Alkitab merupakan kitab suci yang menjadi dasar kepercayaan umat Kristen di seluruh dunia. Namun, terdapat perbedaan antara Alkitab versi Protestan dan versi Katolik. Selain Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, umat Katolik juga menerima beberapa kitab tambahan yang dikenal sebagai Deuterokanonika, seperti Makabe, Tobit, Yudit, dan beberapa kitab lainnya. Sebaliknya, dalam tradisi Protestan, kitab-kitab tersebut disebut sebagai Apokrifa, yang berarti kitab-kitab yang tidak jelas asal-usulnya dan tidak diakui sebagai firman Allah.
Bagaimana seharusnya sikap kita terhadap kitab-kitab yang oleh saudara-saudara Katolik disebut Deuterokanonika, tetapi oleh kita disebut sebagai Apokrifa? Mengapa kita tidak menerima kitab-kitab tersebut sebagai bagian dari firman Allah? Ada empat alasan utama yang mendasari penolakan tersebut, yaitu berdasarkan tradisi, otoritas apostolik dan profetik, keakuratan historis, serta kesesuaian ajaran dengan firman Allah.
1. Tradisi Yahudi dan Kekristenan Awal Tidak Mengakui Deuterokanonika
Salah satu alasan utama mengapa kitab-kitab Deuterokanonika tidak diterima sebagai firman Allah adalah karena dalam tradisi Yahudi, kitab-kitab tersebut tidak pernah diakui sebagai bagian dari kanon suci. Kitab-kitab ini sebagian besar ditulis dalam rentang waktu antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yaitu sekitar 400 tahun sebelum kedatangan Kristus. Meskipun kitab-kitab tersebut kemudian dimasukkan dalam kanon Katolik, orang-orang Yahudi sendiri tidak pernah memperlakukannya sebagai firman Allah.
Sebaliknya, kitab-kitab yang terdapat dalam Perjanjian Lama, mulai dari Kejadian hingga Maleakhi, diakui oleh bangsa Yahudi sebagai firman Tuhan. Para pemikir Kristen awal juga tidak menerima kitab-kitab Apokrifa sebagai bagian dari kanon suci. Mereka membedakannya dengan kitab-kitab yang benar-benar diilhami oleh Roh Kudus. Meskipun ada pengecualian dalam beberapa kasus, secara umum, kitab-kitab Deuterokanonika tidak mendapat perlakuan yang sama dengan kitab-kitab Perjanjian Lama. Selain itu, penulis-penulis dalam Alkitab tidak pernah mengutip kitab-kitab ini sebagai bagian dari firman Allah.
2. Tidak Mengandung Otoritas Apostolik atau Profetik
Firman Allah diberikan kepada umat-Nya melalui para nabi dan rasul yang berbicara di bawah dorongan Roh Kudus. Hal ini ditegaskan dalam 2 Petrus 1:20-21 yang menyatakan bahwa para nabi bernubuat oleh dorongan Roh Kudus. Namun, dalam kitab-kitab Deuterokanonika, konsep otoritas ilahi ini tidak ditemukan.
Sebagai contoh, dalam kitab Barukh, penulisnya menyatakan bahwa jika terdapat kesalahan dalam kitab ini, maka para pembaca diminta untuk memakluminya. Pernyataan semacam ini sangat berbeda dengan kitab-kitab dalam Alkitab, yang ditulis dengan keyakinan penuh bahwa setiap kata yang dituliskan adalah firman Tuhan yang diilhami oleh Roh Kudus dan tidak mungkin mengandung kesalahan. Ketidakhadiran otoritas apostolik dan profetik dalam kitab-kitab Deuterokanonika menjadi alasan kuat bagi kita untuk tidak menerimanya sebagai bagian dari firman Allah.
