Pendahuluan
Kejadian 1:6–19 merupakan kelanjutan dari narasi penciptaan yang menunjukkan bagaimana Allah menata dunia secara bertahap, teratur, dan penuh tujuan. Jika Kejadian 1:1–2 memperlihatkan tindakan awal Allah dalam menciptakan langit dan bumi, serta Kejadian 1:3–5 menampilkan penciptaan terang dan pemisahan terang dari gelap, maka Kejadian 1:6–19 menjelaskan bagaimana Allah melanjutkan karya-Nya dengan membentuk ruang kehidupan melalui pemisahan air, penampakan daratan, pertumbuhan tumbuh-tumbuhan, serta penetapan benda-benda penerang di langit.
Bagian ini mencakup hari kedua, hari ketiga, dan hari keempat dalam rangkaian penciptaan. Pada hari kedua, Allah menciptakan cakrawala untuk memisahkan air yang di atas dari air yang di bawah. Pada hari ketiga, Allah mengumpulkan air ke satu tempat sehingga daratan tampak, lalu menumbuhkan berbagai tumbuhan di atas bumi. Pada hari keempat, Allah menetapkan benda-benda penerang di cakrawala untuk memisahkan siang dan malam serta mengatur waktu, musim, dan hari.
Secara teologis, bagian ini tidak hanya menjelaskan proses penciptaan secara naratif, tetapi juga menyatakan kedaulatan Allah atas unsur-unsur alam yang dalam dunia kuno sering dipandang sebagai kekuatan ilahi atau bahkan objek penyembahan. Langit, air, laut, tanah, tumbuhan, matahari, bulan, dan bintang tidak berdiri sebagai kuasa yang mandiri. Semuanya adalah ciptaan Allah, ditetapkan oleh firman-Nya, dan berfungsi sesuai maksud-Nya.
Hari Kedua: Cakrawala dan Pemisahan Air
Kejadian 1:6–8 mencatat tindakan Allah pada hari kedua, yaitu menciptakan cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air. Salah satu istilah penting dalam bagian ini adalah kata yang diterjemahkan sebagai “cakrawala”. Istilah ini sering dipahami secara berbeda oleh para penafsir. Ada yang memahaminya sebagai atmosfer, ada pula yang menghubungkannya dengan langit yang tampak dari perspektif manusia sehari-hari.
Dalam konteks Kejadian 1, cakrawala tidak perlu dipahami sebagai istilah ilmiah modern. Penulis Alkitab tidak sedang memberikan uraian astronomi atau meteorologi secara teknis, melainkan menyampaikan realitas penciptaan dari sudut pandang pengalaman manusia. Cakrawala adalah ruang yang tampak sebagai langit, tempat benda-benda penerang kelak ditempatkan dan tempat burung-burung terbang. Dengan demikian, istilah ini lebih bersifat fenomenologis, yaitu menggambarkan dunia sebagaimana dilihat dalam pengalaman sehari-hari.
Tindakan Allah menciptakan cakrawala memiliki makna teologis yang kuat. Dalam banyak pandangan kosmologis kuno, langit dianggap sebagai wilayah kekuasaan para dewa. Hujan, guntur, awan, dan langit sering dihubungkan dengan kuasa ilahi tertentu. Namun, Kejadian 1 menyatakan bahwa langit bukanlah dewa dan tidak boleh disembah. Langit adalah ciptaan Allah. Bahkan Allah sendiri yang memberi nama “langit” kepada cakrawala. Tindakan memberi nama ini menunjukkan otoritas Allah atas ciptaan tersebut.
Air yang di Atas dan Air yang di Bawah
Fungsi utama cakrawala adalah memisahkan air yang di atas dari air yang di bawah. Air yang di bawah dapat dipahami sebagai air yang kemudian dikumpulkan menjadi laut. Sementara itu, air yang di atas kemungkinan besar menunjuk pada air yang berada di awan, yang kemudian berkaitan dengan hujan. Dalam pemahaman Alkitab, hujan terjadi bukan karena kuasa dewa-dewa kesuburan, tetapi karena Allah membuka langit dan mengatur alam sesuai kehendak-Nya.
