Dalam kelanjutan khotbah di bukit, Yesus kembali menggugah cara pandang para pendengar-Nya terhadap hukum Allah. Jika sebelumnya Ia menyingkapkan esensi terdalam dari larangan “jangan membunuh” dengan menyoroti akar kemarahan, kali ini Ia membawa kita lebih dalam lagi dalam memahami perintah “jangan berzinah.” Sekali lagi, Yesus tidak sekadar berbicara tentang perilaku lahiriah, tetapi menyoroti sumber terdalam dari semua tindakan—yaitu hati manusia.
“Jangan Berzinah”: Hukum yang Dilampaui oleh Kasih dan Kekudusan
Yesus mengawali dengan kutipan langsung dari Dasa Titah: “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah” (Mat. 5:27). Ini adalah perintah ketujuh dalam Hukum Taurat (Kel. 20:14). Pada zaman itu, pemahaman terhadap perzinahan sangat dipengaruhi oleh sistem patriarkhal dan budaya hukum yang legalistik. Dalam masyarakat kuno, khususnya budaya Timur Tengah kuno yang cenderung poligamis, perzinahan kerap dipandang sebagai pelanggaran terhadap hak milik pria lain, bukan sebagai tindakan yang mencemarkan kekudusan relasi atau merusak integritas pribadi.
Secara umum, perzinahan dipersempit pada hubungan fisik dengan istri orang lain. Bahkan dalam banyak kasus, relasi seksual antara seorang pria dan budak perempuan tidak dianggap sebagai perzinahan karena budak dianggap milik tuannya. Jadi, inti pelanggaran bukan pada ketidakmurnian moral, melainkan pada pelanggaran hak.
Tentu saja, cara pandang seperti ini sangat jauh dari standar kekudusan yang Yesus maksudkan. Ia tidak menghapus hukum tersebut, melainkan memperluas dan memperdalam pemahamannya. Ia menegaskan bahwa perzinahan bukan sekadar persoalan tubuh, tetapi persoalan mata dan hati.
Perzinahan Dimulai dari Pandangan dan Hasrat
“Yesus berkata: Tetapi Aku berkata kepadamu: setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” (Mat. 5:28)
Ungkapan “Aku berkata kepadamu” muncul dengan penekanan ganda dalam bahasa aslinya, menandakan otoritas unik yang Yesus miliki. Ia tidak sekadar menafsirkan hukum, tetapi menyatakan kebenaran sebagai Sang Firman yang hidup. Ia memulihkan makna asli dari hukum itu: bahwa perzinahan bukan hanya soal tubuh, melainkan tentang hasrat yang melanggar kekudusan.
Kata Yunani epithymeō yang digunakan dalam ayat ini bukan sekadar menunjuk keinginan biasa, tetapi hasrat yang membakar—nafsu seksual yang tidak terkendali. Yesus menekankan bahwa ketika seseorang memandang orang lain dan merangsang pikirannya dengan fantasi seksual, maka ia telah jatuh ke dalam dosa perzinahan—walaupun tidak terjadi kontak fisik sekalipun.
Dalam budaya yang semakin permisif saat ini, peringatan Yesus ini menjadi sangat relevan. Internet, media sosial, dan film telah menjadikan pornografi dan ketelanjangan emosional menjadi konsumsi sehari-hari. Banyak orang meremehkan dosa yang tersembunyi di balik layar, padahal perzinahan di hati sama seriusnya di mata Tuhan seperti perzinahan secara fisik.
Menjaga Mata dan Hati: Tindakan Proaktif dalam Kekudusan
Yesus tidak hanya menyingkapkan akar dosa, Ia juga mengajak kita mengambil tindakan tegas. Ia berkata:
“Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu… Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu…” (Mat. 5:29–30)
Tentu saja, Yesus tidak sedang menganjurkan mutilasi secara harfiah. Ini adalah bentuk hiperbola—gaya bahasa khas Timur Tengah yang menekankan urgensi dan keseriusan. Mata kanan dan tangan kanan, dalam budaya saat itu, adalah simbol kekuatan dan kehormatan. Dengan menyebutkan bagian tubuh yang paling penting, Yesus sedang berkata: Kita harus rela kehilangan apapun yang kita anggap berharga jika itu menyeret kita kepada dosa.
