Dalam khotbah di bukit, Yesus menantang norma-norma budaya dan keagamaan yang hidup di tengah masyarakat Yahudi pada waktu itu. Ia bukan hanya menafsirkan ulang Hukum Taurat, melainkan juga menembus ke lapisan terdalam dari hukum tersebut—ke dalam hati manusia. Setelah membahas perzinahan dan perceraian, Yesus melanjutkan dengan topik yang tampaknya sederhana, tetapi sangat dalam: sumpah.
Topik ini ditempatkan secara strategis setelah perikop tentang perceraian, dan bukan tanpa alasan. Keduanya berkaitan erat dengan komitmen dan kejujuran. Perceraian seringkali lahir dari ketidaksetiaan terhadap janji pernikahan. Demikian pula, bersumpah palsu mencerminkan kegagalan untuk berkata jujur dan memegang teguh komitmen. Keduanya adalah pelanggaran terhadap integritas—baik di hadapan Allah maupun sesama.
Memahami Konteks Hukum Taurat tentang Sumpah (ayat 33)
Yesus membuka pengajaran-Nya dengan berkata:
“Kamu juga telah mendengar firman: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.”
Ungkapan ini bukanlah kutipan langsung dari satu bagian tertentu dalam Hukum Taurat, melainkan rangkuman dari beberapa perintah penting yang tersebar dalam Kitab Musa. Misalnya:
- Keluaran 20:7 – “Jangan menyebut nama Tuhan, Allahmu, dengan sembarangan.”
- Imamat 19:12 – “Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku.”
- Bilangan 30:2 – “Apabila seorang laki-laki bernazar kepada Tuhan… janganlah ia melanggarnya.”
- Ulangan 23:21 – “Apabila engkau bernazar kepada Tuhan, Allahmu, janganlah engkau menunda-menunda menepatinya.”
Dari ayat-ayat ini, kita bisa menyimpulkan bahwa dalam hukum Musa, bersumpah adalah tindakan yang sangat serius dan sakral. Bersumpah berarti meneguhkan pernyataan kita di hadapan Tuhan. Artinya, setiap sumpah otomatis bersifat mengikat karena mengundang Allah sebagai saksi dan penjamin dari ucapan kita.
Namun dalam tradisi Yahudi kemudian, makna sumpah menjadi kabur. Dalam usaha untuk menjaga nama Tuhan agar tidak disebut sembarangan, para ahli Taurat dan orang Farisi menciptakan berbagai aturan tambahan tentang bagaimana sumpah harus diucapkan—aturan yang sayangnya malah menyimpangkan maksud asli hukum tersebut.
Penafsiran Legalistik: Sumpah Menjadi Celah
Para rabi Yahudi mulai membedakan antara sumpah yang “serius” dan sumpah yang “ringan”. Jika seseorang bersumpah demi nama TUHAN, maka sumpah itu dianggap mengikat. Namun jika sumpah diucapkan demi langit, bumi, Yerusalem, mezbah, atau benda-benda lain, maka mereka menganggap sumpah itu tidak terlalu sakral, sehingga bisa dilanggar tanpa konsekuensi berat.
Yesus mengecam praktik ini dalam Matius 23:16–22, di mana Ia menyebut para pemimpin agama sebagai “orang buta” karena membuat perbedaan buatan antara sumpah yang mengikat dan tidak. Dengan memanipulasi formulasi sumpah, mereka seakan-akan memberi izin bagi orang untuk berdusta selama sumpahnya tidak menyebut nama Tuhan secara eksplisit.
Inilah latar belakang mengapa Yesus mengajarkan larangan untuk bersumpah dalam Matius 5:33–37. Ia tidak sedang melarang semua bentuk sumpah dalam segala konteks, tetapi Ia sedang menyoroti sikap hati dan kebiasaan menipu yang diselubungi oleh legalisme.
Larangan Bersumpah dan Panggilan pada Integritas (ayat 34–37)
Yesus berkata:
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Jangan sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya…”
Frasa “jangan sekali-kali” (bahasa Yunani: holōs) menunjukkan larangan total dalam konteks tertentu. Yesus ingin agar murid-murid-Nya tidak lagi mengandalkan sumpah untuk membuktikan kebenaran ucapan mereka. Sebab, seluruh ciptaan ini—langit, bumi, Yerusalem, bahkan rambut di kepala kita—adalah milik Tuhan dan berada di bawah otoritas-Nya. Bersumpah demi apa pun berarti bersumpah di hadapan Tuhan, karena segala sesuatu diciptakan oleh dan bagi-Nya.
Mengapa Yesus melarang sumpah semacam ini? Karena pengambilan sumpah semacam itu menyiratkan bahwa ucapan biasa tidak cukup dipercaya kecuali diteguhkan dengan formula tertentu. Padahal, dalam Kerajaan Allah, setiap perkataan kita seharusnya dapat dipercaya, dengan atau tanpa sumpah.