Pemisahan air ini menunjukkan dua sisi karya Allah. Pertama, Allah berkuasa atas unsur yang tampak kacau dan mengancam. Dalam Kejadian 1:2, bumi digambarkan tertutup air dan belum siap dihuni. Melalui penciptaan cakrawala, Allah mulai menata kondisi tersebut. Kedua, tindakan ini menunjukkan kasih Allah karena pemisahan air mempersiapkan bumi menjadi tempat yang layak bagi kehidupan. Tanpa pemisahan dan pengaturan air, daratan tidak dapat muncul, tumbuh-tumbuhan tidak dapat hidup, dan manusia tidak memiliki tempat tinggal.
Menariknya, pada hari kedua tidak terdapat pernyataan “Allah melihat bahwa semuanya itu baik”. Ketidakhadiran ungkapan ini tampaknya bukan kebetulan. Salah satu kemungkinan adalah bahwa tindakan pada hari kedua masih bersifat awal dan belum selesai secara fungsional. Pemisahan air baru akan mencapai kelengkapannya pada hari ketiga ketika air di bawah dikumpulkan dan daratan mulai tampak. Karena itu, penilaian “baik” muncul kemudian dalam hari ketiga, bahkan sebanyak dua kali, setelah struktur kehidupan di bumi menjadi lebih jelas.
Hari Ketiga: Laut, Darat, dan Tumbuh-tumbuhan
Pada hari ketiga, Allah melakukan dua tindakan penting. Pertama, Ia mengumpulkan air di bawah langit ke satu tempat sehingga daratan tampak. Kedua, Ia memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Kedua tindakan ini saling berkaitan karena daratan yang tampak menjadi ruang bagi tumbuhan untuk bertumbuh dan menyediakan makanan bagi makhluk hidup.
Penciptaan laut dan darat pada hari ketiga sebaiknya dipahami sebagai tindakan penataan, bukan penciptaan dari ketiadaan. Air sudah disebutkan sebelumnya dalam Kejadian 1:2, dan pada hari kedua air telah dipisahkan. Pada hari ketiga, Allah mengatur air tersebut agar berkumpul pada tempatnya, sehingga daratan dapat terlihat. Dengan demikian, karya Allah terlihat sebagai tindakan memberi batas, fungsi, dan tempat bagi ciptaan.
Dalam dunia kuno, laut sering menjadi simbol ketakutan dan kekacauan. Banyak bangsa memiliki mitos tentang monster laut atau kekuatan samudera yang menakutkan. Sungai besar juga sering dipandang sebagai sumber kehidupan dan kadang dijadikan objek pemujaan. Kejadian 1 menolak pemahaman tersebut. Laut, sungai, dan air bukan kuasa ilahi. Allah mengumpulkan air, membatasi laut, dan menetapkan daratan. Ia adalah Penguasa sejati atas semua unsur alam.
Bagi bangsa Israel, pesan ini sangat relevan. Allah yang berkuasa atas air dalam penciptaan adalah Allah yang sama yang membelah Laut Teberau, memimpin umat-Nya melewati Sungai Yordan, dan memberikan tanah perjanjian. Dengan kata lain, penciptaan bukan hanya kisah tentang masa lampau, tetapi dasar iman bagi umat Allah dalam menghadapi perjalanan, ancaman, dan janji yang harus mereka percayai.
Tumbuh-tumbuhan dan Pemeliharaan Allah
Tindakan kedua pada hari ketiga adalah perintah Allah agar bumi menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Bagian ini memperlihatkan perhatian khusus Allah terhadap daratan sebagai tempat tinggal manusia dan makhluk hidup lainnya. Allah tidak hanya menyediakan ruang, tetapi juga menyediakan sumber kehidupan. Tumbuhan menjadi bagian penting dari sistem pemeliharaan Allah atas ciptaan.
Dalam Kejadian 1:11–12, tumbuh-tumbuhan digambarkan menghasilkan biji dan buah menurut jenisnya. Istilah “biji” atau “benih” memiliki makna penting dalam keseluruhan Alkitab, khususnya dalam Pentateukh. Benih menunjuk pada kesinambungan hidup. Allah tidak menciptakan segala sesuatu secara statis, tetapi memberi ciptaan kemampuan untuk berkembang, berbuah, dan melanjutkan kehidupan.
