KEMBALI PADA INJIL: MERAYAKAN

https://gkaanugerah.org/wp-content/uploads/2023/05/On9HFe2jcYAdLaoP2RfmOVG1pyebdsncngrev4NJ.mp3

Beberapa hasil riset di lapangan menunjukkan bahwa orang-orang Kristen di Amerika tidak hidup sepadan dengan Injil. Mereka justru mengadopsi gaya hidup yang bertabrakan dengan nilai-nilai Injil, misalnya munafik, suka menghakimi, menarik diri dari dunia, kurang peduli. Jumlah dan tingkat dosa mereka juga tidak berbeda dengan dunia. Contoh: angka perceraian, kekerasan dalam rumah tangga maupun perselingkuhan di antara orang-orang Kristen nyaris sama dengan yang bukan Kristen.

Situasi ini dalam banyak hal sangat mudah dimengerti. Ketika Injil tidak lagi dianggap penting, segala sesuatu yang bertentangan dengannya juga akan muncul tanpa bisa kendalikan. Mereka yang tidak dihidupkan oleh Injil dan tidak hidup untuk Injil pasti akan menjadi seteru Injil (Flp. 3:18-19). Mereka akan mengejar hal-hal yang sementara dan jasmaniah, yang hanya menawarkan kenyamanan duniawi semata-mata.

Hanya ada satu solusi untuk persoalan ini: kembali meletakkan Injil pada pusat kehidupan kita. Gaya hidup yang berpusat pada Injil berarti merayakan keberhargaan Kristus dan penebusan-Nya bagi kita dengan cara menjadikan Injil sebagai perspektif, dorongan, dan kekuatan dalam melakukan apapun. Definisi ini mengandung 5 (lima) poin penting yang akan diulas secara berurutan di bab-bab selanjutnya. Untuk kali ini kita hanya berfokus pada poin pertama: merayakan.

Kata “merayakan” berarti memeringati sesuatu dengan khusus dan sukacita. Ada pikiran yang mengingat sesuatu, ada sikap hati yang bersukacita. Ketika pikiran tertuju pada betapa luar biasanya keselamatan di dalam Kristus, hati akan terbakar oleh sukacita surgawi. Dua hal ini tidak terpisahkan.

Contoh konkrit untuk hal ini ditunjukkan melalui gaya hidup jemaat mula-mula. Setiap hari mereka memecahkan roti bersama-sama dengan gembira (Kis. 2:46). Memecahkan roti jelas merujuk pada peringatan tentang kematian Tuhan. Kebiasaan ini mereka lakukan dengan sukacita.

Mengingat (karya keselamatan dari Allah) dan bersukacita (sebagai rasa syukur atas keselamatan tersebut) merupakan disiplin rohani yang perlahan semakin dilupakan. Banyak orang lebih mudah bersukacita karena mendapatkan uang, kekayaan, promosi jabatan, popularitas, dan sebagainya. Bahkan yang dijadikan fokus dalam puji-pujian di banyak gereja bukan lagi karya penebusan Kristus, melainkan berkat-berkat jasmani. Tidak heran ketika hal-hal jasmaniah itu lenyap, mereka mudah kehilangan sukacita.

Kecenderungan ini bertabrakan dengan prinsip Alkitab. Kita harus menjadikan keselamatan sebagai alasan sukacita. Zakheus menerima Yesus dengan sukacita (Luk. 19:6). Dalam perumpamaan tentang domba, dirham dan anak yang hilang, setiap kisah diakhiri dengan sebuah pesta tanda sukacita (Luk. 15:5-7, 8-10, 22-24, 32). Kepala penjara di Filipi beserta seluruh keluarganya bersukacita atas keselamatan yang mereka terima di dalam Kristus (Kis. 16:34). Maria bernyanyi; “Hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku” (Luk. 1:47).

Mengapa kita perlu merayakan keselamatan di dalam Kristus dengan sukacita? Pertama, penebusan Kristus adalah solusi untuk persoalan dan ketakutan manusia yang terbesar. Persoalan manusia yang terbesar – yaitu dosa – sudah dibereskan di atas kayu salib, dan ketakutan manusia yang terbesar – yaitu maut – sudah dikalahkan di dalam kubur kosong. Jika yang terbesar saja sudah diatasi, tidak ada alasan untuk kuatir dan takut dengan yang lainnya. Semua yang kita perlukan untuk menghidupi keselamatan dengan baik pasti akan disediakan oleh Allah. Paulus berkata: “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Rm. 8:32).

Kedua, tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus. Apa saja bisa terjadi pada kita: penindasan, kegagalan, kehancuran, bahkan kematian. Namun, tidak ada satupun yang dapat membatalkan kasih Kristus bagi kita (Rm. 8:35-39). Kita akan aman-aman saja di dalam Dia (Yoh. 10:28-29). Itulah sebabnya perumus Katekismus Heidelberg mengajarkan bahwa penghiburan satu-satunya dalam kehidupan dan kematian adalah bahwa kita menjadi milik Kristus yang sudah membayar semua dosa kita dan memelihara kita sedemikian rupa, sehingga melalui Roh Kudus kita mendapatkan jaminan di dalam Dia (Q & A #1).

STUDI ALKITAB MANDIRI

Bacalah Lukas 19:1-10, setelah itu jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!  

  1. Mengapa Zakheus mau dan suka menjadi seorang kepala pemungut cukai padahal dengan jabatan itu dia pasti dibenci banyak orang (ayat 2)?
  2. Apa reaksi Zakheus setelah mengetahui bahwa Yesus akan menumpang di rumahnya (ayat 5-6)?
  3. Sehubungan dengan pertanyaan nomor 1 (ayat 2), seberapa besarkah pertobatan Zakheus (ayat 8)?
  4. Inti dari kisah ini sebenarnya siapa mencari siapa (ayat 3-4, 10)?  

 AYAT HAFALAN

Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya! (Yes. 25:9)

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

  1. Apa saja yang seringkali menghalangi Anda untuk bersukacita?
  2. Bagaimana perintah untuk bersukacita senantiasa (Flp. 4:4) dapat kita hidupi?
  3. Apa saja yang Anda biasa lakukan untuk merayakan karya penebusan Kristus?

PROYEK ROHANI

Hafalkan 5 ayat Alkitab yang berkaitan dengan kematian dan/atau kebangkitan Kristus.

Sumber: MODUL DISCIPLESHIP GROUP REFORMED EXODUS COMMUNITY