunjukkan bahwa roh pun tidak imun terhadap dosa.
Lebih lanjut, Alkitab menunjukkan bahwa roh manusia dapat melakukan fungsi yang menurut trikotomi hanya bisa dilakukan oleh jiwa. Roh dapat merasakan (Kis 17:16; Ams 17:22), berpikir (Markus 2:8), dan memahami (1Kor 2:11). Hal ini menggugurkan asumsi bahwa emosi dan intelek eksklusif dimiliki oleh jiwa.
Hal terpenting lainnya adalah bahwa jiwa manusia juga terlibat langsung dalam relasi dengan Allah. Mazmur 103:1 dan Lukas 1:46 menyebutkan bahwa jiwa memuji Tuhan. Mazmur 42:5 dan 62:1–2 menggambarkan jiwa sebagai bagian yang merindukan dan berharap kepada Tuhan. Dalam 1 Samuel 1:15 disebutkan Hana berdoa dari jiwanya. Kita pun diperintahkan untuk mengasihi Allah dengan segenap jiwa (Ul 6:5 dan Injil Sinoptik).
Semua ini menyiratkan bahwa pembagian trikotomi tidak hanya kurang akurat secara eksegetis, tetapi juga membatasi cakupan makna spiritualitas manusia dalam Alkitab. Fungsi yang diklaim hanya dimiliki oleh roh ternyata juga dimiliki oleh jiwa. Dengan kata lain, keduanya adalah dua istilah yang saling tumpang tindih, digunakan oleh penulis Alkitab untuk mengekspresikan aspek batin manusia secara keseluruhan.
Dikotomi sebagai Model Antropologi Alkitabiah yang Konsisten
Dikotomi bukan sekadar pandangan teologis tradisional, tetapi juga bersumber dari pemahaman menyeluruh terhadap Kitab Suci. Dengan melihat penggunaan sinonim antara jiwa dan roh dalam Alkitab, serta fungsi dan keterlibatan keduanya dalam kehidupan spiritual, emosional, dan moral manusia, kita dapat menyimpulkan bahwa manusia secara esensial terdiri dari tubuh dan elemen non-fisik (jiwa/roh) yang menyatu.
Pandangan ini tidak hanya konsisten dengan data Alkitab, tetapi juga melindungi kita dari jebakan dualisme ekstrem atau kecenderungan anti-intelektual yang sering mengiringi pendekatan trikotomi. Sebaliknya, dikotomi mengajarkan bahwa seluruh aspek kehidupan manusia—fisik dan non-fisik—adalah arena bagi pertumbuhan rohani dan pelayanan kepada Allah.
Sebagaimana dikatakan dalam 2 Korintus 7:1, “…marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran tubuh dan roh, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.” Dalam terang ini, dikotomi tidak hanya mencerminkan struktur manusia menurut Alkitab, tetapi juga mengarahkan manusia kepada kehidupan yang utuh, kudus, dan terintegrasi dalam relasi dengan Sang Pencipta.
Kesimpulan:
Dikotomi memiliki argumen yang sangat kuat dan konsisten dengan seluruh ajaran Kitab Suci. Tidak seperti monisme yang meniadakan perbedaan elemen dalam diri manusia, Alkitab dengan jelas membedakan antara tubuh sebagai unsur fisik dan roh atau jiwa sebagai unsur non-fisik, terutama dalam konteks kematian. Sementara itu, trikotomi mengajukan pemisahan antara jiwa dan roh secara ontologis, namun bukti Alkitab menunjukkan bahwa keduanya digunakan secara bergantian sebagai sinonim yang menunjuk pada elemen batiniah manusia.
Namun, walaupun pandangan dikotomi lebih alkitabiah, kita tetap perlu berhati-hati terhadap kemungkinan kesalahpahaman yang bisa muncul. Pembedaan antara tubuh dan jiwa/roh bukan berarti salah satu lebih penting daripada yang lain. Sejarah gereja mencatat kecenderungan asketisme yang memandang tubuh sebagai musuh spiritualitas. Tubuh dianggap sumber dosa yang harus ditindas, padahal ini bertentangan dengan pandangan Alkitab yang menempatkan tubuh dalam posisi yang mulia.
Alkitab tidak hanya mengakui eksistensi manusia tanpa tubuh (Lukas 23:43; Filipi 1:23), tetapi juga menunjukkan penghargaan yang tinggi terhadap keberadaan fisik manusia. Allah memelihara kebutuhan tubuh (Matius 6:25-35), bahkan mengambil rupa tubuh manusia dalam Yesus Kristus (Yohanes 1:14). Kristus menebus tubuh kita (1 Korintus 6:9-20), menjadikan tubuh sebagai bait Roh Kudus dan akan membangkitkannya dalam kemuliaan pada akhir zaman (1 Korintus 15:35-58).
Karena itu, pemahaman dikotomi tidak boleh mengarah pada dikotomi aktivitas antara fisik dan spiritual. Tindakan manusia adalah hasil kerja seluruh keberadaannya—tidak bisa dipisahkan antara apa yang dilakukan tubuh dan apa yang dilakukan jiwa. Saat berpikir, otak terlibat. Saat merasa, sistem saraf bekerja. Bahkan saat berdoa atau beribadah, tubuh ikut serta: berlutut, menangis, mengangkat tangan, menari, dan menyanyi semuanya menunjukkan bahwa ibadah melibatkan seluruh manusia.
Mazmur 63:2 menyatakan, “Jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu,” yang menunjukkan kerinduan total dari seluruh keberadaan manusia. Mazmur 84:3 menyebutkan bahwa hati dan daging Daud bersorak-sorai kepada Allah. Paulus pun menekankan bahwa doa dapat melibatkan roh dan akal budi (1 Korintus 14:14-15), menyiratkan bahwa ibadah yang benar tidak bersifat parsial, tetapi total.
Ibadah dan kehidupan Kristen yang sejati menuntut keterlibatan seluruh diri. Kita memuji Tuhan bukan hanya dengan pikiran atau perasaan, tetapi dengan tepuk tangan (Mazmur 47:1), dengan angkat tangan (Mazmur 28:2; 134:2), bahkan dengan tarian (Mazmur 149:3). Ini semua menyiratkan bahwa tubuh bukan sekadar kendaraan jiwa, melainkan bagian yang integral dari penyembahan.
Maka, pandangan dikotomi bukan hanya paling sejalan dengan Alkitab secara eksegetis dan teologis, tetapi juga paling membentuk kehidupan spiritual yang seimbang. Kita dipanggil untuk mengasihi Allah dengan seluruh diri kita—dengan tubuh, jiwa, roh, hati, dan akal budi—sebagaimana yang diperintahkan dalam hukum utama yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus (Markus 12:30). Dalam terang ini, manusia adalah satu kesatuan yang utuh, diciptakan untuk memuliakan Allah secara penuh, dalam segala aspek hidupnya.