Dalam lanjutan khotbah di bukit, Yesus kembali berbicara mengenai topik yang sangat personal dan relevan bagi kehidupan manusia: pernikahan dan perceraian. Seperti bagian sebelumnya tentang perzinahan (Mat. 5:27–30), pengajaran Yesus tentang perceraian juga menyingkap kedalaman hukum Allah. Ia tidak hanya mengoreksi praktik yang salah kaprah, tetapi juga mengembalikan umat Allah kepada maksud mula-mula Allah atas pernikahan. Di tengah dunia yang semakin permisif terhadap perceraian, pengajaran Yesus tetap berdiri sebagai mercusuar yang menuntun umat-Nya kepada kesetiaan dan kasih yang tak tergoyahkan.
Konteks dan Kekeliruan Fokus
Banyak orang yang membaca Matius 5:31–32 cenderung langsung fokus pada pertanyaan: “Kapan seseorang boleh bercerai?” atau “Apa saja alasan sah menurut Alkitab untuk mengakhiri pernikahan?” Namun sesungguhnya, pendekatan ini melewatkan inti pengajaran Yesus. Ia tidak bermaksud membuka celah untuk perceraian, melainkan menekankan kemuliaan dan kekuatan komitmen pernikahan. Dua ayat ini bukan pembelaan bagi perceraian, melainkan peringatan terhadap kecenderungan manusia yang terlalu lunak memutuskan ikatan kudus itu.
Yesus berkata:
“Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya.” (Mat. 5:31)
Pernyataan ini merujuk langsung pada Ulangan 24:1–4. Dalam teks itu, Musa mengatur bahwa jika seorang suami ingin menceraikan istrinya, ia wajib memberikan surat cerai. Tujuan dari surat ini adalah kejelasan hukum bagi pihak perempuan, agar ia dapat menikah lagi dan memperoleh perlindungan dalam masyarakat patriarkhal yang tidak memberi ruang hidup mandiri bagi perempuan.
Namun sayangnya, hukum yang seharusnya melindungi justru disalahgunakan. Orang-orang mulai menganggap surat cerai sebagai lampu hijau untuk bercerai dengan alasan apa saja. Mereka tidak lagi mempertimbangkan dampak atau nilai kudus dari pernikahan itu sendiri.
Budaya Yahudi: Perceraian sebagai Kebiasaan Sosial
Pada zaman Yesus, terdapat dua aliran besar yang berdebat soal alasan sah perceraian: Rabi Shammai dan Rabi Hillel. Shammai lebih konservatif dan hanya mengizinkan perceraian jika ada tindakan tak senonoh, seperti perzinahan. Sedangkan Hillel lebih longgar: bahkan jika istri memberikan makanan atau tidak lagi menyenangkan di mata suami, maka perceraian dianggap sah. Pandangan Hillel menjadi dominan di masyarakat saat itu.
Di tengah budaya yang permisif ini, Yesus berdiri dan menantang norma sosial yang berkembang. Ia tidak berpihak pada salah satu kubu. Ia membangun fondasi baru yang lebih tinggi: pernikahan adalah perjanjian kudus yang berasal dari Allah, bukan sekadar kontrak sosial yang bisa dibatalkan kapan saja.
Penafsiran Ulang oleh Yesus: Perceraian Tidak Menyelesaikan Masalah
Yesus berkata:
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.” (Mat. 5:32)
Ada tiga poin penting yang ditekankan di sini:
1. Pernikahan Bersifat Permanen
Yesus menegaskan bahwa perceraian, meskipun disahkan secara hukum melalui surat cerai, tidak otomatis memutus ikatan pernikahan di hadapan Allah. Dalam pandangan Yesus, suami yang menceraikan istri tanpa dasar yang sah berarti mendorong istrinya dan orang lain yang menikahinya ke dalam dosa perzinahan. Ini berarti, di mata Allah, pernikahan mereka belum benar-benar berakhir.
Dalam Matius 19:6, Yesus menegaskan:
“Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia.”
Ikatan pernikahan bukan sekadar kontrak antara dua individu, tetapi karya ilahi yang menyatukan dua kehidupan menjadi satu daging. Oleh karena itu, hanya Allah sendiri yang memiliki otoritas untuk mengakhirinya.
