KEROHANIAN SEMU: MORALISME

https://gkaanugerah.org/wp-content/uploads/2023/06/qXpPdD8NaVcNP4NIh641WKDNoTzZaEp8u4KLdBmj.mp3

Orang-orang Kristen seharusnya dikenal sebagai orang-orang yang baik. Ajaran kekristenan sangat menekankan kasih, bahkan kepada musuh sekalipun (Mat. 5:44). Kita dinasihati untuk tidak segan-segan melangkah lebih jauh daripada yang diharapkan orang dari kita (Mat. 5:40-41).

Dalam kenyataan memang cukup banyak orang Kristen yang benar-benar berusaha untuk berbuat baik. Mereka berupaya begitu rupa untuk memerangi dosa. Memperkenankan hati Allah menjadi tujuan hidup mereka. Hasilnya? Mereka menjadi teladan yang begitu nyata di sekeliling mereka.

Walaupun perbuatan baik memegang peranan sentral dalam kekristenan, kita tidak boleh terjebak pada moralisme. Dalam kaitan dengan kehidupan yang berpusat pada Injil, istilah “moralisme” merujuk pada sebuah keyakinan bahwa kasih, perkenanan dan penerimaan Allah atas kita ditentukan oleh perbuatan baik kita. Kadar kebaikan dan berkat Allah berbanding sejajar dengan ketaatan kita kepada-Nya. Semakin taat, semakin banyak berkat. Semakin mengasihi Allah, semakin kita dikasihi oleh Allah.

Moralisme merupakan bahaya yang samar tetapi fatal. Kita perlu mengerti ciri-ciri moralisme supaya tidak terjebak ke dalamnya. Moralisme mengajarkan perbuatan baik tanpa dilandaskan pada penebusan Kristus yang sempurna dan beranugerah bagi kita. Yang dicari hanyalah nasihat-nasihat kehidupan yang terlihat bijak. Kebaikan hanya diukur dari manfaat positif bagi orang lain atau kesesuaian dengan prinsip-prinsip moral yang berlaku secara umum. Intinya adalah menciptakan sebuah kehidupan yang lebih baik berdasarkan petuah-petuah moral yang bijaksana dan inspiratif.

Moralisme mendiagnosa persoalan-persoalan kita hanya sebatas masalah sifat, pola asuh, tingkah-laku, pengalaman tertentu, atau keadaan. Yang disorot adalah hal-hal yang ada di permukaan. Tidak heran solusi yang ditawarkan juga sebatas menangani gejala yang muncul. Jenis solusi yang digandrungi adalah tips praktis, sugesti diri dan penciptaan kebiasaan yang baru.

Moralisme cenderung menekankan teks-teks Alkitab yang praktis. Bagian Alkitab yang dianggap penting adalah yang bisa langsung diterapkan. Para pengikutnya memiliki kerohanian yang pragmatis: kesalehan lebih ditekankan daripada ajaran.

Mengapa moralisme bertentangan dengan Injil Yesus Kristus?

Pertama, moralisme berpotensi mengaburkan keunikan kekristenan. Tanpa dikaitkan dengan penebusan Kristus, perbuatan baik yang dilakukan orang percaya tidak berbeda dengan perbuatan baik yang dilakukan oleh orang-orang lain. Ini jelas bertabrakan dengan kebiasaan para penulis Alkitab yang mendasarkan nasihat praktis pada doktrin penebusan Kristus. Sebagai contoh, kepada jemaat Korintus yang jatuh ke dalam dosa percabulan, Paulus mengingatkan bahwa tubuh mereka telah lunas dibayar di kayu salib (1Kor. 6:20). Kepada beberapa jemaat di Roma yang suka memusingkan hal-hal kecil dan mencari kesalahan orang lain, Paulus memberi nasihat: “Janganlah engkau membinasakan saudaramu oleh karena makananmu, karena Kristus telah mati untuk dia” (Rm. 14:15b).

Kedua, moralisme membuat karya penebusan Kristus terlihat konyol. Jika manusia berdosa hanya membutuhkan petuah bijak, tips praktis, sugesti diri dan kebiasaan yang positif, untuk apa Allah sampai menjadi manusia dan mati secara mengenaskan di kayu salib? Jika moralisme benar, Allah pasti dari dulu sudah menambahkan aturan-aturan tambahan atau mengirimkan orang-orang saleh yang sangat bermoral. Kematian Kristus di atas kayu salib bukan lagi menjadi pagelaran kasih terbesar, tetapi lawakan akbar sepanjang zaman.

Ketiga, moralisme hanya akan melahirkan kegagalan dan kekecewaan, bahkan keputusasaan. Menangani gejala-gejala saja tidak akan pernah menuntaskan suatu masalah. Rasa tenang sementara yang ditimbulkan justru membahayakan. Kita perlu menyadari bahwa semua persoalan manusia adalah persoalan hati. Tullian Tchividjian mengatakan: “the heart of the human problem is the problem of human heart”. Kristus sendiri mengajarkan bahwa segala yang jahat muncul dari dalam hati (Mat. 15:19). Jika ini yang menjadi akar masalah, hanya darah Kristus yang bisa menyucikannya (Ibr. 9:14).

STUDI ALKITAB MANDIRI

Bacalah 1 Korintus 6:12-20, setelah itu jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Apa yang dimaksud dengan nasihat praktis yang sangat bijak di ayat 12?
  2. Berapa kali Paulus mengaitkan nasihat praktis tersebut dengan doktrin tentang Kristus (Kristologi), terutama dengan kematian dan kebangkitan-Nya? Jelaskan!
  3. Mana yang lebih ditekankan oleh Paulus dalam teks ini: apa yang dilakukan oleh Allah melalui Kristus atau apa yang seharusnya dilakukan oleh jemaat Korintus? Jelaskan!

 AYAT HAFALAN

 Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! (1 Korintus 6:20)

 PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

  1. Bayangkan Si X sedang diperlakukan secara tidak adil oleh orang. Kira-kira nasihat apa yang akan diberikan oleh penganut moralisme & alasan-alasan di baliknya? Terangkan juga solusi yang mungkin akan ditawarkan.
  2. Bagaimana Anda menolong Si X sesuai dengan prinsip Injil?
  3. Mengapa banyak orang Kristen mudah terjebak pada bahaya moralisme?

PROYEK ROHANI

Pikirkan orang yang dekat dengan Anda yang sedang memiliki persoalan. Cobalah untuk menelepon dan menghibur dia dengan muatan Injil yang jelas (bukan sekadar moralisme).