Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, mereka berusaha dengan kekuatan sendiri untuk mengatasi akibat dosa mereka. Mereka langsung mengambil daun pohon ara untuk menutupi ketelanjangan mereka (Kej 3:7). Mereka berharap bahwa tindakan ini dapat menyelesaikan dosa mereka. Kenyataannya, mereka tetap harus mengalami hukuman atas dosa-dosa mereka (Kej 3:16-19).
Sama seperti mereka, orang-orang berdosa juga selalu mencari cara untuk menyelamatkan diri mereka. Mereka mencoba menjadikan diri mereka sebagai orang benar dengan cara mendirikan kebenaran mereka sendiri (Rom 10:3). Cara yang mereka pakai bermacam-macam, terutama melalui agama dan perbuatan baik. Mereka berharap dapat memuaskan Allah dengan cara beragama dan berbuat baik. Contoh yang jelas dari sikap ini ditunjukkan oleh orang muda yang datang kepada Yesus dan bertanya kepada-Nya, “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” (Mat 19:16).
Upaya tersebut jelas bertentangan dengan ajaran Alkitab. Efesus 2:8-9 mengajarkan dengan tegas bahwa keselamatan bukan hasil usaha maupun pekerjaan manusia. Keselamatan adalah kasih karunia. Artinya, kita tidak layak menerima, tetapi Allah berkenan memberikan keselamatan kepada kita secara gratis. Roma 3:24 “oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus”. Kita selamat bukan karena berbuat baik. Kita selamat karena kasih karunia Allah.
Kebenaran di atas tidak berarti bahwa Alkitab tidak mengajarkan perbuatan baik. Kita tetap harus berbuat baik, namun semua ini baru bisa kita lakukan sesudah kita diselamatkan. Jadi, kita berbuat baik karena sudah diselamatkan. Perbuatan baik hanyalah ucapan syukur kita atas keselamatan yang sudah kita terima. Inilah keunikan kekristenan dibanding semua agama lain. Agam lain mengajarkan manusia untuk berbuat baik supaya selamat, tetapi Alkitab mengajarkan kita berbuat baik karena sudah diselamatkan.
Penyelidikan Alkitab mandiri
- Ketika Allah melihat bahwa pakaian dari pohon ara tidak memadai untuk menutupi ketelanjangan Adam dan Hawa, apa yang Allah lakukan (Kej 3:21)? Berdasarkan tindakan ini, siapakah yang berhak mengambil inisiatif dan mampu untuk menutupi dosa manusia?
- Seandainya orang berdosa mampu berbuat baik dan menaati Allah dengan sempurna, apakah mereka akan diselamatkan (Rom 2:6-7, 13)?
- Dalam kenyataannya, apakah ada orang yang mampu melakukan hal di atas (Rom 3:9-10, 20)?
- Ketaatan seperti apakah yang dituntut Allah dalam perintah-perintah-Nya (Gal 5:3b; Yak 2:10)? Berdasarkan tuntutan seperti ini, apakah ada orang yang tidak pernah melanggar perintah Allah?
- Ketidakmampuan manusia menaati perintah Allah sebenarnya merupakan hal yang sedikit aneh, karena perintah Allah itu tidak sulit (Ul 30:11; 1Yoh 5:3). Mengapa manusia tidak mampu menaati perintah Allah (Rom 7:14-17)?
- Bagaimana dengan orang-orang yang saleh dalam agama mereka? Apakah mereka layak disebut sebagai orang benar (Rom 2:21-23; 9:31-32; 10:2-3)? Jelaskan!
- Di mata Allah, kebaikan atau kesalehan manusia tampak seperti apa (Yes 64:6)? Mengapa (Im 19:2; 20:7; Mat 5:48; 1Pet 1:15-16)?
- Duluan mana: lahir baru (diciptakan kembali dalam Kristus) atau perbuatan baik (Ef 2:10)? Apa kaitan antara perbuatan baik dan keselamatan kita (Ef 5:8-9; 2Tim 3:17)?
Penerapan konkrit
Ambilah sebuah kertas kosong dan membuat dua kolom di kertas tersebut. Kolom pertama untuk kebaikan yang kita lakukan hari ini, sedangkan kolom kedua untuk dosa-dosa yang kita lakukan (baik pasif maupun aktif). Banyak mana kebaikan dan dosa kita? Apa yang dapat kita simpulkan?
Tugas selama seminggu
Buatlah dialog dengan dua orang Kristen dan dua orang non-Kristen untuk mengetahui pendapat mereka tentang hubungan antara kebaikan dan keselamatan kekal.
Rangkuman
- Jika manusia dapat menaati Allah secara sempurna, maka mereka dapat selamat.
- Kenyataannya, tidak ada satu pun yang bisa, karena mereka semua dikuasai oleh dosa.
- Apa yang mereka lakukan tetap tidak akan pernah bisa memperkenankan hati Allah.
Ayat emas yang harus dihafalkan
Mazmur 130:3 “jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan?”