Dalam kehidupan bersama, relasi yang sehat tidak hanya dibangun oleh kedekatan, kesamaan minat, atau banyaknya interaksi. Relasi yang benar juga membutuhkan kasih, kesopanan, dan sikap saling menghormati. Tanpa kasih yang tulus, kedekatan dapat berubah menjadi sikap saling memanfaatkan. Tanpa kesopanan, keakraban dapat berubah menjadi perkataan yang melukai. Tanpa hormat, relasi dapat dipenuhi sikap meremehkan, menjatuhkan, bahkan mempermalukan sesama.
Melalui Roma 12:9–10, Rasul Paulus menasihati jemaat agar kasih Kristen tidak berhenti sebagai konsep rohani, tetapi nyata dalam cara hidup sehari-hari. Kasih kepada Allah harus tampak dalam cara seseorang berbicara, merespons, menasihati, bekerja sama, dan memperlakukan orang lain. Karena itu, kesopanan dan hormat bukan sekadar aturan sosial, melainkan bagian dari kesaksian iman. Jemaat dipanggil membangun budaya yang tidak merendahkan, tetapi saling menghargai sebagai wujud nyata kasih Kristus.
1. Hormat yang Benar Lahir dari Kasih yang Tulus — Roma 12:9: “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura!”
Paulus membuka nasihatnya dengan kalimat, “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura!” Pernyataan ini singkat, tetapi sangat mendasar. Dalam bahasa Yunani, kata “kasih” adalah agapē, yaitu kasih yang aktif, tulus, dan mengusahakan kebaikan orang lain. Kasih seperti ini tidak hanya muncul ketika keadaan menyenangkan, tetapi tetap bekerja bahkan ketika seseorang harus bersabar, mengampuni, atau menahan diri.
Sementara itu, “jangan pura-pura” berasal dari anypokritos, yang berarti tidak munafik, tidak berpura-pura, dan tidak memakai topeng. Dengan demikian, Paulus menegaskan bahwa kasih Kristen harus lahir dari hati yang benar. Kasih tidak boleh menjadi sekadar basa-basi, tampilan luar, atau sopan santun yang hanya dilakukan untuk menjaga citra.
Secara teologis, kesopanan Kristen bukan hanya etika lahiriah. Kesopanan lahir dari kesadaran bahwa setiap manusia diciptakan Allah dan berharga di hadapan-Nya. Sikap hormat yang sejati tidak dilakukan hanya agar seseorang terlihat baik, tetapi karena ia melihat sesama sebagai pribadi yang dikasihi Tuhan. Karena itu, orang percaya tidak boleh mudah merendahkan, mempermalukan, atau memperlakukan orang lain seolah-olah nilainya ditentukan oleh status, pendidikan, ekonomi, usia, jabatan, atau latar belakang.
Dalam kehidupan sehari-hari, jemaat diajak menjaga ketulusan dalam berbicara, melayani, menasihati, dan berelasi. Nasihat yang benar perlu disampaikan dengan kasih. Teguran yang perlu harus diberikan tanpa menghina. Perbedaan pendapat harus dikelola tanpa menjatuhkan martabat sesama. Komunitas yang sehat terbentuk ketika kasih tidak menjadi topeng, tetapi nyata dalam sikap yang menghargai dan membangun.
2. Kesopanan Menolak Sikap Jahat dan Memilih yang Baik — Roma 12:9b: “Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.”
Paulus melanjutkan, “Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.” Nasihat ini menunjukkan bahwa kasih yang tulus selalu memiliki arah moral yang jelas. Kasih Kristen bukan kasih yang membiarkan kejahatan, tetapi kasih yang menolak segala sesuatu yang merusak kehidupan bersama.
Dalam bahasa Yunani, kata “jauhilah” berasal dari apostygountes, yang berarti membenci dengan sungguh-sungguh atau menjauhkan diri secara tegas. Kata “jahat” adalah ponēron, yang menunjuk pada hal-hal yang merusak, mencemari, dan melukai. Dalam konteks relasi, kejahatan dapat muncul dalam bentuk perkataan kasar, sindiran tajam, fitnah, gosip, penghinaan, sikap meremehkan, atau komentar yang mempermalukan orang lain.
