Oleh: Pdt. Elpiaman Zega
“Dan kamu bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Efesus 6:4
I. PENDAHULUAN: LATAR BELAKANG
Di zaman modern ini, konsep kebapaan mengalami krisis yang serius. Banyak pria yang secara biologis adalah ayah, tetapi secara spiritual dan emosional absen dalam kehidupan anak-anak mereka. Ada ayah yang hanya muncul sebagai penyedia materi—memberi uang, memberi makanan, tetapi tidak hadir dalam membentuk karakter anak. Lebih parah lagi, sebagian ayah sama sekali tidak terlibat—baik secara fisik maupun spiritual.
Menurut berbagai penelitian sosial, ketidakhadiran ayah berkontribusi pada tingginya angka kenakalan remaja, kerusakan moral, dan krisis identitas dalam diri anak-anak. Padahal, peran ayah yang sejati sangat penting dalam membentuk generasi yang takut akan Tuhan. Oleh karena itu, kita perlu kembali kepada Firman Tuhan untuk memahami dan memulihkan kehormatan seorang ayah sesuai dengan panggilan dan rancangan Allah.
II. Eksposisi Ayat: Efesus 6:4
Ketika Paulus menulis, “Dan kamu bapa-bapa…”, ia secara langsung berbicara kepada para ayah. Ini menandakan bahwa peran kepemimpinan dalam mendidik anak-anak tidak boleh dilepaskan sepenuhnya kepada ibu atau orang lain. Dalam konteks budaya Romawi saat itu, ayah memiliki kuasa absolut atas anak-anaknya, bahkan sampai pada hukuman mati. Namun Paulus tidak menguatkan otoritas tersebut secara otoriter, melainkan mengarahkannya kepada kasih dan didikan dalam Tuhan.
Perintah selanjutnya, “Janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu…”, adalah peringatan terhadap pola asuh yang otoriter, kasar, atau tidak bijak, yang dapat melukai hati anak dan membuat mereka pahit atau memberontak. Ini termasuk:
- Mengkritik secara berlebihan
- Mengabaikan emosi anak
- Menjadi tidak konsisten dalam disiplin
Kolose 3:21 memperkuatnya: “Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.” Seorang ayah yang baik adalah ayah yang tahu kapan harus bersikap tegas dan kapan harus menunjukkan kelembutan. Keteladanan Tuhan sebagai Bapa Surgawi adalah dasar dari kebapaan yang benar, seperti yang tertulis dalam Mazmur 103:13.
Selanjutnya, ketika Paulus menuliskan, “Didiklah mereka…”, ia memakai kata dalam bahasa Yunani paideia, yang mencakup disiplin, pelatihan, dan pembentukan karakter. Ini bukan hanya soal memberitahu apa yang benar dan salah, tetapi membentuk kehidupan anak melalui teladan, pembelajaran, dan kasih yang konsisten.
Frasa “di dalam ajaran dan nasihat Tuhan” menggarisbawahi bahwa pendidikan yang sejati harus berakar dalam Firman Tuhan. Ayah dipanggil untuk:
- Mengajarkan Kebenaran Alkitab (Ulangan 6:6–9)
- Membimbing Anak Dalam Takut Akan Tuhan (Amsal 1:7)
- Menjadi Imam Dalam Keluarga (Yosua 24:15)
Kata “ajaran” (nouthesia) berbicara tentang pengarahan moral dan rohani. Ayah yang terhormat bukan hanya guru moral, tetapi juga seorang gembala yang membimbing anak-anaknya kepada Yesus Kristus.
III. APLIKASI: BAGAIMANA MEMULIHKAN KEHORMATAN SEORANG AYAH
1. MENJADI PEMIMPIN ROHANI DALAM KELUARGA
Dalam pandangan Alkitab dan ajaran Reformed, kepemimpinan seorang ayah dalam rumah tangga bukanlah soal dominasi, tetapi tanggung jawab rohani. Ayah dipanggil menjadi imam, nabi, dan raja dalam keluarganya:
- Imam: mendoakan dan mempersembahkan keluarganya kepada Tuhan.
- Nabi: mengajarkan Firman Tuhan kepada anak-anaknya.
- Raja: memimpin dengan kasih, hikmat, dan keteladanan.
Kepemimpinan ini harus dicontohkan dari Yesus Kristus, Sang Kepala Gereja, yang memimpin dengan pengorbanan dan kasih (Efesus 5:23, 25). Seorang ayah yang takut akan Tuhan akan membawa keluarganya untuk mengenal dan mencintai Kristus.
✦ Ayat Pendukung:
- Yosua 24:15 – “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”
- Efesus 5:23 – “Karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat.”
Poin penting:
- Kehormatan Ayah Bukan Datang Dari Otoritas Duniawi, Tetapi Dari Kesetiaan Kepada Kristus.