Penyebutan “menurut jenisnya” juga penting. Ungkapan ini menunjukkan bahwa Allah menciptakan keteraturan dalam ciptaan. Tumbuhan berkembang sesuai tatanan yang ditetapkan Allah. Namun, istilah “jenis” tidak perlu disamakan secara kaku dengan kategori spesies dalam ilmu biologi modern. Yang ditekankan adalah bahwa ciptaan memiliki pola, batas, dan keteraturan yang berasal dari Allah.
Menarik pula bahwa Allah memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tumbuhan. Ini menunjukkan adanya kerja sama antara aspek alamiah dan aspek ilahi. Secara alamiah, tumbuhan muncul dari tanah, memiliki biji, dan berkembang menurut jenisnya. Namun, secara teologis, semua itu terjadi karena firman Allah. Alam bekerja bukan secara mandiri di luar Allah, tetapi karena Allah menopang dan mengatur prosesnya.
Pemahaman ini berbeda dari kepercayaan bangsa-bangsa kafir yang mengaitkan kesuburan tanah dengan dewa atau dewi tertentu. Alkitab menegaskan bahwa tanah menghasilkan tumbuhan bukan karena kekuatan dewi bumi, ritual kesuburan, atau aktivitas para dewa, tetapi karena firman Allah yang berkuasa. Dengan demikian, kehidupan dan kesuburan berasal dari Allah, bukan dari ciptaan yang disembah manusia.
Hari Keempat: Benda-benda Penerang di Langit
Kejadian 1:14–19 mencatat tindakan Allah pada hari keempat, yaitu menetapkan benda-benda penerang di cakrawala. Bagian ini memiliki posisi penting dalam narasi penciptaan karena terletak di tengah rangkaian hari penciptaan dan dibahas dengan cukup panjang. Penekanan ini tampaknya disengaja karena benda-benda langit memiliki posisi penting dalam kehidupan keagamaan bangsa-bangsa kuno.
Dalam banyak budaya kuno, matahari, bulan, dan bintang disembah sebagai dewa atau dianggap memiliki kuasa menentukan nasib manusia. Matahari sering dipandang sebagai dewa kehidupan, bulan dikaitkan dengan ritme waktu dan kesuburan, sedangkan bintang-bintang dipahami sebagai penentu arah hidup manusia. Kejadian 1 menentang pandangan tersebut secara tegas. Matahari, bulan, dan bintang bukanlah ilah. Mereka hanyalah benda penerang yang diciptakan Allah dan diberi fungsi tertentu.
Menariknya, teks Kejadian tidak menyebut matahari dan bulan dengan nama umum yang dapat dikaitkan dengan nama dewa-dewa kuno. Sebaliknya, teks menyebutnya sebagai benda penerang yang besar dan benda penerang yang kecil. Dengan cara ini, narasi Alkitab seolah-olah mengurangi status benda-benda langit yang pada masa itu sering diagungkan. Mereka tidak disebut sebagai pribadi ilahi, melainkan sebagai ciptaan yang melayani bumi.
Fungsi Benda-benda Penerang
Penekanan utama hari keempat bukan terletak pada kemegahan benda-benda langit, tetapi pada fungsinya. Benda-benda penerang ditetapkan untuk memisahkan siang dan malam, menjadi tanda bagi musim, hari, dan tahun, serta menerangi bumi. Dengan demikian, matahari, bulan, dan bintang bukan objek penyembahan, melainkan alat yang ditetapkan Allah untuk melayani keteraturan ciptaan.
Fungsi ini memperlihatkan bahwa waktu juga berada di bawah kedaulatan Allah. Hari, musim, tahun, dan ritme kehidupan tidak berjalan secara liar, tetapi berada dalam pengaturan-Nya. Bagi manusia, keteraturan waktu sangat penting untuk pertanian, perjalanan, ibadah, dan kehidupan sosial. Karena itu, benda-benda penerang menjadi sarana pemeliharaan Allah bagi kehidupan manusia di bumi.