Sebaliknya, “lakukanlah yang baik” berkaitan dengan kollōmenoi tō agathō, yang berarti melekat erat pada kebaikan. Artinya, orang percaya tidak cukup hanya menghindari yang jahat. Ia juga dipanggil aktif memilih, membangun, dan menyatakan kebaikan. Kesopanan Kristen bukan sikap pasif, melainkan tindakan iman yang sadar: memilih kata-kata yang menguatkan, memilih respons yang damai, dan memilih tindakan yang membawa pemulihan.
Dalam kehidupan sehari-hari, jemaat diajak menjaga sopan santun dalam ucapan, ekspresi, komentar, media sosial, dan tindakan. Di era komunikasi yang cepat, banyak orang mudah menulis atau mengucapkan sesuatu tanpa memikirkan dampaknya. Firman Tuhan mengingatkan bahwa setiap perkataan memiliki kuasa: dapat membangun, tetapi juga dapat melukai. Karena itu, kesopanan bukan kelemahan, melainkan kekuatan rohani untuk mengendalikan diri dan menghadirkan karakter Kristus.
3. Komunitas Kristen Dibangun dengan Saling Mendahului dalam Hormat — Roma 12:10: “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.”
Roma 12:10 menegaskan, “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.” Kata “saling mengasihi sebagai saudara” berasal dari philadelphia, yaitu kasih persaudaraan yang hangat, dekat, dan penuh perhatian. Paulus menggambarkan gereja bukan sebagai perkumpulan orang asing, melainkan sebagai keluarga Allah.
Sementara itu, “memberi hormat” berasal dari timē, yang berarti penghargaan, kehormatan, dan pengakuan atas nilai seseorang. Ungkapan “saling mendahului” menunjukkan sikap aktif. Orang percaya tidak menunggu dihargai terlebih dahulu baru menghargai. Ia mengambil inisiatif untuk menghormati, mendengar, menyapa, memperhatikan, dan memperlakukan sesama dengan layak.
Secara teologis, gereja adalah tubuh Kristus. Setiap anggota memiliki nilai, fungsi, dan tempat di hadapan Tuhan. Karena itu, tidak ada dasar bagi jemaat untuk saling meremehkan. Yang kuat tidak boleh menghina yang lemah. Yang lebih berpengalaman tidak boleh memandang rendah yang baru belajar. Yang memiliki jabatan tidak boleh memperlakukan orang lain tanpa hormat. Sebaliknya, setiap orang dipanggil untuk membangun budaya saling menghargai.
Dalam kehidupan sehari-hari, sikap hormat dapat terlihat melalui hal-hal sederhana: mendengar dengan sabar, tidak memotong pembicaraan, menyampaikan kritik dengan santun, menghargai pelayanan orang lain, tidak mempermalukan sesama di depan umum, dan tidak menjadikan kelemahan seseorang sebagai bahan pembicaraan. Budaya hormat membuat komunitas menjadi hangat, aman, dan membangun.
Penutup
Melalui Roma 12:9–10, jemaat diingatkan bahwa kesopanan dan hormat dalam relasi adalah bagian penting dari karakter Kristen. Kasih harus tulus, kejahatan harus dijauhi, kebaikan harus dilakukan, dan sesama harus dihormati sebagai saudara di dalam Kristus. Kesopanan bukan hanya tata krama, melainkan buah dari kasih yang bekerja di dalam hati.
Karena itu, gereja dipanggil menjadi komunitas yang tidak saling menjatuhkan, tidak kasar dalam perkataan, dan tidak meremehkan siapa pun. Sikap saling menghargai akan menumbuhkan relasi yang sehat, damai, dan penuh kasih. Ketika jemaat hidup dalam kesopanan dan hormat, kasih Kristus menjadi nyata melalui cara mereka berbicara, bersikap, dan memperlakukan sesama.