Ketika kita memutuskan untuk menjadi bagian dari gereja, kita melangkah ke dalam sebuah komunitas yang memiliki tujuan mulia, yaitu mewujudkan kasih Kristus dan membagikan pengharapan kepada dunia. Gereja adalah tempat kita bertumbuh, bersekutu, dan belajar bersama, tetapi juga tempat kita menghadapi kenyataan bahwa gereja—sebagai tubuh Kristus—masih berada dalam proses penyempurnaan. Ketidaksempurnaan ini, meski sering membuat kita kecewa, justru menjadi ruang anugerah bagi kita untuk berproses, mengasihi, dan berkembang bersama.
Ketidaksempurnaan dalam Gereja: Realita yang Tidak Terhindarkan
Setiap orang yang sungguh-sungguh mengasihi gereja pasti pernah mengalami kekecewaan. Ketika kita pertama kali datang ke gereja, kita membawa harapan besar akan persekutuan yang ideal, yaitu sebuah tempat di mana setiap orang mengasihi satu sama lain, di mana program-program gereja selalu tepat sasaran, di mana pelayanan dilakukan dengan sempurna, dan di mana semua anggota jemaat hidup dalam kasih dan kesatuan. Namun, kenyataannya seringkali jauh dari harapan ini. Tidak jarang kita menemui gesekan antar pribadi, pelayanan yang kurang memadai, bahkan pengambilan keputusan yang membingungkan.
Kekecewaan ini bisa memicu perasaan ingin mundur dari gereja, mencari komunitas yang lebih “sempurna,” atau bahkan merasa bahwa gereja yang kita cintai tidak sesuai dengan harapan kita. Tetapi, Firman Tuhan menegur kita dalam Roma 3:23: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Ini adalah pengingat bahwa setiap individu di dalam gereja, termasuk kita, adalah orang yang berdosa yang sedang dalam proses pemulihan. Ketidaksempurnaan yang kita temui di gereja bukanlah alasan untuk meninggalkan gereja, melainkan bagian dari proses Tuhan yang ingin membentuk kita lebih menjadi seperti Kristus. Kita harus mengingat bahwa gereja adalah tempat di mana kasih karunia Tuhan bekerja dengan cara yang paling nyata dan transformatif.
Gereja sebagai Rumah Pemulihan: Mengasihi di Tengah Ketidaksempurnaan
Seringkali, kita menganggap gereja sebagai tempat yang harus sempurna, tetapi sebenarnya gereja adalah tempat pemulihan, tempat jiwa-jiwa yang terluka dan cacat menemukan penyembuhan. Gereja bukanlah pameran kesempurnaan yang statis, tetapi lebih menyerupai rumah sakit jiwa atau bengkel pemulihan di mana kasih karunia Allah bekerja untuk menyembuhkan dan membentuk umat-Nya. Seperti yang dikatakan dalam 2 Korintus 5:17, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” Kita yang ada dalam gereja adalah ciptaan baru yang sedang melalui proses pengudusan, dan dalam perjalanan itu, ketidaksempurnaan adalah bagian dari proses pembentukan tersebut.
Ketidaksempurnaan gereja bukanlah cacat desain yang memalukan, tetapi sebuah ruang anugerah di mana kita diajarkan untuk mengasihi, mengampuni, dan hidup bersama dalam kesatuan meskipun kita masih bergumul dengan kekurangan dan kesalahan. Dalam Efesus 4:2, Paulus menasihati kita, “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.” Ini mengajarkan kita bahwa gereja adalah tempat untuk saling mendukung dan berjuang bersama dalam iman, bukan tempat untuk mencari kesempurnaan tanpa usaha.
Gereja Mula-Mula: Cermin Ketidaksempurnaan yang Mengajarkan Kita
Untuk memahami ketidaksempurnaan gereja, kita tidak perlu mencarinya di zaman modern. Kita hanya perlu menengok gereja mula-mula yang didirikan oleh Rasul Paulus, terutama di Korintus. Gereja di Korintus adalah gereja yang penuh dengan masalah: perpecahan, penyimpangan moral, ketidaksepahaman dalam ajaran, hingga konflik antaranggota. Namun, Paulus tidak menyerah pada kekecewaan. Sebaliknya, ia mengajak mereka untuk tetap bertumbuh bersama dalam kasih dan kebenaran.