Hubungan antara terang pada hari pertama dan benda-benda penerang pada hari keempat juga perlu dipahami dengan hati-hati. Terang sudah ada pada hari pertama, sedangkan pada hari keempat Allah menetapkan benda-benda penerang untuk menjalankan fungsi pengaturan. Dengan demikian, hari keempat tidak harus dipahami sebagai awal keberadaan terang secara mutlak, melainkan sebagai penataan fungsi terang dalam siklus waktu yang teratur.
Secara teologis, hal ini menegaskan bahwa Allah bukan hanya menciptakan realitas, tetapi juga menetapkan fungsi bagi realitas tersebut. Ciptaan tidak sekadar ada, tetapi memiliki tujuan. Matahari tidak untuk disembah, tetapi untuk menerangi dan mengatur waktu. Bulan dan bintang tidak untuk menentukan nasib manusia, tetapi menjadi bagian dari tatanan ciptaan yang melayani kehidupan.
Polemik terhadap Penyembahan Berhala
Kejadian 1:6–19 secara keseluruhan mengandung polemik yang kuat terhadap penyembahan berhala. Langit bukan dewa. Laut bukan kekuatan ilahi yang harus ditakuti. Tanah bukan dewi kesuburan. Matahari, bulan, dan bintang bukan penentu nasib. Semua unsur alam adalah ciptaan Allah dan berada di bawah otoritas-Nya.
Pesan ini penting bagi Israel karena mereka hidup di tengah bangsa-bangsa yang sangat akrab dengan penyembahan terhadap kekuatan alam. Musa berkali-kali memperingatkan Israel agar tidak menyembah benda-benda langit. Peringatan ini beralasan karena manusia mudah kagum pada ciptaan dan melupakan Pencipta. Kejadian 1 mengarahkan kekaguman manusia kepada arah yang benar: ciptaan memang indah dan berguna, tetapi hanya Allah yang layak disembah.
Dalam konteks masa kini, pesan ini tetap relevan. Penyembahan berhala tidak selalu berbentuk pemujaan matahari atau bulan secara harfiah. Manusia modern dapat menjadikan alam, teknologi, ilmu pengetahuan, materi, kekuasaan, atau keberhasilan sebagai pusat hidup. Kejadian 1 mengingatkan bahwa segala sesuatu yang diciptakan tidak boleh menggantikan posisi Allah.
Kesimpulan
Kejadian 1:6–19 memperlihatkan Allah sebagai Pencipta yang berdaulat, tertib, dan penuh kasih. Pada hari kedua, Allah menciptakan cakrawala untuk memisahkan air yang di atas dan air yang di bawah. Pada hari ketiga, Allah mengumpulkan air sehingga daratan tampak, lalu menumbuhkan tumbuh-tumbuhan sebagai sumber kehidupan. Pada hari keempat, Allah menetapkan benda-benda penerang di langit untuk mengatur siang, malam, musim, hari, dan tahun.
Seluruh tindakan ini menunjukkan bahwa penciptaan bukanlah proses yang kacau atau tanpa arah. Allah menata dunia menjadi tempat yang layak dihuni. Ia memberi batas pada air, menetapkan daratan, menyediakan makanan melalui tumbuhan, dan mengatur waktu melalui benda-benda penerang. Semua ciptaan memiliki fungsi karena Allah menetapkannya demikian.
Bagian ini juga menegaskan bahwa tidak ada unsur alam yang layak disembah. Langit, laut, tanah, matahari, bulan, dan bintang adalah ciptaan, bukan Pencipta. Mereka melayani maksud Allah dan menunjang kehidupan manusia. Karena itu, manusia dipanggil untuk mengarahkan penyembahan hanya kepada Allah, Sang Pencipta langit dan bumi.
Dengan memahami Kejadian 1:6–19, umat percaya diajak melihat dunia sebagai ciptaan yang tertata oleh Allah. Alam bukan objek ketakutan atau pemujaan, melainkan ruang pemeliharaan Allah. Terang, langit, air, tanah, tumbuhan, matahari, bulan, dan bintang semuanya menyatakan keteraturan dan kebaikan Allah. Melalui ciptaan, manusia dipanggil untuk mengenal kebesaran Allah, bersyukur atas pemeliharaan-Nya, dan hidup dalam ketaatan kepada Dia yang berkuasa atas segala sesuatu.