Gereja adalah keluarga besar, dan keluarga adalah gereja kecil. Prinsip pertumbuhan yang berlaku dalam gereja juga berlaku dalam keluarga. Kerohanian sejati seseorang dapat dilihat dari kehidupan sehari-harinya, terutama dalam interaksi dengan anggota keluarganya. Jika kita ingin mengukur pertumbuhan iman seseorang, tanyakanlah kepada mereka yang hidup bersamanya setiap hari. Keluarga menjadi tempat paling jujur untuk melihat karakter dan kedewasaan rohani seseorang.
Teks Efesus 4:16 sebenarnya berbicara tentang pertumbuhan gereja sebagai tubuh Kristus. Namun, prinsip yang diajarkan oleh Paulus juga dapat diterapkan dalam keluarga. Sama seperti gereja harus bertumbuh, demikian pula keluarga. Setiap anggota keluarga, seperti halnya setiap anggota tubuh Kristus, harus mengalami pertumbuhan yang berkesinambungan.
Kristus sebagai Sumber Pertumbuhan (16)
Efesus 4:16 menekankan bahwa pertumbuhan tubuh Kristus terjadi melalui dua aspek: aspek pasif yang dikerjakan oleh Kristus dan aspek aktif yang dikerjakan oleh setiap anggota tubuh. Keduanya harus berjalan bersamaan agar pertumbuhan terjadi secara sehat dan harmonis.
Karya Kristus dalam Pertumbuhan Keluarga (16a)
Peranan sentral Kristus dalam pertumbuhan keluarga terlihat jelas dalam berbagai aspek. Ayat 16 dimulai dengan frasa “daripada-Nyalah”, yang menunjukkan bahwa kesatuan dan pertumbuhan berasal dari Kristus. Kata-kata yang digunakan Paulus dalam ayat ini menunjukkan bahwa Kristus adalah sumber utama yang menopang dan memelihara pertumbuhan.
Paulus menggunakan dua istilah Yunani yang menggambarkan karya Kristus dalam membangun gereja dan keluarga: synarmologeomai (rapi tersusun) dan symbibazō (terikat menjadi satu). Kata pertama menggambarkan bagaimana setiap bagian telah dirancang secara khusus untuk saling melengkapi, seperti sebuah bangunan yang dibangun dengan teliti. Demikian juga dalam keluarga, setiap anggota memiliki peran yang unik, dan Allah telah menempatkan mereka sesuai dengan kehendak-Nya. Tidak ada anggota keluarga yang hadir secara kebetulan. Semua telah diatur oleh Allah untuk saling melengkapi dan membangun satu sama lain.
Kata kedua, symbibazō, berarti “mengikat menjadi satu.” Paulus menggunakan istilah ini untuk menggambarkan bagaimana kasih dan kesatuan mempersatukan tubuh Kristus. Dalam konteks keluarga, kasih merupakan perekat yang menyatukan setiap anggota. Tanpa kasih, keluarga akan mudah terpecah belah oleh perbedaan dan konflik.
Bentuk kata kerja yang digunakan dalam ayat ini juga menunjukkan bahwa pekerjaan Kristus bersifat terus-menerus. Kristus tidak hanya menciptakan kesesuaian dan kesatuan dalam keluarga, tetapi Ia juga terus bekerja untuk memelihara dan memperkokoh hubungan di dalamnya. Hal ini mengajarkan bahwa keluarga harus selalu bersandar kepada Kristus dalam segala aspek kehidupannya.
Peran Anggota Keluarga dalam Pertumbuhan (16b)
Meskipun Kristus adalah sumber pertumbuhan, setiap anggota keluarga juga memiliki tanggung jawab aktif dalam membangun keluarga yang sehat dan harmonis. Efesus 4:16 menyatakan bahwa setiap anggota harus bekerja “sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota.” Artinya, setiap orang dalam keluarga memiliki peran dan kontribusi yang tidak bisa diabaikan.
- Bekerja Sesuai dengan Peran Masing-Masing
Kata energeia yang digunakan Paulus dalam ayat ini menunjukkan bahwa pertumbuhan keluarga harus terjadi secara aktif dan dinamis. Setiap anggota keluarga harus menjalankan perannya dengan penuh kesungguhan dan tanggung jawab. Tidak ada satu pun yang boleh merasa tidak berperan dalam membangun keluarga.
Dalam kehidupan keluarga, sering kali terjadi ketimpangan peran. Ada yang terlalu dominan, ada pula yang pasif dan tidak mau terlibat. Padahal, keluarga yang sehat adalah keluarga yang setiap anggotanya saling melengkapi dan bekerja sama. Orang tua memiliki peran sebagai pemimpin dan teladan, sedangkan anak-anak diajak untuk belajar tanggung jawab dan kemandirian dalam suasana kasih.
- Membangun Diri dalam Kasih
Pertumbuhan keluarga yang sejati hanya bisa terjadi dalam kasih. Paulus menegaskan bahwa seluruh tubuh harus “membangun dirinya dalam kasih.” Kasih adalah dasar yang menjaga kesatuan dan keharmonisan keluarga. Tanpa kasih, keberagaman dalam keluarga bisa menjadi sumber konflik. Namun, dengan kasih, perbedaan menjadi kekayaan yang memperkaya relasi.
Kasih yang dimaksud di sini bukan sekadar perasaan, tetapi tindakan nyata yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Kasih yang sejati mencakup pengorbanan, kesabaran, dan pengampunan. Dalam keluarga, ada kalanya kita perlu menegur dan menasihati satu sama lain, tetapi harus dilakukan dengan kasih. Teguran yang penuh kasih membangun, sedangkan teguran yang kasar dan penuh emosi dapat merusak hubungan.
Paulus dalam ayat 15 sebelumnya juga menekankan pentingnya “berpegang teguh pada kebenaran di dalam kasih.” Hal ini mengajarkan bahwa kasih tidak boleh terpisah dari kebenaran. Dalam keluarga, mengasihi bukan berarti memanjakan atau mengabaikan kesalahan. Sebaliknya, kasih yang sejati selalu berlandaskan kebenaran dan diarahkan untuk pertumbuhan setiap anggota.
Kesimpulan
Keluarga yang bertumbuh dalam Kristus adalah keluarga yang hidup dalam kesatuan dan kasih, dengan Kristus sebagai pusatnya. Pertumbuhan ini terjadi melalui karya Kristus yang terus-menerus memelihara dan menopang keluarga, serta melalui peran aktif setiap anggota dalam menjalankan tanggung jawabnya. Dengan meneladani prinsip-prinsip yang diajarkan Paulus dalam Efesus 4:16, setiap keluarga Kristen dapat mengalami pertumbuhan rohani yang sehat dan menjadi berkat bagi sesama.