- Ayah Adalah Imam, Nabi, Dan Raja Di Rumah Tangga: Ia Mendoakan, Menuntun Dengan Firman, Dan Memimpin Dengan Kasih.
- Mulailah Hari-Hari Dengan Doa Bersama Keluarga, Pembacaan Alkitab, Dan Diskusi Rohani.
2. MENJADI TELADAN HIDUP
Dalam ajaran Reformed, iman tidak hanya diajarkan tetapi juga diteladankan. Anak-anak belajar siapa Allah itu melalui sikap dan karakter ayah mereka. Keteladanan adalah bentuk pewarisan iman yang paling kuat.
Yesus sendiri menjadi teladan sempurna dalam ketaatan, kasih, dan kerendahan hati (Filipi 2:5–8). Seorang ayah yang meneladani Kristus akan menampilkan kasih yang berkorban dan hidup yang konsisten dengan ajaran Firman.
- Anak-Anak Belajar Lebih Banyak Dari Tindakan Daripada Kata-Kata.
- Kehidupan Ayah Yang Takut Akan Tuhan Akan Menjadi Cermin Bagi Anak-Anaknya.
Amsal 20:7 mengatakan, “Orang benar yang bersih kelakuannya—berbahagialah keturunannya.”
3. MENJALIN RELASI, BUKAN HANYA MEMBERI INSTRUKSI
Ayah yang sejati tidak hanya berfungsi sebagai pemberi perintah atau otoritas, tetapi sebagai sahabat dan pembimbing. Relasi yang hangat, sabar, dan penuh kasih mencerminkan kasih Allah Bapa kepada kita.
Yesus mencontohkan relasi kasih yang intim dengan murid-murid-Nya—Dia tidak hanya mengajar, tetapi mengasihi, memahami, dan hadir dalam kehidupan mereka (Yohanes 15:15). Dalam konteks rumah tangga, relasi ini dibangun melalui waktu bersama, percakapan, mendengarkan hati anak, serta mendisiplinkan dalam kasih.
- Luangkan waktu bersama anak.
- Dengarkan mereka dengan empati.
- Jadilah sahabat dan mentor, bukan hanya pemberi perintah.
4. MENGASIHI ISTRI DAN MENGHORMATINYA
Kehormatan seorang ayah juga berkaitan erat dengan bagaimana ia memperlakukan istrinya. Dalam Efesus 5:25, suami diperintahkan untuk mengasihi istri seperti Kristus mengasihi jemaat—kasih yang berkorban, menyucikan, dan membangun.
Anak-anak belajar tentang kasih, penghormatan, dan relasi yang sehat melalui interaksi orang tua mereka. Seorang ayah yang menghormati dan mengasihi istrinya sedang memberi contoh nyata tentang kasih Kristus kepada keluarganya.
Dalam pengajaran Reformed, pernikahan adalah gambaran relasi antara Kristus dan Gereja. Maka, seorang ayah yang menghormati istri menunjukkan Injil melalui kehidupannya di rumah.
- Kehormatan Ayah Juga Dipulihkan Ketika Ia Menunjukkan Kasih Kristus Dalam Pernikahan (Efesus 5:25).
- Anak-Anak Belajar Tentang Kasih Dan Otoritas Dari Relasi Ayah Dan Ibu.
IV. PENUTUP: TELADAN BAPA SURGAWI
Pemulihan kehormatan seorang ayah tidak bisa dilakukan hanya dengan usaha manusiawi. Itu hanya mungkin bila ayah tersebut:
- Dilahir barukan oleh Roh Kudus (Yohanes 3:5)
- Dipimpin oleh Firman (2 Timotius 3:16–17)
- Dan hidup bersandar pada kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus (Titus 2:11–12)
Ayah yang sejati adalah ayah yang telah lebih dahulu tunduk kepada Bapa Surgawi dan berjalan setiap hari dalam terang Injil. Kita semua—ayah atau bukan—dapat melihat teladan tertinggi dari kebapaan dalam Allah sendiri. Dialah Bapa yang:
- Mengasihi dengan tanpa syarat (1 Yohanes 3:1)
- Mendisiplinkan dalam kasih (Ibrani 12:6)
- Menuntun dengan sabar (Mazmur 23:1–4)
- Mengorbankan Anak-Nya demi kita (Yohanes 3:16)
Sebagai pria, kita dipanggil bukan hanya menjadi ayah secara biologis, tetapi ayah secara rohani, yang mencerminkan kasih dan kebenaran Bapa Surgawi. Tidak ada kehormatan lebih besar selain menjadi alat Tuhan untuk membentuk generasi yang hidup bagi kemuliaan-Nya.
Soli Deo Gloria