3. Ketidaktepatan Historis dan Geografis
Alasan lain yang memperkuat penolakan terhadap kitab-kitab Deuterokanonika adalah adanya ketidaktepatan dalam hal sejarah dan geografi. Firman Allah tidak mungkin mengandung kesalahan faktual, sehingga ketidaktepatan dalam kitab-kitab Deuterokanonika menjadi indikasi bahwa kitab-kitab tersebut bukan berasal dari Tuhan.
Misalnya, dalam Yudit 1:5 disebutkan bahwa Nebukadnezar adalah raja Asyur, padahal dalam sejarah yang benar, ia adalah raja Babel. Selain itu, dalam Barukh 6:2 dikatakan bahwa bangsa Israel dibuang ke Babel selama tujuh generasi, sedangkan dalam Yeremia 25:11 disebutkan bahwa mereka berada di pembuangan selama tujuh puluh tahun. Jika satu generasi hanya dihitung sebagai sepuluh tahun, maka pernyataan ini menjadi tidak masuk akal dan bertentangan dengan fakta sejarah yang ada.
Ketidaktepatan ini menunjukkan bahwa kitab-kitab tersebut tidak dapat diandalkan sebagai firman Allah yang sempurna dan bebas dari kesalahan. Hal ini sangat berbeda dengan kitab-kitab dalam Alkitab yang terbukti memiliki konsistensi historis dan geografis yang akurat.
4. Bertentangan dengan Ajaran Alkitab
Alasan terakhir yang mendasari penolakan terhadap kitab-kitab Deuterokanonika adalah adanya ajaran yang bertentangan dengan doktrin Alkitab. Sebagai contoh, dalam kitab 2 Makabe diajarkan tentang doa bagi orang mati. Namun, dalam Ibrani 9:27 dengan jelas dikatakan bahwa manusia mati satu kali dan setelah itu dihakimi. Dengan demikian, tidak ada gunanya mendoakan orang yang sudah meninggal karena nasib mereka sudah ditetapkan oleh Tuhan.
Selain itu, dalam kitab Tobit terdapat ajaran mistis tentang pengusiran setan dengan cara membakar bagian dalam ikan, sehingga asapnya dapat mengusir roh jahat. Ajaran seperti ini tidak pernah ditemukan dalam Alkitab. Bahkan, dalam Perjanjian Baru, Yesus dan para rasul mengusir roh jahat dengan kuasa firman Allah, bukan melalui praktik mistis.
Kitab-kitab Deuterokanonika juga mengajarkan keselamatan melalui perbuatan baik seperti sedekah dan amal. Padahal, dalam Efesus 2:8-9 dikatakan bahwa keselamatan adalah anugerah Allah melalui iman, bukan hasil perbuatan manusia. Oleh karena itu, ajaran-ajaran yang terkandung dalam kitab-kitab tersebut bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan dan tidak dapat diterima sebagai bagian dari kanon suci.
Kesimpulan
Sebagai umat Kristen Protestan, kita tidak menerima kitab-kitab Deuterokanonika sebagai bagian dari firman Allah berdasarkan beberapa alasan yang kuat. Pertama, tradisi Yahudi dan kekristenan awal tidak mengakui kitab-kitab tersebut sebagai firman Tuhan. Kedua, kitab-kitab tersebut tidak memiliki otoritas apostolik atau profetik. Ketiga, terdapat banyak ketidaktepatan historis dan geografis di dalamnya. Keempat, ajaran yang terkandung dalam kitab-kitab tersebut bertentangan dengan kebenaran yang diajarkan dalam Alkitab.
Meskipun demikian, bukan berarti kita tidak boleh membaca kitab-kitab Deuterokanonika. Kitab-kitab tersebut tetap memiliki nilai historis dan dapat membantu kita memahami latar belakang budaya dan kepercayaan Yahudi pada zaman dahulu. Namun, kita harus tetap berpegang teguh pada firman Allah yang sejati, yaitu Alkitab yang terdiri dari 66 kitab yang diilhami oleh Roh Kudus. Dengan memahami dasar-dasar iman kita, kita dapat semakin teguh dalam keyakinan dan semakin bijaksana dalam membedakan kebenaran dari kesesatan.