2. Perceraian Bukan Penyelesaian
Yesus juga menyoroti konsekuensi buruk dari perceraian. Masyarakat pada waktu itu terlalu fokus pada legalitas—apakah surat cerai sudah diberikan atau belum—namun mereka melupakan dampak spiritual, emosional, dan sosial dari perceraian itu sendiri.
Dalam banyak kasus, perceraian bukan menyelesaikan masalah, melainkan melarikan diri dari masalah. Setelah bercerai, masalah baru muncul: luka emosional, hubungan yang rusak, ketidakstabilan anak-anak, dan bahkan perzinahan dalam pernikahan berikutnya. Oleh karena itu, Yesus ingin kita berpikir lebih dalam sebelum mengambil langkah sedramatis itu.
3. Yesus Meminimalisasi Perceraian, Bukan Memberi Izin
Pernyataan Yesus, “kecuali karena zinah,” sering dianggap sebagai “celah” atau “alasan yang sah” untuk perceraian. Namun dalam konteks budaya yang sangat longgar terhadap perceraian, pernyataan ini justru memperketat, bukan melonggarkan.
Kata Yunani yang digunakan di sini adalah porneia, yang cakupannya luas: dari prostitusi, hubungan seksual pranikah, hingga pelanggaran seksual lainnya. Namun menariknya, Yesus tidak menggunakan kata moicheia (yang berarti perzinahan dalam pernikahan). Hal ini memberi kesan bahwa konteks “kecuali karena zinah” mungkin merujuk pada pelanggaran seksual dalam masa pertunangan, seperti kasus Yusuf yang hendak menceraikan Maria secara diam-diam (Mat. 1:19), bukan dalam pernikahan resmi.
Banyak teolog, termasuk dalam tradisi Reformed, mengakui bahwa dalam kondisi ekstrem seperti perzinahan berat, perceraian bisa menjadi opsi terakhir, namun tetap bukan solusi ideal. Yesus memanggil kita bukan untuk mencari celah hukum, tetapi untuk mempertahankan kasih dan kesetiaan sedalam mungkin.
Panggilan kepada Semua Orang
Pengajaran Yesus ini berlaku bagi semua kalangan—baik yang belum menikah, yang sedang membina rumah tangga, maupun yang pernah mengalami perceraian.
1. Bagi yang Belum Menikah
Pernikahan adalah keputusan hidup yang sangat besar, kedua setelah memutuskan mengikut Kristus. Karena itu, jangan buru-buru. Berdoalah, mintalah hikmat, dan mintalah pertolongan Allah dalam memilih pasangan hidup. Pilihlah bukan hanya karena emosi atau daya tarik, tetapi karena keyakinan bahwa orang itu akan menjadi rekan sejiwa seumur hidup.
2. Bagi yang Sudah Menikah
Pernikahan adalah taman yang harus dirawat. Tidak ada rumah tangga tanpa masalah. Tetapi masalah bukan alasan untuk menyerah, melainkan peluang untuk bertumbuh bersama. Kasih, pengampunan, komunikasi yang jujur, dan kesabaran adalah kunci untuk mempertahankan komitmen. Jangan biarkan dunia, ego, atau kepahitan merusak apa yang telah disatukan Allah.
3. Bagi yang Pernah Bercerai
Ingatlah bahwa Tuhan adalah sumber anugerah dan pemulihan. Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni oleh darah Kristus. Datanglah kepada-Nya dengan hati yang hancur dan terbuka. Tuhan akan memulihkan, menguatkan, dan menuntun langkah Anda ke depan. Dia tetap memanggil Anda untuk hidup dalam kebenaran dan kasih, dan Dia tidak pernah membuang anak-anak-Nya.
Penutup: Pernikahan sebagai Cermin Kasih Kristus
Pernikahan bukan hanya ikatan hukum, tetapi gambaran tentang kasih antara Kristus dan jemaat-Nya. Kasih yang setia, mengampuni, dan tidak menyerah. Yesus mengajar kita bahwa perceraian bukanlah jalan yang mudah. Ia mengundang kita untuk kembali kepada komitmen yang kudus, yang dibangun di atas dasar kasih dan pengorbanan.
Mari kita pegang janji kita dengan setia, sama seperti Allah setia terhadap kita. Dan bila kita jatuh, marilah kita datang kepada-Nya yang penuh rahmat, yang sanggup membangun kembali serpihan hidup menjadi kesaksian yang utuh.
“Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia.” (Matius 19:6)
“Setiap orang yang menceraikan isterinya… menjadikan isterinya berzinah.” (Matius 5:32)