Rumah bukan hanya tempat untuk tinggal. Di dalam rumah, nilai dibentuk, kebiasaan diteruskan, dan iman dipraktikkan. Cara sebuah keluarga berdoa, menggunakan waktu, memperlakukan orang lain, serta mengelola berkat yang dimiliki akan membentuk kehidupan setiap anggotanya. Karena itu, kehidupan rohani keluarga tidak cukup hanya terlihat dari kegiatan ibadah. Iman juga perlu hadir dalam keputusan sehari-hari, termasuk dalam cara keluarga menggunakan harta dan menolong sesama.
Kisah Para Rasul 10:1–8 memperlihatkan kehidupan Kornelius, seorang perwira pasukan Romawi yang tinggal di Kaisarea. Ia bukan orang Yahudi, tetapi kehidupannya menunjukkan rasa hormat kepada Allah. Lukas mencatat bahwa Kornelius adalah seorang yang saleh dan takut akan Allah bersama seluruh isi rumahnya. Ia juga dikenal karena kemurahan hatinya kepada orang-orang yang membutuhkan serta kehidupan doanya yang tekun.
Kisah ini menunjukkan bahwa keluarga yang takut akan Allah tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri. Iman yang tumbuh di dalam rumah akan menghasilkan perhatian kepada orang lain. Berkat yang diterima tidak berhenti pada kepentingan keluarga, tetapi menjadi sarana untuk menghadirkan kebaikan bagi sesama. Dari kehidupan Kornelius, kita dapat melihat bagaimana sebuah rumah dapat menjadi saluran berkat.
1. Keluarga Dibangun dalam Kehidupan yang Takut akan Allah
Kisah Para Rasul 10:1–2a
Kornelius diperkenalkan sebagai seorang perwira dalam pasukan Italia. Posisi tersebut menunjukkan bahwa ia memiliki tanggung jawab dan kedudukan dalam struktur militer Romawi. Namun, penulis Kisah Para Rasul tidak hanya memperkenalkan Kornelius berdasarkan pekerjaannya. Hal yang justru mendapat perhatian adalah kehidupan rohaninya.
Kornelius disebut sebagai seorang yang saleh dan “takut akan Allah bersama-sama dengan seisi rumahnya” (Kis. 10:2, TB). Keterangan ini penting karena iman Kornelius tidak hanya menjadi urusan pribadi. Nilai yang ia hidupi juga memberi pengaruh kepada kehidupan rumah tangganya.
Takut akan Allah dalam pengertian Alkitab bukan berarti hidup dalam ketakutan yang membuat seseorang menjauh dari Tuhan. Sikap ini menunjuk pada penghormatan, ketaatan, dan kesadaran bahwa hidup berada di bawah kehendak Allah. Sikap seperti itu mempengaruhi cara seseorang menjalankan tanggung jawabnya.
Bagi keluarga Kristen, dasar kehidupan rumah tangga tidak cukup hanya berupa kedekatan emosional atau kecukupan materi. Keluarga membutuhkan arah rohani yang jelas. Orang tua tidak hanya bertanggung jawab memenuhi kebutuhan anggota keluarga, tetapi juga memberi teladan tentang bagaimana hidup di hadapan Tuhan.
Anak-anak dapat belajar mengenai iman bukan hanya melalui nasihat, tetapi melalui apa yang mereka lihat setiap hari. Mereka memperhatikan bagaimana orang tua berdoa, mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, menggunakan uang, menghadapi kesulitan, serta merespons kebutuhan sesama.
Karena itu, membangun keluarga yang takut akan Allah dimulai dari keteladanan yang nyata. Keluarga tidak harus sempurna untuk hidup dalam takut akan Tuhan. Yang diperlukan adalah kesediaan untuk terus menempatkan kehendak Allah sebagai dasar dalam menjalani kehidupan bersama.
2. Iman Diwujudkan melalui Kemurahan Hati kepada Sesama
Kisah Para Rasul 10:2b–4
Kehidupan rohani Kornelius tidak berhenti pada doa dan kehidupan pribadi. Lukas mencatat bahwa ia “memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah” (Kis. 10:2, TB).
Dua hal tersebut ditempatkan berdampingan: doa dan kemurahan hati. Hubungan dengan Allah memiliki dampak terhadap hubungan dengan sesama. Kornelius berdoa kepada Allah, tetapi pada saat yang sama ia juga melihat kebutuhan orang-orang di sekitarnya.
Ketika malaikat Allah datang kepadanya dalam penglihatan, Kornelius mendengar bahwa doa dan sedekahnya telah sampai ke hadirat Allah sebagai suatu persembahan yang diingat oleh-Nya. Hal ini tidak berarti bahwa pemberian Kornelius membeli keselamatan atau membuatnya memperoleh kasih Allah karena jasanya. Keselamatan dalam bagian selanjutnya dari Kisah Para Rasul 10 tetap berpusat pada Yesus Kristus. Namun, tindakan Kornelius menunjukkan bahwa kehidupan yang sungguh-sungguh mencari Allah menghasilkan kepedulian yang nyata.
Prinsip ini penting dalam kehidupan keluarga. Persembahan dan kemurahan hati tidak seharusnya dipahami hanya sebagai kewajiban yang dilakukan pada waktu tertentu. Memberi merupakan bagian dari cara keluarga belajar mengelola apa yang dipercayakan Tuhan.