Yesus kemudian menyimpulkan:
“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Mat. 5:37)
Ini adalah panggilan kepada kehidupan yang jujur, tulus, dan transparan. Perkataan kita seharusnya mencerminkan realitas dan hati kita. Tidak ada ruang untuk manipulasi, kebohongan, atau “permainan kata” demi keuntungan pribadi.
Iblis: Bapa Segala Dusta
Yesus dengan jelas menyebut bahwa “apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” Dalam bahasa Yunani, tou ponērou mengacu pada “si jahat” dalam bentuk definitif, yakni Iblis. Dalam Yohanes 8:44, Yesus menyebut Iblis sebagai “bapa segala dusta.” Ia adalah penggoda yang menggiring manusia untuk hidup dalam kepalsuan, manipulasi, dan kepura-puraan.
Ketika kita merasa perlu bersumpah untuk meyakinkan orang lain bahwa kita jujur, hal itu menunjukkan bahwa integritas kita belum nyata. Sebaliknya, ketika perkataan kita selalu jujur dan dapat dipercaya, kita menunjukkan bahwa kita hidup dalam terang Kristus, bukan dalam bayang-bayang Iblis.
Allah yang Bersumpah: Pengecualian yang Memperkuat Iman
Mungkin muncul pertanyaan: Jika Yesus melarang bersumpah, mengapa Allah sendiri bersumpah dalam Alkitab? Dalam Kejadian 22:16, misalnya, Tuhan berkata kepada Abraham: “Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri.” Apakah ini bertentangan?
Tentu tidak. Ketika Allah bersumpah, Ia tidak melakukannya untuk meningkatkan kredibilitas-Nya, karena Ia adalah kebenaran itu sendiri. Sebaliknya, Ia bersumpah untuk menguatkan iman kita. Ibrani 6:17 menjelaskan bahwa Allah mengikat janji-Nya dengan sumpah agar para ahli waris janji mendapat jaminan yang kuat dan tak tergoyahkan.
Allah tidak bersumpah demi makhluk ciptaan. Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada yang lebih tinggi dari-Nya. Dan sumpah-Nya bukan karena keraguan, tetapi sebagai bentuk kasih yang meyakinkan umat-Nya.
Bagaimana dengan Sumpah Resmi di Pengadilan atau Pemerintahan?
Beberapa tradisi gereja, seperti Quakers dan Anabaptis, menolak semua bentuk sumpah, termasuk sumpah jabatan dan pengadilan, karena menafsirkan Matius 5:34 secara literal.
Namun sebagian besar gereja Protestan dan Katolik memahami bahwa maksud Yesus bukanlah melarang sumpah dalam konteks hukum yang ditetapkan oleh negara, melainkan menentang penyalahgunaan sumpah dalam kehidupan sehari-hari.
Menariknya, Yesus sendiri, ketika dituntut oleh Imam Besar untuk “bersumpah demi Allah yang hidup” tentang identitas-Nya, menjawab dan tidak menolak tuntutan itu (Mat. 26:63–64). Ini menunjukkan bahwa sumpah formal dalam konteks legal atau seremonial tidak otomatis bertentangan dengan ajaran Yesus, selama tidak dimaksudkan untuk menipu atau mempermainkan kebenaran.
Hidup dalam Integritas: Panggilan Warga Kerajaan Allah
Inti dari ajaran Yesus ini sangat jelas: sebagai warga Kerajaan Allah, kita dipanggil untuk hidup dalam kebenaran yang konsisten. Kita tidak boleh menjadi orang yang berkata “ya” tapi maksudnya “tidak”, atau sebaliknya. Kita tidak boleh memainkan kata untuk menciptakan kesan palsu, atau mengandalkan “bukti tambahan” demi meyakinkan orang bahwa kita jujur.
Yesus memanggil kita untuk menjadi orang-orang yang perkataannya bisa dipercaya tanpa harus bersumpah. Kita menjadi terang dan garam di dunia ini bukan dengan banyak berbicara, melainkan dengan mempraktikkan hidup yang selaras antara hati, perkataan, dan perbuatan.
Penutup: Kekuatan Kejujuran di Dunia yang Gelap
Di dunia yang penuh manipulasi, hoaks, dan kebohongan, kejujuran adalah kesaksian yang sangat kuat. Ketika kita menjadi orang yang dikenal jujur, integritas kita akan bersinar seperti terang Kristus. Dunia mungkin tidak menghargai kejujuran hari ini, tetapi Tuhan selalu menyukai hati yang tulus dan mulut yang bersih.
Mari kita mulai dari hal kecil: tidak melebih-lebihkan cerita, tidak menyembunyikan fakta, tidak berkata “ya” ketika sebenarnya “tidak.” Mari kita jaga lidah kita untuk mencerminkan hati yang penuh kasih dan kebenaran.
“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Matius 5:37)