Dalam dunia yang telah rusak oleh dosa, menghindari masalah adalah harapan yang tidak realistis. Suami dan istri, sebagai manusia berdosa, membawa kelemahan masing-masing ke dalam pernikahan. Ketika mereka hidup bersama dalam dunia yang penuh dengan kesalahan, konflik dan persoalan menjadi hal yang tak terhindarkan. Oleh karena itu, persoalan bukan sesuatu yang harus dihindari atau disangkal, melainkan dihadapi dan dimanfaatkan untuk mendatangkan kebaikan.
Persoalan Sebagai Sarana Kebaikan
Tuhan memiliki maksud yang baik dalam segala sesuatu, termasuk persoalan pernikahan. Roma 8:28 menyatakan, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” Ayat ini menegaskan bahwa persoalan dalam pernikahan, jika diresponi dengan benar, dapat menjadi sarana pembentukan karakter, peningkatan iman, dan penguatan hubungan suami-istri. Namun, manfaat ini hanya dapat dirasakan jika pasangan mau belajar memprediksi dan memanfaatkan persoalan dengan bijak.
Memprediksi Persoalan-Persoalan Umum
Sebagian besar persoalan yang menyebabkan kehancuran pernikahan sebenarnya tidak baru. Masalah yang muncul sering kali serupa dari satu pasangan ke pasangan lain. Persoalan menjadi sulit diatasi karena banyak pasangan tidak menyadari bahwa masalah-masalah ini adalah hal yang umum terjadi dalam pernikahan. Mereka kerap terjebak dalam fantasi bahwa pernikahan adalah kehidupan yang sempurna tanpa konflik. Berikut adalah persoalan-persoalan umum yang perlu diwaspadai:
- Krisis Kehidupan Pribadi yang Belum Selesai. Banyak individu membawa luka emosional atau pengalaman traumatis ke dalam pernikahan. Ketidaksadaran atau kegagalan untuk menyelesaikan masalah ini dapat memengaruhi hubungan suami-istri secara negatif. Citra diri yang buruk, baik terlalu rendah maupun terlalu tinggi, sering menjadi akar konflik.
- Krisis Fase Kehidupan. Setiap individu menghadapi fase-fase tertentu dalam hidup yang dapat memicu krisis. Misalnya, istri yang mulai merasa kehilangan daya tarik di usia 40 tahun, sementara suami sedang berada di puncak karier. Atau suami yang menghadapi kecemasan menjelang pensiun.
- Kesalahan Prioritas dan Nilai Hidup. Beberapa pasangan menjadikan ambisi pribadi atau materi sebagai prioritas utama, sehingga kebahagiaan keluarga terabaikan. Nilai-nilai hidup yang salah sering kali menjadi sumber konflik yang berlarut-larut.
- Perbedaan yang Belum Terselesaikan. Perbedaan iman, konsep pengelolaan keuangan, cara mendidik anak, hingga doktrin teologi yang ekstrim dapat menjadi konflik besar jika tidak dikelola dengan baik.
- Perbedaan Karakter dan Pola Asuh. Perbedaan temperamen, sifat, dan latar belakang keluarga sering kali dipandang sebagai ancaman daripada kekayaan yang melengkapi. Hal ini menciptakan jarak emosional di antara pasangan.
- Kesulitan Ekonomi. Persoalan finansial sering kali menjadi penyebab utama kehancuran pernikahan. Ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar atau perbedaan pandangan tentang pengelolaan uang dapat memicu konflik serius.
- Intervensi Keluarga Besar. Tekanan dari keluarga besar, baik berupa kompetisi maupun intervensi langsung dalam urusan rumah tangga, dapat mengganggu harmoni pernikahan.
Respon yang Keliru terhadap Persoalan
Cara pasangan meresponi persoalan sangat menentukan kualitas hubungan mereka. Sayangnya, banyak pasangan yang meresponi masalah dengan cara yang keliru, sehingga memperburuk situasi. Berikut adalah beberapa respon yang sering ditemukan:
- Menyangkali Masalah. Sebagian orang memilih untuk menutupi masalah mereka karena malu atau tidak ingin menghadapi kenyataan.
- Menghindari Diskusi Sensitif. Pasangan menghindari diskusi tentang hal-hal yang dapat memicu konflik, tetapi hal ini justru menciptakan jarak emosional.
- Bersikap Skeptis atau Putus Asa. Ketika masalah terus-menerus terjadi, beberapa pasangan menjadi kehilangan harapan dan enggan mencari solusi.
- Menunggu Pasangan Lain Memulai. Banyak pasangan menunggu pasangannya untuk mengambil inisiatif, yang sering kali memperpanjang konflik.
- Mengutamakan Prinsip 50-50. Prinsip ini terlihat adil, tetapi dalam praktiknya, masing-masing pasangan sering merasa telah melakukan lebih banyak daripada yang lain.
- Beradu Kekuatan. Konflik sering kali menjadi ajang perebutan kekuasaan, di mana pasangan menggunakan berbagai cara untuk memenangkan argumen.
Memanfaatkan Persoalan untuk Pertumbuhan
Roma 8:28 menegaskan bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan. Namun, ini hanya berlaku bagi mereka yang mau meresponi persoalan dengan sikap yang benar. Berikut adalah langkah-langkah untuk memanfaatkan persoalan sebagai sarana pertumbuhan:
- Mengakui Keberadaan Masalah. Pasangan harus menyadari bahwa persoalan adalah bagian normal dari pernikahan. Kesadaran ini membantu mereka untuk menghadapi masalah dengan sikap yang lebih tenang.
- Mensyukuri Persoalan. 1 Petrus 4:12-13 mengingatkan kita untuk bersyukur dalam menghadapi ujian. Persoalan adalah bagian dari rencana Tuhan untuk membentuk karakter dan iman.
- Bertumbuh Melalui Persoalan. Pernikahan adalah sekolah iman tanpa wisuda. Pasangan yang menghadapi persoalan dengan benar akan menjadi lebih dewasa secara rohani (Roma 5:3-5; Yakobus 1:2-4).
- Menjadi Mitra yang Baik. Suami dan istri harus saling mendukung dalam menghadapi kelemahan masing-masing. Prinsip “besi menajamkan besi” (Amsal 27:17) menjadi relevan dalam konteks ini.
- Menerima Pasangan Apa Adanya. Dalam beberapa kasus, kelemahan pasangan mungkin tidak dapat diubah. Roma 14:1 dan Roma 15:7 mengajarkan kita untuk menerima orang lain sebagaimana Kristus menerima kita.
Kesimpulan
Persoalan dalam pernikahan adalah hal yang wajar dan tidak dapat dihindari. Namun, dengan memprediksi dan meresponi persoalan dengan bijak, pasangan dapat memanfaatkan masalah sebagai sarana untuk bertumbuh dalam iman, mempererat hubungan, dan mencerminkan kasih Kristus. Dengan cara ini, pernikahan tidak hanya menjadi tempat yang nyaman, tetapi juga menjadi alat untuk menggenapi rencana Tuhan di dunia ini.