Dalam kehidupan pernikahan, sering kali cinta hanya dipandang sebagai perasaan romantis antara dua orang. Padahal, cinta kepada pasangan juga merupakan bagian dari kasih kepada sesama manusia. Suami dan istri bukan hanya pasangan hidup, tetapi juga sesama manusia yang memiliki harkat, martabat, dan kehidupan pribadi yang patut dihargai.
1. Mengasihi Pasangan sebagai Sesama Manusia
Yesus berkata:
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:39).
Ayat ini menegaskan bahwa cinta kepada pasangan harus berakar pada penghargaan terhadap kemanusiaan. Menuntut pasangan untuk selalu memenuhi keinginan pribadi, mengontrol kehidupannya, atau memperlakukannya seperti “milik pribadi” bukanlah cinta. Itu bentuk pelecehan terhadap martabatnya sebagai manusia.
Dalam pernikahan, pasangan tetaplah pribadi yang utuh, bukan boneka, bukan bayangan dari diri kita sendiri. Ia memiliki ruang, waktu, tanggung jawab, dan panggilan hidupnya masing-masing. Maka kasih sejati tidak mengurung, tetapi memberi ruang untuk bertumbuh bersama.
2. Mencintai Diri Sendiri Adalah Awal untuk Mengasihi Pasangan
Yesus tidak hanya memerintahkan kita mengasihi sesama, tetapi “seperti dirimu sendiri”. Artinya, kita tidak bisa benar-benar mengasihi orang lain—termasuk pasangan—jika kita sendiri tidak memahami nilai diri kita sebagai ciptaan Allah.
Dalam konteks pernikahan:
- Suami atau istri yang sehat secara rohani dan emosional akan lebih mudah mengasihi dengan tulus, bukan menuntut.
- Ketika seseorang menghargai dirinya sebagai ciptaan Allah, ia juga akan menghargai pasangannya sebagai ciptaan yang sama berharganya.
Pernikahan yang sehat dimulai dari dua pribadi yang sehat—yang tahu siapa dirinya di hadapan Allah, sehingga mampu saling mengasihi dengan benar.
3. Kasih yang Nyata Tercermin dalam Tindakan
Cinta bukan sekadar kata manis atau janji setia di hari pernikahan. Kasih sejati diwujudkan dalam tindakan yang membangun, mendukung, dan menghormati pasangan setiap hari.
Mencintai pasangan berarti:
- Melakukan hal-hal yang baik baginya, bukan hanya saat suasana hati sedang baik.
- Memberi perhatian yang tulus, bukan karena kewajiban semata.
- Menopang dalam masa sulit, bukan hanya saat segala sesuatu berjalan lancar.
Kasih horizontal seperti ini menjadi cermin dari kasih vertikal—karena siapa yang mengasihi Allah, akan mengasihi sesamanya.
4. Kasih Tidak Berakhir Meski Perasaan Berubah
Perasaan manusia tidak selalu stabil. Ada masa di mana perasaan cinta terasa membara, ada juga masa di mana perasaan itu terasa redup. Namun kasih yang berakar pada firman Allah tidak mudah goyah.
“Kasih tidak berkesudahan” (1 Korintus 13:8a).
Cinta dalam pernikahan bukan hanya tentang perasaan sesaat, melainkan komitmen untuk tetap menghormati dan mengasihi pasangan sebagai sesama manusia. Bahkan ketika konflik terjadi, penghargaan terhadap kemanusiaan pasangan harus tetap dipertahankan. Kasih bukan berarti tidak ada perbedaan, tetapi mampu bertahan melewati perbedaan dengan kasih.
Perikop Ayat Hafalan & Renungan
Filipi 2:3–4
“Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”
Ayat ini mengajarkan bahwa kasih sejati dalam relasi—termasuk pernikahan—lahir dari kerendahan hati, saling menghormati, dan mengutamakan kebaikan pasangan, bukan hanya keinginan diri sendiri.
Penutup: Kasih Horizontal yang Mencerminkan Kasih Kristus
Kasih kepada pasangan adalah wujud nyata kasih kepada sesama manusia. Ketika suami dan istri saling menghormati sebagai pribadi yang diciptakan Allah, mereka tidak hanya membangun rumah tangga yang kuat, tetapi juga menjadi cermin kasih Kristus bagi dunia.
Kasih yang benar:
- Menghormati martabat pasangan,
- Tidak memaksa, tetapi memberi ruang,
- Tidak mementingkan diri sendiri, tetapi mengutamakan kasih,
- Tidak berhenti ketika perasaan berubah, tetapi berdiri di atas komitmen.
Kasih horizontal yang berakar pada kasih vertikal akan menghasilkan pernikahan yang sehat, dewasa, dan menjadi kesaksian hidup bagi banyak orang.