Persembahan sering dipahami hanya sebagai bagian dari tata ibadah atau kewajiban rutin jemaat. Padahal, Roma 10:13–15 menunjukkan bahwa pemberian memiliki hubungan erat dengan misi Allah. Melalui persembahan, jemaat ikut menopang pemberitaan Injil, mendukung para pelayan Tuhan, dan membuka jalan agar lebih banyak orang mendengar kabar keselamatan dalam Kristus.
Rasul Paulus menyusun alur yang jelas. Orang diselamatkan ketika berseru kepada Tuhan. Namun, mereka hanya dapat berseru jika percaya. Mereka dapat percaya setelah mendengar berita tentang Kristus. Mereka dapat mendengar apabila ada yang memberitakan. Sementara itu, para pemberita dapat pergi apabila mereka diutus. Karena itu, pengutusan bukan hanya tanggung jawab orang yang pergi. Jemaat yang berdoa, memberi, dan menopang juga ikut mengambil bagian.
Setiap Orang yang Berseru kepada Tuhan Akan Diselamatkan
Roma 10:13
“Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” (LAI TB)
Ayat ini menegaskan luasnya kasih dan anugerah Allah. Keselamatan tidak dibatasi oleh suku, status sosial, pendidikan, kekayaan, atau masa lalu seseorang. Kata “barangsiapa” menunjukkan bahwa undangan keselamatan terbuka bagi semua orang. Siapa pun yang datang kepada Tuhan dalam iman memperoleh pengharapan akan keselamatan dari-Nya.
Dalam bahasa Yunani, kata “berseru” berasal dari kata epikaleō. Kata ini tidak hanya berarti menyebut nama Tuhan secara lisan, tetapi juga memanggil, memohon pertolongan, dan menyerahkan diri kepada-Nya. Berseru kepada Tuhan merupakan tindakan iman. Seseorang mengakui kebutuhannya akan anugerah Allah dan percaya bahwa Tuhan sanggup menyelamatkan.
Namun, masih banyak orang yang belum mengenal kasih Allah di dalam Kristus. Ada yang hidup dalam ketakutan, kehilangan arah, terikat rasa bersalah, atau tidak memiliki pengharapan. Mereka membutuhkan kabar bahwa Allah mengasihi manusia dan menyediakan keselamatan melalui Yesus Kristus.
Di sinilah gereja menerima panggilannya. Gereja tidak dipanggil hanya untuk menikmati keselamatan bagi dirinya sendiri. Anugerah yang telah diterima perlu dibagikan. Melalui persembahan, jemaat dapat mendukung pelayanan kepada anak-anak, keluarga, masyarakat terpencil, orang sakit, kelompok yang terpinggirkan, serta mereka yang belum pernah mendengar Injil. Pemberian sederhana pun dapat dipakai Tuhan untuk menghadirkan harapan.
Mereka Dapat Percaya Setelah Mendengar Injil
Roma 10:14
“Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia?” (LAI TB)
Paulus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang saling berkaitan. Ini bukan sekadar gaya bahasa, melainkan penjelasan tentang proses seseorang mengenal keselamatan. Manusia perlu mendengar tentang Kristus agar dapat percaya kepada-Nya. Karena itu, pemberitaan Injil memiliki tempat penting dalam misi gereja.
Kata “mendengar” dalam bahasa Yunani memakai kata akouō. Maknanya bukan hanya menerima bunyi melalui telinga, tetapi mendengarkan dengan perhatian dan memahami pesan. Dalam konteks ini, orang perlu memperoleh kesempatan untuk mendengar berita yang jelas tentang siapa Yesus Kristus, apa yang telah dikerjakan-Nya, dan bagaimana keselamatan diterima melalui iman.
Kata “percaya” berasal dari kata Yunani pisteuō. Kata ini berarti memercayai, mengandalkan, dan menyerahkan diri kepada pihak yang dipercayai. Iman kepada Kristus bukan sekadar mengetahui informasi tentang Yesus. Iman berarti menerima-Nya sebagai Tuhan dan menjadikan karya keselamatan-Nya sebagai dasar pengharapan hidup.
Selanjutnya, kata “memberitakan” berkaitan dengan istilah Yunani kērussō, yang berarti menyampaikan berita penting secara terbuka dan penuh keyakinan. Pemberita Injil bukan sedang menyampaikan pendapat pribadi, melainkan kabar tentang karya keselamatan Allah di dalam Kristus.
