Menemukan panggilan hidup bukan hanya soal kemampuan. Ada satu elemen lain yang tak kalah penting: hasrat. Dalam proses memahami kehendak Allah atas hidup kita, hasrat bisa menjadi salah satu petunjuk yang kuat. Hasrat di sini bukan sekadar keinginan biasa, apalagi ambisi sesaat. Hasrat adalah beban yang besar dan konsisten dalam hati, yang terus muncul dan tidak mudah padam.
Banyak orang bertanya, “Bagaimana saya tahu saya dipanggil untuk sesuatu?” Salah satu jawabannya adalah: perhatikan apa yang membuat hatimu terusik. Tuhan sering menanamkan beban dalam hati kita sebagai salah satu cara-Nya memanggil kita. Hasrat rohani ini bukan sekadar hobi, tapi dorongan batin yang dalam dan berkelanjutan.
Pertama, hasrat bisa dikenali dari beban atau semangat yang besar terhadap sesuatu.
Misalnya, jika seseorang merasa sangat terganggu setiap kali melihat kemiskinan, bisa jadi Tuhan sedang menanamkan panggilan untuk terlibat dalam pelayanan sosial atau pemberdayaan ekonomi. Jika seseorang selalu merasa prihatin melihat anak-anak dari keluarga broken home, mungkin Tuhan memanggilnya untuk melayani keluarga atau anak-anak terlantar. Hasrat semacam ini sering muncul berulang kali, tidak hilang oleh waktu, dan cenderung makin kuat ketika kita semakin dekat dengan Tuhan.
Petunjuk lain yang bisa dilihat adalah rasa senang dan kepuasan saat melakukan sesuatu. Ketika kita merasa penuh semangat dan menikmati suatu pekerjaan atau pelayanan tertentu, mungkin itulah bidang yang Tuhan tetapkan bagi kita. Pemazmur pernah berkata, “Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita” (Mazmur 100:2). Rasul Paulus menasihati, “Siapa yang menunjukkan kemurahan hendaklah melakukannya dengan sukacita” (Roma 12:8). Bahkan dalam Pengkhotbah pun dituliskan, “Tidak ada yang lebih baik bagi manusia daripada menikmati pekerjaannya” (Pkh. 3:22).
Kedua, hasrat perlu diuji, karena tidak semua yang menyenangkan hati adalah panggilan sejati.
Seseorang mungkin menyukai sesuatu karena alasan yang tidak murni. Misalnya, ia suka melayani karena ingin dikenal orang, atau ia memilih jalur tertentu karena bisa menghasilkan banyak uang. Untuk itu, kita perlu bertanya:
- Jika aku tidak mendapat apa pun dari pekerjaan ini, apakah aku masih ingin melakukannya?
- Jika tak seorang pun menghargai apa yang kulakukan, apakah aku tetap bersukacita melayaninya?
Pertanyaan-pertanyaan ini akan menguji apakah hasrat kita memang berasal dari panggilan Tuhan atau hanya ambisi pribadi. Hasrat yang berasal dari Tuhan biasanya bertahan dalam kesunyian, saat tak ada yang melihat, saat tidak ada keuntungan. Sebaliknya, hasrat yang palsu mudah padam ketika tidak mendapat respons atau pengakuan.
Selain itu, kita juga harus sadar bahwa tidak semua orang dipanggil pada sesuatu yang langsung mereka sukai sejak awal. Musa, Yosua, dan Yunus adalah contoh tokoh-tokoh besar yang semula enggan menjalani panggilan mereka. Musa berkata bahwa ia tidak pandai bicara. Yosua merasa gentar. Yunus bahkan melarikan diri. Artinya, hasrat bisa datang setelah ketaatan. Kadang kita baru mencintai sesuatu ketika kita sudah menjalaninya bersama Tuhan.
Ketiga, Tuhan mampu memberi sukacita untuk mencintai tugas yang kita emban.
Dalam kasih karunia-Nya, Tuhan bukan hanya memperlengkapi kita dengan kapasitas, tapi juga dengan sukacita. Meskipun kita merasa tugas itu berat, Tuhan sanggup mencurahkan sukacita rohani yang melebihi kenyamanan emosional. Itulah perbedaan antara kesenangan dan sukacita. Kesenangan menyentuh perasaan; sukacita menyentuh jiwa dan berasal dari relasi dengan Allah.
Rasul Paulus mengalami hal ini secara nyata. Ia pernah berkata, “Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran… Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (2 Kor. 12:10). Sukacita seperti ini bukanlah hasil dari suasana, tetapi buah dari keyakinan bahwa Tuhan menyertai dan memampukan. Itulah yang membuat Paulus tetap bersyukur dan tidak tawar hati, meski hidupnya penuh tantangan (2 Kor. 4:8–9).
Kesimpulan:
Hasrat bukan satu-satunya penentu panggilan, tetapi bisa menjadi salah satu petunjuk yang kuat. Hasrat yang sejati bukan didorong oleh ambisi pribadi, melainkan oleh kerinduan yang ditanam Tuhan dalam hati kita. Hasrat itu diuji dalam kesetiaan, bukan hanya dalam kenyamanan. Dan ketika kita melangkah dengan taat, Tuhan sendiri yang akan menumbuhkan sukacita sejati di dalam pelayanan dan panggilan kita. Sebab mereka yang menyadari bahwa panggilannya adalah anugerah, akan berkata dengan penuh keyakinan, “Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati.” (2 Kor. 4:1)
Studi Alkitab mandiri
Bacalah Filipi 1:12-18, lalu jawablah beberapa pertanyaan berikut ini.
- Ketika Paulus berada dalam penjara adakah tanda-tanda bahwa dia mengeluh kepada Allah atau menyalahkan orang lain (ayat 18)?
- Selain dipenjara, persoalan apakah yang dia sedang hadapi (ayat 17)? Secara manusiawi, respons alamiah seperti apa yang biasanya diberikan ketika menghadapi persoalan tersebut?
- Apa yang membuat dia bisa bersukacita di tengah situasi seperti ini (ayat 12-13, 14, 18)?
Ayat Hafalan
Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia,dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu (Mazmur 37:3-4)
Pertanyaan Untuk Diskusi
- Antara 0 – 100, seberapa besar Anda menyukai pekerjaan atau pelayanan Anda saat ini? Mengapa?
- Apa saja yang membuat Anda kadangkala tidak bisa menikmatinya?
- Apakah penilaian di atas lebih ditentukan oleh perasaan (kenyamanan) atau pemahaman (misalnya pekerjaan Tuhan lebih maju)? Jelaskan!