Pelayanan Kristen tidak dimulai ketika seseorang berdiri di mimbar, berangkat ke daerah pelayanan, membagikan bantuan, atau mengikuti kegiatan misi. Pelayanan dimulai ketika cara kita melihat manusia mulai dibentuk oleh cara Kristus melihat manusia. Mata dapat melihat kerumunan, kebutuhan, kemiskinan, penyakit, konflik, atau berbagai persoalan hidup. Namun, Kristus melihat lebih dalam. Ia melihat pribadi-pribadi yang berharga di hadapan Allah dan membutuhkan pertolongan, pengharapan, kebenaran, serta tuntunan.
Matius 9:35–38 memperlihatkan bagaimana Yesus hadir di tengah masyarakat. Ia tidak menjaga jarak dari kehidupan manusia. Ia datang ke kota dan desa, mengajar, memberitakan Injil Kerajaan Allah, menyembuhkan, lalu memandang orang banyak dengan belas kasihan. Dari pandangan itulah muncul panggilan mengenai tuaian dan kebutuhan akan para pekerja. Urutannya penting. Sebelum berbicara tentang pekerja, Yesus terlebih dahulu menunjukkan bagaimana seorang pekerja Allah seharusnya melihat manusia.
1. Yesus melayani manusia secara menyeluruh (ay. 35)
Matius menggambarkan Yesus berkeliling ke berbagai kota dan desa. Pelayanan-Nya mencakup tiga tindakan utama: mengajar, memberitakan Injil Kerajaan Sorga, dan menyembuhkan berbagai penyakit serta kelemahan. Ketiga tindakan ini memperlihatkan bahwa perhatian Yesus menyentuh kehidupan manusia secara utuh.
Melalui pengajaran, Yesus menolong orang memahami kehendak Allah. Melalui pemberitaan Injil Kerajaan Allah, Ia membawa kabar tentang pemerintahan dan keselamatan Allah. Melalui penyembuhan, Ia menunjukkan perhatian nyata terhadap penderitaan manusia. Kebenaran yang disampaikan Yesus tidak terpisah dari kepedulian terhadap keadaan orang yang menerima kebenaran itu.
Pola ini penting bagi gereja. Pelayanan tidak seharusnya memandang manusia hanya berdasarkan satu kebutuhan. Seseorang mungkin membutuhkan penguatan iman, tetapi pada saat yang sama sedang menghadapi kesulitan keluarga, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, atau tekanan hidup. Gereja memang tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan manusia, tetapi gereja dipanggil untuk hadir dengan sikap yang memperlakukan manusia sebagai pribadi yang utuh.
Karena itu, pelayanan yang mengikuti teladan Kristus tidak sekadar bertanya, “Apa yang dapat kita kerjakan?” Pertanyaan yang lebih mendasar ialah, “Siapa yang sedang kita layani, dan apa yang sedang mereka alami?” Pertanyaan seperti ini menjaga pelayanan agar tidak berubah menjadi kegiatan rutin yang kehilangan hubungan dengan kehidupan nyata.
2. Yesus melihat orang banyak dengan belas kasihan (ay. 36)
Hal yang sangat menentukan dalam perikop ini terdapat pada cara Yesus memandang orang banyak. Matius menulis bahwa “tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan”. Yesus tidak melihat mereka sebagai massa tanpa wajah. Ia memahami keadaan mereka yang kelelahan, terlantar, dan kehilangan tuntunan seperti kawanan domba tanpa gembala.
Belas kasihan Kristus bukan sekadar rasa iba sesaat. Belas kasihan membuat-Nya mendekat dan bertindak. Di sinilah misi menemukan dasar yang benar. Pelayanan yang hanya digerakkan kewajiban mudah menjadi beban. Pelayanan yang hanya mengejar program mudah menjadikan manusia sebagai angka keberhasilan. Pelayanan yang lahir dari belas kasihan akan tetap melihat nilai seseorang meskipun ia belum berubah, belum merespons, atau bahkan tidak mampu membalas kebaikan yang diterimanya.
Cara pandang ini perlu terus dibentuk dalam kehidupan jemaat. Di sekitar kita terdapat orang yang tampak baik-baik saja, tetapi sebenarnya sedang kehilangan arah. Ada keluarga yang menyimpan persoalan, anak muda yang membutuhkan pendampingan, orang tua yang merasa sendiri, pekerja yang hidup dalam tekanan, dan banyak orang yang membutuhkan seseorang untuk mendengarkan mereka dengan sungguh-sungguh.
Melihat dengan mata Kristus berarti belajar berhenti memberi label terlalu cepat. Orang bukan sekadar “bermasalah”, “sulit”, “miskin”, “tidak aktif”, atau “belum percaya”. Mereka adalah manusia yang memiliki cerita, pergumulan, luka, harapan, dan martabat. Belas kasihan menolong gereja melihat kebutuhan tanpa merendahkan orang yang membutuhkan pertolongan.
3. Yesus memerintahkan murid-murid berdoa bagi para pekerja (ay. 37–38)
Setelah memperlihatkan keadaan orang banyak, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” Ia kemudian memerintahkan mereka untuk “mintalah kepada tuan yang empunya tuaian” agar mengirimkan pekerja.
Menariknya, tanggapan pertama terhadap besarnya kebutuhan bukan kesibukan, melainkan doa. Yesus mengarahkan perhatian para murid kepada Allah sebagai pemilik tuaian. Pelayanan bukan proyek pribadi manusia. Ladang adalah milik Tuhan, dan Tuhanlah yang memanggil serta mengutus para pekerja.
Namun, doa seperti ini tidak seharusnya membuat seseorang hanya menunggu orang lain bergerak. Dalam kelanjutan narasi Injil Matius, para murid yang diminta berdoa kemudian menjadi orang-orang yang diutus. Doa membuka hati untuk mendengar panggilan Allah dan membentuk kesediaan untuk mengambil bagian.
Karena itu, ketika gereja berdoa bagi pelayanan, pertanyaan yang patut muncul bukan hanya, “Tuhan, siapa yang akan Engkau kirim?” tetapi juga, “Tuhan, apakah Engkau hendak memakai saya?” Tidak semua orang dipanggil ke tempat yang jauh. Ladang Tuhan dapat berada di rumah, tempat kerja, sekolah, kampus, lingkungan tempat tinggal, komunitas, atau gereja sendiri.
Melihat ladang dengan mata Kristus berarti membiarkan hati kita disentuh oleh apa yang Kristus lihat. Ketika pandangan berubah, sikap berubah. Ketika belas kasihan tumbuh, pelayanan tidak lagi terasa sebagai kewajiban semata. Kita mulai menyadari bahwa di balik setiap wajah ada kehidupan yang berharga bagi Allah.
Sebelum kaki kita pergi, mata kita perlu belajar melihat. Sebelum tangan kita bekerja, hati kita perlu belajar berbelas kasih. Sebelum meminta Tuhan mengirim pekerja, kita perlu bersedia menjawab ketika ternyata kitalah yang sedang Dia panggil.