Dalam upaya kita memahami wahyu Allah, kita perlu memperhatikan apa yang diajarkan dalam Ulangan 29:29 yang berkata: “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini”. Karena itu setiap orang Kristen perlu memahami beberapa hal terkait wahyu Allah, antara lain: pertama, kita mengenal Allah sejauh Allah memperkenalkan diri-Nya. Hal itu nampak dalam frasa “hal-hal yang dinyatakan [oleh Allah]”.
Kedua, kita dapat mengenal Allah, tetapi kita tidak mungkin memahami Dia seutuhnya. Hal ini nampak dalam frasa “hal-hal yang tersembunyi” dalam Ulangan 29:29. Manusia tidak mungkin dapat mengetahui pikiran-pikiran Allah. Hal itu dinyatakan dalam Roma 11: 33-34: “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?” Demikian juga Yesaya 55:9 juga mengatakan bahwa begitu tingginya jalan dan rancangan Allah sebagai berikut: “Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Dalam bagian lain Alkitab menunjukan beberapa misteri ilahi berada jauh di atas pengertian manusia seperti pernyataan Ayub 42:3-4 yang berbunyi: “Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui. Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.”
Ketiga, tujuan wahyu Allah bersifat praktis. Allah menyatakan diri-Nya yaitu untuk menuntut ketaatan kita kepada-Nya sesuai segala perkataan hukum Taurat. Hal tersebut dinyatakan dalam 2 Timotius 3:16 yang menjelaskan bahwa Hukum Taurat “bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran”. Oleh karena itu, wahyu Allah bukan dimaksudkan sebagai bahan perdebatan atau pemuasan pemikiran teoritis belaka.