Dalam 1 Korintus 1:10-11, Paulus menulis, “Aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir. Sebab, saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloe tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu.” Meski gereja di Korintus penuh dengan masalah, Paulus tetap mengajak mereka untuk kembali kepada Kristus dan memperbaiki hubungan mereka satu sama lain. Gereja Korintus menjadi bukti bahwa ketidaksempurnaan gereja bukanlah alasan untuk meninggalkannya, melainkan panggilan untuk terus terlibat dalam proses pemulihan dan pertumbuhannya.
Sikap yang Harus Ditanamkan oleh Setiap Orang Percaya dalam Gereja yang Tidak Sempurna
Gereja adalah tubuh Kristus yang terus berkembang dan bertumbuh menuju kesempurnaan yang akan tercapai saat Kristus datang kembali. Namun, sebagai bagian dari tubuh ini, setiap individu membawa kerentanannya sendiri, dan dalam perjalanan bersama, kita akan menemui ketidaksempurnaan yang tak terhindarkan. Untuk bisa mengasihi gereja dalam ketidaksempurnaannya, kita harus menanamkan sikap-sikap yang mendukung pertumbuhan, pemulihan, dan kesatuan gereja. Berikut adalah lima sikap penting yang harus dimiliki oleh setiap orang percaya dalam menghadapi ketidaksempurnaan gereja.
1. Introspeksi dengan Kerendahan Hati (Matius 7:3-5)
Ketika kita dihadapkan pada ketidaksempurnaan dalam gereja, sikap pertama yang harus kita tanamkan adalah introspeksi dengan kerendahan hati. Dalam Matius 7:3-5, Yesus memberikan sebuah pengajaran yang sangat mendalam tentang bagaimana kita harus memeriksa diri kita sendiri sebelum mengkritik orang lain. “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, padahal balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” Yesus mengajarkan kita untuk memeriksa diri sendiri, untuk melihat apakah kita turut berkontribusi pada masalah yang ada atau malah hanya menjadi bagian dari keluhan tanpa menawarkan solusi.
Introspeksi adalah langkah pertama dalam proses pertobatan. Ketika kita mengkritik gereja atau sesama anggota tubuh Kristus, kita harus terlebih dahulu menilai diri kita sendiri. Ini bukan hanya tentang menghindari sikap munafik, tetapi juga tentang mengakui bahwa kita pun adalah bagian dari ketidaksempurnaan itu. Kerendahan hati memungkinkan kita untuk lebih peka terhadap kelemahan diri kita sendiri, dan dengan demikian, kita dapat menghargai anugerah Tuhan yang bekerja dalam proses pertumbuhan gereja. Introspeksi ini membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam bahwa gereja adalah komunitas orang berdosa yang sedang dipulihkan oleh kasih karunia Allah. Dengan menyadari posisi kita, kita bisa lebih sabar, lebih penuh kasih, dan lebih siap memberi diri dalam proses pemulihan tersebut.
2. Memilih Kasih Aktif yang Mengubah (Yohanes 13:34-35)
Kasih yang sejati, seperti yang diajarkan oleh Yesus dalam Yohanes 13:34-35, adalah kasih yang aktif. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi.” Kasih aktif yang dimaksud di sini bukanlah kasih yang hanya menunggu kesempurnaan atau kenyamanan, tetapi kasih yang memilih untuk berbuat baik dan melayani meskipun dalam situasi yang penuh ketidaksempurnaan. Ini adalah kasih yang berfokus pada tindakan nyata, bukan sekadar perasaan atau emosi sesaat.
Kasih aktif adalah pengamalan nyata dari iman kita. Itu adalah manifestasi dari kasih Kristus yang memberi diri-Nya untuk menyelamatkan kita, meskipun kita belum sempurna. Dalam konteks gereja, kasih ini mengajarkan kita untuk tetap setia melayani, bahkan ketika kita merasa bahwa gereja atau jemaat tidak memenuhi ekspektasi kita. Kasih yang aktif ini mengubah kita untuk lebih bertumbuh dalam kesabaran dan pengampunan, karena kita tahu bahwa gereja adalah tempat bagi orang-orang yang sedang diproses oleh Tuhan. Dengan memilih kasih yang aktif, kita tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi pelaku dalam pembangunan gereja yang lebih baik. Kasih ini memampukan kita untuk membangun hubungan yang lebih dalam, meskipun kita berada di tengah ketidaksempurnaan.
