Doktrin pemilihan tanpa syarat merupakan salah satu bagian penting dalam Lima Pokok Calvinisme. Ajaran ini menyatakan bahwa Allah, berdasarkan kedaulatan, kasih, hikmat, dan kerelaan kehendak-Nya, telah memilih sebagian manusia berdosa untuk menerima keselamatan. Pilihan tersebut tidak didasarkan pada perbuatan baik, kemampuan rohani, ataupun iman yang sebelumnya telah diketahui akan muncul dalam diri manusia.
Walaupun memiliki dasar Alkitab dan kerangka pemikiran yang kuat, doktrin ini tetap menghadapi berbagai keberatan. Sebagian orang menganggapnya bertentangan dengan keadilan dan kebaikan Allah. Ada pula yang menilai bahwa pemilihan tanpa syarat dapat melemahkan semangat penginjilan, menghilangkan tanggung jawab manusia, atau bertentangan dengan ayat-ayat yang menyatakan bahwa Allah menghendaki semua orang diselamatkan.
Keberatan-keberatan tersebut perlu ditanggapi secara serius. Namun, penilaiannya harus dilakukan berdasarkan keseluruhan kesaksian Alkitab, bukan hanya berdasarkan kesulitan psikologis atau pandangan manusia tentang keadilan.
Apakah Pemilihan Allah Tidak Adil?
Sanggahan yang paling umum menyatakan bahwa Allah bertindak tidak adil apabila hanya memilih sebagian manusia untuk diselamatkan. Di balik keberatan ini terdapat anggapan bahwa Allah seharusnya menyelamatkan semua orang atau tidak memilih siapa pun.
Masalah utama dalam pemikiran tersebut adalah kegagalan memahami keadaan manusia berdosa dan arti anugerah. Semua manusia telah berdosa dan layak menerima hukuman. Karena itu, apabila Allah menghukum seluruh manusia, tindakan tersebut tetap sesuai dengan keadilan-Nya. Tidak seorang pun dapat menuntut keselamatan sebagai hak.
Orang-orang yang dipilih menerima sesuatu yang sebenarnya tidak layak mereka peroleh, yaitu belas kasihan dan keselamatan. Sementara itu, mereka yang tidak dipilih menerima akibat yang adil dari dosa mereka. Dengan demikian, tidak ada seorang pun yang diperlakukan secara tidak adil. Sebagian menerima anugerah, sedangkan yang lain menerima keadilan.
Roma 9:15 dan 18 menegaskan hak Allah untuk mengasihani siapa yang dikehendaki-Nya. Allah tidak berkewajiban memberikan anugerah kepada semua orang. Apabila anugerah harus diberikan sebagai kewajiban, anugerah tidak lagi menjadi anugerah, melainkan berubah menjadi upah atau hak. Roma 4:4–5 membedakan secara jelas antara upah yang diberikan karena pekerjaan dan pembenaran yang diterima melalui anugerah.
Keberatan tersebut juga sering bersumber dari pemahaman bahwa keadilan selalu berarti pembagian yang sama. Padahal, keadilan tidak selalu mengharuskan setiap orang menerima perlakuan, pemberian, atau bentuk kebaikan yang identik. Roma 9:20–21 memakai gambaran tukang periuk yang berhak membentuk tanah liat sesuai tujuannya. Gambaran ini menegaskan perbedaan antara hak Pencipta dan kedudukan ciptaan.
Perumpamaan para pekerja di kebun anggur dalam Matius 20:1–16 menunjukkan bahwa manusia bahkan dapat mempersoalkan kemurahan yang diberikan secara sah. Pemilik kebun memberi upah sesuai kesepakatan kepada seluruh pekerja, tetapi mereka yang bekerja lebih lama merasa dirugikan ketika pekerja yang datang kemudian menerima kemurahan yang besar. Perumpamaan tersebut memperlihatkan bahwa pemberian yang tidak sama tidak selalu berarti ketidakadilan.
Pemilihan Allah juga bukan keputusan yang sewenang-wenang atau tanpa hikmat. Efesus 1:8–11 menghubungkan rencana keselamatan dengan hikmat, pengertian, dan kerelaan kehendak Allah. Manusia memang tidak diberi penjelasan lengkap mengenai alasan Allah memilih orang tertentu. Namun, ketidaktahuan manusia tidak membuktikan adanya ketidakadilan dalam diri Allah.
Roma 3:5–6 menegaskan bahwa Allah tetap benar dan adil sebagai Hakim seluruh dunia. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk mempercayai karakter-Nya, bahkan ketika alasan di balik keputusan-Nya tidak sepenuhnya dapat diselami.
Apakah Doktrin Pemilihan Mematikan Penginjilan?
Keberatan kedua menyatakan bahwa pemilihan tanpa syarat dapat membuat orang percaya tidak lagi bersemangat memberitakan Injil. Apabila orang pilihan pasti diselamatkan, penginjilan dianggap tidak diperlukan. Mereka akan tetap menerima keselamatan meskipun tidak ada orang yang menyampaikan Injil.