Beberapa orang dalam sejarah memang menafsirkan perintah ini secara literal dan melakukan tindakan ekstrem seperti mengebiri diri atau mencungkil mata. Namun sayangnya, tindakan fisik seperti itu tidak menyentuh akar masalah. Nafsu dan keinginan berdosa tidak berada pada tangan atau mata, tetapi pada hati.
Karena itulah, tindakan preventif yang Yesus maksudkan di sini bersifat rohani dan etis. Kita diminta untuk menjaga pintu masuk hati kita—mata, telinga, pikiran, dan pergaulan. Jika suatu benda, kebiasaan, lingkungan, atau relasi tertentu membuat kita jatuh dalam dosa seksual, maka kita harus berani melepaskannya.
Menata Penampilan, Menjaga Kesucian
Peringatan Yesus juga menyinggung soal tanggung jawab bersama dalam menjaga kekudusan. Dalam budaya di mana standar berpakaian semakin longgar, kita perlu membedakan antara penampilan yang atraktif dengan penampilan yang seduktif. Tuhan menciptakan keindahan dan itu baik. Namun keindahan tidak boleh menjadi umpan bagi orang lain untuk berdosa.
Dalam konteks masyarakat Indonesia yang banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai kesopanan dan agama, sikap hormat terhadap tubuh sendiri dan terhadap sesama sangat penting. Bagi wanita maupun pria Kristen, menjaga penampilan yang pantas bukan soal legalisme, tetapi bentuk kasih kepada sesama agar tidak menjadi batu sandungan.
Menolak Dosa, Memilih Keselamatan
Kekudusan adalah panggilan, bukan pilihan. Dan untuk hidup dalam kekudusan, dibutuhkan tekad yang besar. Yesus menutup bagian ini dengan pesan yang sangat tegas:
“Karena lebih baik bagimu jika satu anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.” (ay. 30)
Keselamatan rohani jauh lebih penting daripada kenyamanan atau kenikmatan sesaat. Jika kita harus kehilangan sesuatu yang kita sukai agar tidak jatuh ke dalam dosa, maka itu adalah pengorbanan yang sepadan. Mungkin itu berarti melepaskan kebiasaan menonton film tertentu, berhenti dari komunitas yang tidak sehat, atau mengatur ulang rutinitas harian kita. Apapun itu, keselamatan kekal jauh lebih bernilai daripada kenikmatan sementara.
Sebagaimana dikatakan dengan indah: Lebih baik masuk surga sambil meraba-raba dalam kebutaan, daripada berlari dengan kedua mata terbuka menuju neraka. Lebih baik tertatih-tatih di jalan kekudusan, daripada melompat dalam kegembiraan ke jurang kebinasaan.
Penutup: Kekudusan sebagai Jalan Hidup
Matius 5:27–30 bukan hanya teguran, melainkan juga panggilan. Panggilan untuk hidup dalam kekudusan, menjaga hati, dan menghormati sesama sebagai ciptaan Allah. Yesus memanggil kita untuk tidak hidup secara dangkal dan legalistik, tetapi dengan kepekaan hati dan kesungguhan untuk menyenangkan Allah.
Perzinahan bukan sekadar persoalan seksual. Itu adalah cermin dari kehidupan rohani yang tidak dijaga. Tetapi melalui kuasa Roh Kudus, setiap orang percaya bisa menang atas godaan. Tuhan tidak memanggil kita untuk sempurna dengan kekuatan sendiri, tetapi untuk hidup bergantung pada kasih karunia-Nya setiap hari.
Hari ini, marilah kita memeriksa mata kita. Apa yang kita lihat setiap hari? Marilah kita menilik hati kita. Apa yang sedang kita simpan di dalamnya? Bila ada sesuatu yang membawa kita menjauh dari Allah, mari kita lepaskan itu sekarang. Karena lebih baik kehilangan sesuatu hari ini, daripada kehilangan hidup kekal bersama-Nya.