3. Berfokus pada Kristus, Sang Kepala Gereja (Kolose 1:18)
Ketika kita terlalu fokus pada ketidaksempurnaan manusia dalam gereja, kita mudah merasa kecewa dan kehilangan arah. Namun, Kolose 1:18 mengingatkan kita bahwa “Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat.” Kristus adalah kepala gereja, dan gereja yang sejati adalah milik-Nya. Jika kita terlalu menilai gereja berdasarkan kinerja manusia, kita akan mudah tersinggung dan kecewa. Tetapi ketika kita berfokus pada Kristus, kita akan menemukan bahwa meskipun gereja penuh dengan ketidaksempurnaan, Kristus tetap memegang kendali penuh atas gereja-Nya.
Kita memahami bahwa gereja adalah badan Kristus yang hidup. Sebagai kepala gereja, Kristus memimpin dan membimbing gereja menuju kesempurnaan. Oleh karena itu, fokus kita seharusnya bukan pada ketidaksempurnaan manusia atau sistem gereja, tetapi pada Kristus yang adalah sumber kesempurnaan itu sendiri. Ketika kita berfokus pada Kristus, kita mendapat pengharapan yang tidak tergoyahkan. Yesus adalah Pemimpin yang sempurna, dan hanya melalui Dia kita dapat melihat gereja tidak hanya sebagai komunitas manusia biasa, tetapi sebagai tubuh yang sedang dibentuk oleh-Nya. Fokus pada Kristus membantu kita untuk melihat gereja dengan perspektif yang lebih luas, yakni sebagai alat Tuhan untuk mewujudkan Kerajaan-Nya di dunia ini.
4. Berdoa dengan Tekun dan Iman (1 Tesalonika 5:17)
Doa adalah senjata rohani yang sangat penting dalam mengatasi ketidaksempurnaan gereja. Dalam 1 Tesalonika 5:17, Paulus menulis, “Tetaplah berdoa.” Doa adalah panggilan untuk membawa segala pergumulan, kekecewaan, dan masalah gereja ke hadapan Tuhan. Alih-alih mengeluh atau mengkritik, doa mengubah fokus kita dari keluhan menjadi permohonan yang penuh iman. Melalui doa, kita mengundang campur tangan Tuhan untuk memperbaiki, memulihkan, dan menyempurnakan gereja.
Doa adalah cara kita berpartisipasi dalam rencana Allah untuk gereja. Doa tidak hanya mengubah keadaan eksternal, tetapi juga mengubah hati kita. Ketika kita berdoa, kita mengakui bahwa Tuhan adalah Pemilik dan Pembangun gereja yang sejati. Kita tidak bisa mengubah gereja hanya dengan kekuatan kita sendiri, tetapi dengan berdoa, kita menyerahkan semuanya kepada Tuhan yang mampu melakukan yang lebih besar daripada yang kita minta atau pikirkan (Efesus 3:20). Doa juga mengajarkan kita untuk bersabar, karena kita tahu bahwa Tuhan bekerja dalam waktu-Nya yang sempurna. Melalui doa yang tekun, kita menjadi bagian dari pekerjaan Tuhan untuk memperbarui gereja dan membawa pertumbuhan rohani di dalamnya.
5. Menjadi Agen Perdamaian dan Pemulihan (Matius 5:9)
Yesus mengajarkan kita dalam Matius 5:9, “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” Di tengah ketidaksempurnaan gereja, kita dipanggil untuk menjadi agen perdamaian, bukan hanya pengkritik yang memperburuk situasi. Sebagai anak-anak Allah, kita dipanggil untuk membawa damai dan rekonsiliasi ke dalam gereja. Ini berarti bahwa kita harus siap untuk mendengarkan dengan empati, berbicara dengan kasih, dan berkomitmen pada rekonsiliasi, bukan pada perpecahan.
Dalam konteks gereja, menjadi agen perdamaian berarti kita harus siap untuk mengatasi konflik dengan cara yang membangun. Kita dipanggil untuk mendengarkan dengan hati yang terbuka, berbicara dengan kata-kata yang membangun, dan bekerja sama untuk menyelesaikan perbedaan dengan cara yang menyatukan, bukan yang memecah belah. Ini bukanlah tugas yang mudah, tetapi itulah panggilan kita sebagai pengikut Kristus. Menjadi pembawa damai dalam gereja berarti kita berkomitmen untuk membangun kesatuan dan kasih di tengah perbedaan, dengan penuh kerendahan hati dan kasih yang tulus.