Keluarga dapat membangun kebiasaan memberi dengan mengajarkan bahwa harta bukan hanya untuk memenuhi keinginan sendiri. Dari penghasilan, waktu, kemampuan, maupun sumber daya yang dimiliki, selalu ada ruang untuk memperhatikan kebutuhan orang lain.
Anak-anak pun perlu belajar bahwa berbagi bukan dilakukan hanya karena memiliki kelebihan yang sangat banyak. Kemurahan hati bertumbuh ketika seseorang memahami bahwa apa yang dimilikinya dapat dipakai untuk menghadirkan kebaikan.
Dalam kehidupan gereja, prinsip ini juga perlu dijaga. Persembahan bukan sekadar angka yang dimasukkan ke dalam kantong persembahan atau ditransfer ke rekening gereja. Di balik pemberian terdapat sikap hati yang menyadari bahwa semua yang dimiliki merupakan kepercayaan dari Tuhan.
Keluarga yang belajar memberi sedang membentuk sebuah kebiasaan rohani: menerima dengan syukur, mengelola dengan bertanggung jawab, dan membagikan dengan rela.
3. Allah Memakai Keluarga yang Terbuka terhadap Kehendak-Nya
Kisah Para Rasul 10:5–8
Setelah menerima penglihatan, Kornelius diperintahkan mengutus beberapa orang ke Yope untuk menjemput Simon Petrus. Ia tidak mengetahui seluruh rencana Allah. Ia hanya menerima sebuah perintah dan memilih untuk menaatinya.
Kornelius kemudian memanggil dua orang hambanya serta seorang prajurit yang saleh dari antara orang-orang yang selalu bersama dengannya. Setelah menjelaskan segala sesuatu kepada mereka, ia mengutus mereka ke Yope.
Tindakan tersebut memperlihatkan keterbukaan terhadap kehendak Allah. Kornelius tidak menunda ketaatan sampai ia memahami seluruh rencana Tuhan. Ia bergerak berdasarkan apa yang telah dinyatakan kepadanya.
Ketaatan ini kemudian menjadi bagian dari peristiwa yang jauh lebih besar. Melalui rumah Kornelius, Petrus belajar bahwa Allah tidak membedakan orang. Di rumah itulah Injil diberitakan kepada bangsa-bangsa lain dan Roh Kudus dicurahkan kepada mereka. Sebuah rumah menjadi tempat berlangsungnya pekerjaan Allah yang penting bagi perkembangan gereja mula-mula.
Keluarga masa kini juga dapat dipakai Tuhan dengan cara yang mungkin tidak selalu terlihat besar. Rumah dapat menjadi tempat seseorang diterima, didengarkan, didoakan, atau ditolong. Meja makan dapat menjadi tempat percakapan yang menguatkan. Penghasilan keluarga dapat dipakai untuk membantu kebutuhan orang lain. Waktu yang dimiliki dapat diberikan untuk pelayanan. Kemampuan anggota keluarga dapat menjadi sarana untuk mendukung pekerjaan Tuhan.
Yang terutama bukan seberapa besar kemampuan sebuah keluarga, melainkan seberapa terbuka keluarga itu terhadap kehendak Allah.
Rumah yang Tidak Menahan Berkat
Kisah Kornelius memperlihatkan hubungan yang erat antara iman, keluarga, doa, dan kemurahan hati. Ia takut akan Allah bersama seisi rumahnya. Ia tekun berdoa. Ia memberi kepada orang-orang yang membutuhkan. Ketika Allah memberikan petunjuk, ia menanggapinya dengan ketaatan.
Inilah gambaran rumah yang menjadi saluran berkat.
Keluarga Kristen tidak dipanggil hanya untuk mengejar kehidupan yang aman dan berkecukupan. Tuhan juga memberi keluarga kesempatan untuk menjadi sarana kebaikan bagi orang lain. Berkat yang diterima tidak harus berhenti di dalam rumah.
Karena itu, setiap keluarga dapat memeriksa kembali kehidupan bersama. Apakah iman kepada Tuhan sungguh terlihat dalam kebiasaan rumah tangga? Apakah anak-anak melihat teladan kemurahan hati? Apakah persembahan diberikan dengan pengertian dan rasa syukur? Apakah masih tersedia ruang dalam anggaran, waktu, dan perhatian keluarga untuk menolong orang lain?
Keluarga yang takut akan Allah belajar melihat segala sesuatu yang dimiliki sebagai kepercayaan. Dari sana lahir sikap yang tidak hanya bertanya, “Apa yang dapat kami miliki?”, tetapi juga, “Untuk apa Tuhan mempercayakan semua ini kepada kami?”
Rumah yang menjadi saluran berkat bukan rumah yang memiliki segala sesuatu. Rumah seperti itu adalah rumah yang menempatkan Allah sebagai pusat kehidupan, menggunakan berkat dengan bertanggung jawab, dan bersedia membuka diri bagi pekerjaan-Nya.
Ketika iman hidup di dalam keluarga, kemurahan hati tidak lagi menjadi beban. Memberi menjadi bagian dari ucapan syukur. Dan ketika sebuah keluarga bersedia menyerahkan hidup serta miliknya kepada Tuhan, rumah itu dapat dipakai-Nya untuk menghadirkan kebaikan yang melampaui batas rumah mereka sendiri.