Setiap pelayan Tuhan pasti pernah mengalami sorotan. Ketika kita berdiri di depan, memegang peran penting dalam pelayanan, kita cenderung mendapatkan penghargaan dan pengakuan dari orang lain. Ini tidak sepenuhnya keliru. Namun, di balik apresiasi tersebut, tersimpan bahaya yang seringkali tersembunyi dan luput dari perhatian: bahaya mengaitkan identitas diri dengan pelayanan.
Ada kecenderungan di antara para pelayan Tuhan untuk menjadikan pelayanan sebagai tempat pelarian dari realita hidup yang sulit. Saat di rumah mereka kurang dihargai, atau di tempat kerja merasa gagal, maka pelayanan menjadi “sumber penerimaan”. Di gereja, mereka merasa diterima, dihormati, dan dibutuhkan. Lambat laun, tanpa disadari, perasaan berharga seseorang ditentukan oleh aktivitas dan peran pelayanannya. Pelayanan menjadi cermin harga diri.
Yesus pernah menegur keras para ahli Taurat dan orang Farisi yang melayani hanya demi pengakuan (Mat. 23:1–12). Mereka menyukai gelar, pujian, dan status. Mereka mengajar yang benar tetapi hidup tidak sesuai dengan pengajaran itu. Segala sesuatu dilakukan hanya agar mereka tampak hebat di mata orang lain. Bagi mereka, identitas ditentukan oleh posisi dan citra pelayanan.
Bahaya yang sama dapat menimpa siapa saja yang membiarkan pelayanan menentukan nilai dirinya. Ketika orang lain tampil lebih baik dalam pelayanan, hati kita mudah tersulut iri. Ketika kita tidak lagi berperan sebanyak dulu, kita merasa kehilangan makna. Ketika ada perubahan dalam struktur atau rotasi pelayanan, kita merasa dibuang. Pelayanan yang seharusnya menjadi bentuk kasih kepada Allah, berubah menjadi sumber eksistensi diri.
Lalu bagaimana cara kita menyikapi relasi antara identitas diri dan pelayanan secara sehat? Alkitab memberikan tiga prinsip penting.
Pertama, pelayanan adalah buah dari identitas, bukan penentu identitas.
Pelayanan seharusnya mengalir dari pengenalan diri kita di dalam Kristus. Dalam 1 Petrus 2:9, kita disebut sebagai “bangsa yang terpilih, imamat rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah.” Inilah identitas kita. Setelah itu baru dikatakan, “supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia.” Pelayanan adalah respons, bukan dasar identitas. Apa yang Allah kerjakan bagi kita lebih dahulu daripada apa yang kita lakukan bagi-Nya. Kita melayani karena kita milik Allah, bukan supaya menjadi milik-Nya.
Kedua, pelayanan sejati adalah pemberian diri, bukan aktualisasi diri.
Banyak orang menganggap pelayanan sebagai tempat menunjukkan kemampuan, potensi, atau eksistensi dirinya. Tapi Yesus memberikan teladan sebaliknya. Dalam Filipi 2:6-8, dikatakan bahwa walaupun Yesus adalah Allah, Ia mengosongkan diri-Nya dan menjadi hamba. Ia tidak menuntut dilayani, tetapi melayani (Mat. 20:28). Ia memberikan nyawa-Nya, bukan sekadar tenaga-Nya. Inilah esensi pelayanan: bukan naik panggung, tapi turun melayani. Bukan menjadi pusat perhatian, melainkan menjadi saluran kasih.
Ketiga, pelayanan sejati teruji dalam penderitaan dan kerendahan hati.
Motivasi seseorang dalam pelayanan akan diuji oleh penderitaan. Dalam 2 Korintus 6:4-5, Paulus menggambarkan hidup pelayan Allah yang sejati: penuh kesabaran, penderitaan, dera, penjara, dan jerih payah. Bahkan dalam 1 Korintus 4:9, ia berkata bahwa para pelayan Tuhan adalah “seperti orang yang dijatuhi hukuman mati.” Artinya, pelayanan bukan jalan menuju kemuliaan pribadi, tetapi panggilan untuk memikul salib. Pelayan sejati siap tidak dianggap, siap direndahkan, bahkan siap tidak dikenal.
Ketika kita memahami pelayanan dalam terang kebenaran ini, kita tidak akan membiarkan sorotan atau kekurangan pujian mengganggu batin. Kita tidak akan terlalu gembira saat dipuji, dan tidak terlalu jatuh saat dilupakan. Sebab nilai kita bukan pada pelayanan, melainkan pada Kristus yang memanggil dan mengasihi kita.
Kesimpulan
Pelayanan memang penting, tetapi identitas kita tidak boleh ditentukan oleh pelayanan. Kita adalah anak-anak Allah, terlebih dahulu ditebus, dikuduskan, dan dikasihi sebelum diberi tanggung jawab melayani. Ketika identitas kita berakar kuat dalam Kristus, pelayanan menjadi wujud syukur dan persembahan kasih, bukan tempat pembuktian diri.
Mari kita tetap melayani dengan setia, tetapi selalu ingat bahwa siapa kita di dalam Kristus lebih penting daripada apa yang kita lakukan untuk-Nya. Sebab hanya dengan pemahaman yang benar tentang identitas, pelayanan kita akan murni, tulus, dan bertahan sampai akhir.
Studi Alkitab Mandiri
Bacalah 1 Tesalonika 2:1-6, setelah itu jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!
- Apa saja yang membuat Paulus berani memberitakan Injil di tengah perjuangan yang berat (ayat 2 dan 3)?
- Apakah kunci keberhasilan Paulus menjaga kemurnian pelayanannya (ayat 4)?
- Sebutkan dua keuntungan duniawi yang dapat menyelewengkan motivasi pelayanan seseorang (ayat 5 dan 6)!
Ayat Hafalan
Kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini (1 Korintus 4:13)
Pertanyaan Untuk Diskusi
- Kebanggaan apa yang Anda rasakan sebagai seorang pelayan?
- Bagaimana perasaan Anda jika suatu ketika Anda digantikan oleh pelayan lain yang lebih berkualitas daripada Anda?
- Bagaimana menjaga diri supaya tidak menjadikan pelayanan sebagai dasar atau sumber identitas diri?