Gereja yang Sedang Bertumbuh Menuju Kematangan
Gereja adalah tempat umat percaya berkumpul, bertumbuh dalam iman, dan melayani Tuhan bersama-sama. Meskipun gereja sering kali tidak sempurna, kita dipanggil untuk tetap setia karena gereja adalah ladang Tuhan yang sedang bertumbuh. Proses pertumbuhannya memang lambat, namun kita percaya bahwa Tuhan yang memulai pekerjaan-Nya akan menyelesaikannya dengan sempurna pada waktu-Nya (Filipi 1:6).
Yesus menggambarkan Kerajaan Allah melalui perumpamaan biji sesawi (Matius 13:31-32), yang tampaknya kecil dan tidak berarti, tetapi tumbuh menjadi pohon besar. Gereja yang tampaknya kecil dan penuh ketidaksempurnaan ini akan bertumbuh menjadi sesuatu yang besar dan memberi dampak besar bagi dunia.
Proses Pertumbuhan Gereja yang Tidak Instan
Seperti biji sesawi yang membutuhkan waktu untuk tumbuh, gereja pun membutuhkan waktu untuk berkembang. Terkadang, kita merasa frustrasi dengan keterbatasan atau perbedaan pendapat di dalam gereja, namun 2 Petrus 3:9 mengingatkan kita bahwa Tuhan bekerja dengan sabar, menginginkan setiap orang berbalik dan bertobat. Kita dipanggil untuk berperan dalam proses pertumbuhan gereja, dengan terus bekerja bersama Tuhan, berdoa, dan melayani dengan kesabaran.
Meskipun kita tidak selalu melihat hasil yang segera, kita harus percaya bahwa Tuhan akan menyelesaikan pekerjaan-Nya dalam gereja. Dengan kesabaran, kita belajar mempercayakan waktu dan hasil kepada Tuhan, yang tahu kapan dan bagaimana gereja akan mencapai kesempurnaan-Nya.
Kesabaran dalam Melihat Pertumbuhan Gereja
Kesabaran adalah kunci utama dalam melihat gereja bertumbuh. Kadang-kadang, kita merasa gereja tidak berkembang sesuai harapan, tetapi Yakobus 5:7 mengingatkan kita untuk bersabar hingga kedatangan Tuhan. Proses pemulihan gereja membutuhkan waktu, dan kita dipanggil untuk bekerja bersama Tuhan dengan sabar dan penuh pengharapan.
Sebagai bagian dari tubuh Kristus, kita diundang untuk mendukung gereja dengan tindakan kasih dan doa. Setiap langkah kecil dalam pertumbuhan gereja adalah bagian dari pekerjaan besar Tuhan. Kita tidak perlu fokus pada ketidaksempurnaan gereja, melainkan harus melihatnya dengan iman kepada Tuhan yang memimpin gereja menuju kematangan.
Menyirami Benih-Benih Kerajaan dengan Doa dan Pelayanan
Proses pertumbuhan gereja memerlukan dukungan doa dan pelayanan yang setia. Yesus mengajarkan dalam Matius 9:37-38 bahwa tuai memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Setiap pelayanan, sekecil apa pun, adalah bagian dari pekerjaan besar yang Tuhan lakukan. Dengan berdoa dan melayani, kita mengakui ketergantungan kita pada Tuhan yang akan memberi pertumbuhan kepada gereja pada waktunya.
Pelayanan yang setia adalah cara kita berpartisipasi dalam pekerjaan Tuhan. Apakah itu melalui pelayanan anak-anak, musik gereja, atau peran administratif, setiap tindakan kita sangat berarti dalam membangun gereja yang sehat. Seperti yang ditulis Paulus dalam 1 Korintus 3:7, “Oleh karena itu, baik yang menanam maupun yang menyiram tidak ada artinya, tetapi hanya Allah yang memberi pertumbuhan.” Kita dipanggil untuk bekerja bersama Tuhan dalam menyirami dan menanam benih-benih Kerajaan-Nya.
Kesabaran dalam Melihat Pertumbuhan Gereja
Gereja mungkin tidak sempurna, tetapi kesabaran adalah kunci utama dalam melihat gereja bertumbuh menuju kematangan. Kita harus terus bekerja bersama Tuhan, berdoa, dan melayani tanpa mengharapkan hasil instan. Tuhan bekerja dengan sabar dalam proses pemulihan gereja, dan kita dipanggil untuk turut serta dalam pekerjaan-Nya. Dengan kesabaran, kita belajar untuk mempercayakan waktu dan hasil kepada Tuhan, yang tahu kapan dan bagaimana gereja akan mencapai kesempurnaan-Nya.