Pemberitaan Injil dapat dilakukan melalui khotbah, pengajaran, kesaksian, pelayanan pendidikan, media komunikasi, pendampingan keluarga, pelayanan sosial melalui khotbah, pengajaran, kesaksian, pelayanan pendidikan, dan perjumpaan sehari-hari. Bentuknya beragam, tetapi pusatnya tetap sama, yaitu memperkenalkan kasih Allah dan mengarahkan manusia kepada Kristus.
Pelayanan tersebut membutuhkan sarana dan dukungan, seperti bahan pengajaran, transportasi, tempat pelayanan, media komunikasi, pelatihan, dan bantuan bagi masyarakat yang dilayani. Karena itu, persembahan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan organisasi gereja. Persembahan menjadi sarana agar firman Tuhan dapat diberitakan dan didengar.
Ketika jemaat memahami hal ini, memberi tidak lagi dipandang sebagai beban. Persembahan menjadi ungkapan syukur karena jemaat telah lebih dahulu menerima kasih karunia Allah. Jemaat memberi bukan untuk membeli keselamatan atau memperoleh pujian, melainkan agar orang lain juga mendapat kesempatan untuk mendengar dan percaya.
Para Pemberita Dapat Pergi Apabila Diutus dan Ditopang
Roma 10:14–15
“Jika mereka tidak diutus?” (LAI TB)
Ayat ini menunjukkan bahwa pemberitaan Injil memerlukan orang yang bersedia pergi. Namun, orang yang pergi juga memerlukan pengutusan dan dukungan. Dalam bahasa Yunani, kata “diutus” berasal dari apostellō, yang berarti mengirim seseorang dengan tugas dan tujuan tertentu.
Kata apostellō menekankan bahwa pelayanan bukan perjalanan tanpa arah. Seorang pelayan diutus untuk menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan Allah melalui komunitas iman. Ia tidak hanya pergi atas keinginannya sendiri, tetapi membawa tugas, pesan, dan tanggung jawab pelayanan.
Roma 10:15 juga menggambarkan indahnya kedatangan para pembawa kabar baik. Ungkapan “membawa kabar baik” berkaitan dengan kata euangelizō, yaitu menyampaikan berita yang menggembirakan. Injil adalah kabar baik karena di dalam Kristus manusia memperoleh pengampunan, pendamaian dengan Allah, dan kehidupan baru.
Pengutusan membutuhkan kerja sama. Ada orang yang pergi, berdoa, mengajar, mengelola pelayanan, dan menopang melalui persembahan. Semua bagian saling melengkapi. Orang yang memberi dan orang yang pergi bukan dua kelompok terpisah. Keduanya menjadi rekan sekerja dalam misi Allah.
Jemaat mungkin tidak hadir langsung di tempat pelayanan yang jauh. Namun, melalui doa dan pemberian, jemaat ikut hadir dalam karya tersebut. Persembahan dapat membantu perjalanan pelayan, menyediakan bahan pengajaran, mendukung pembinaan iman, atau membuka pelayanan di wilayah yang belum terjangkau.
Memberi sebagai Bagian dari Pengutusan
Penegasan Perikop: Roma 10:13–15
Roma 10:13–15 memperlihatkan satu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan: berseru, percaya, mendengar, diberitakan, dan diutus. Persembahan mengambil tempat penting karena membantu pengutusan dan pemberitaan berlangsung secara berkelanjutan.
Memberi bukan terutama mengenai besar atau kecilnya jumlah, melainkan ketulusan dan kesediaan mengambil bagian. Pemberian yang dilakukan dengan iman dapat dipakai Tuhan untuk menjangkau kehidupan yang mungkin tidak pernah kita temui. Melalui persembahan, jemaat seakan berkata, “Pergilah, beritakanlah kabar baik, dan bawalah pengharapan kepada mereka yang membutuhkan.”
Tidak semua orang dipanggil pergi ke tempat yang jauh. Namun, setiap orang percaya dipanggil untuk terlibat. Ada yang pergi dengan langkahnya, menopang dengan doanya, dan menguatkan pelayanan melalui pemberiannya.
Pada akhirnya, memberi bukanlah kehilangan. Memberi adalah kesempatan untuk terlibat dalam karya Allah yang lebih besar daripada kepentingan diri sendiri. Ketika jemaat memberi dengan tulus, Injil dapat diberitakan, para pelayan dikuatkan, pelayanan terus berlangsung, dan lebih banyak orang memperoleh kesempatan mendengar kabar keselamatan dalam Kristus.
Memberi berarti ikut menopang. Memberi berarti ikut melayani. Memberi berarti ikut diutus.