Allah memang sanggup mempertobatkan seseorang tanpa memakai pemberitaan manusia. Pertobatan Paulus merupakan salah satu contoh yang jelas. Dalam perjalanan menuju Damsyik, Kristus secara langsung menyatakan diri kepadanya dan mengubah arah hidupnya (Kis. 9:1–19). Allah juga tidak bergantung pada kemampuan manusia. Lukas 19:40 menyatakan bahwa apabila manusia diam, batu-batu pun dapat berteriak. Matius 3:9 mengajarkan bahwa Allah sanggup membangkitkan anak-anak bagi Abraham dari batu.
Namun, kemampuan Allah bertindak tanpa manusia tidak berarti Ia tidak memakai manusia. Alkitab mengajarkan bahwa Allah bukan hanya menetapkan hasil keselamatan, tetapi juga sarana yang digunakan untuk mencapainya. Ia menetapkan pemilihan, panggilan, pembenaran, dan pemuliaan dalam satu rangkaian yang utuh (Rm. 8:29–30).
Roma 10:14–17 menjelaskan bahwa manusia mendengar Injil melalui pemberita yang diutus. Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran terjadi melalui firman Kristus. Dengan demikian, penginjilan merupakan salah satu alat yang telah ditetapkan Allah untuk memanggil umat pilihan-Nya.
Kisah Para Rasul 13:48 mencatat bahwa mereka yang ditentukan untuk hidup kekal menjadi percaya. Namun, iman mereka muncul melalui pemberitaan Paulus dan Barnabas. Ketetapan Allah tidak meniadakan penginjilan, melainkan menjamin bahwa pelayanan Injil tidak akan sia-sia.
Orang percaya juga tidak mengetahui siapa yang dipilih. Ketetapan kekal Allah tidak dibukakan kepada manusia secara individual. Karena itu, gereja tidak boleh menebak-nebak siapa yang akan diselamatkan dan siapa yang tidak. Pedoman kehidupan Kristen bukanlah rahasia ketetapan Allah, melainkan perintah yang dinyatakan dalam Alkitab.
Matius 28:19–20 memerintahkan murid-murid Kristus untuk pergi, menjadikan semua bangsa sebagai murid, membaptis, dan mengajar mereka. Perintah tersebut berlaku tanpa memandang apakah hasil pelayanan dapat diketahui sebelumnya.
Sejarah gereja juga memperlihatkan bahwa banyak tokoh yang percaya pada predestinasi justru sangat aktif dalam penginjilan. George Whitefield dikenal melalui pelayanan kebangunan rohani, Charles Spurgeon memberitakan Injil kepada ribuan orang, William Carey menjadi salah satu pelopor misi Protestan modern, sedangkan David Livingstone menggabungkan misi, pendidikan, dan pelayanan sosial di Afrika. Hal ini menunjukkan bahwa pemilihan tanpa syarat tidak harus menghasilkan sikap pasif.
Apabila doktrin predestinasi dipakai sebagai alasan untuk tidak memberitakan Injil, masalahnya bukan terletak pada doktrin tersebut, tetapi pada penerapannya yang keliru. Penyimpangan terhadap suatu ajaran tidak selalu membuktikan bahwa ajaran itu salah.
Makna Kata “Pilihan” dalam Perjanjian Baru
Keberatan lain muncul dari kajian terhadap kata Yunani eklektos, yang umumnya diterjemahkan sebagai “pilihan”. Sebagian penafsir berpendapat bahwa kata tersebut dapat berarti seseorang yang unggul, istimewa, atau dikhususkan. Berdasarkan pengertian itu, pemilihan Allah dianggap tidak selalu mengandung gagasan seleksi antara satu orang dan orang lain.
Namun, konsep pemilihan dalam Perjanjian Baru tidak hanya dibangun berdasarkan kata sifat eklektos. Alkitab juga memakai kata benda eklogē, yang berarti pemilihan, serta kata kerja eklegomai, yang berarti memilih.
Kata eklogē digunakan dalam sejumlah teks yang secara jelas berbicara tentang tindakan memilih, misalnya Roma 9:11, Roma 11:5 dan 28, serta 1 Tesalonika 1:4. Kata kerja eklegomai juga berulang kali menunjuk pada tindakan memilih seseorang atau sesuatu dari antara beberapa kemungkinan. Penggunaannya terlihat dalam pemilihan para rasul, penetapan pelayan gereja, pemilihan bangsa Israel, dan pemilihan orang percaya di dalam Kristus.
Yohanes 15:16, misalnya, mencatat perkataan Yesus kepada murid-murid-Nya bahwa bukan mereka yang memilih-Nya, melainkan Dialah yang memilih mereka. Efesus 1:4 menyatakan bahwa Allah memilih orang percaya di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan. Penggunaan kata tersebut melibatkan tindakan yang nyata, bukan hanya pengakuan bahwa orang-orang tertentu lebih unggul.
Karena itu, sekalipun kata “pilihan” dapat memiliki nuansa tertentu bergantung pada konteks, konsep pemilihan Allah tidak dapat dikurangi menjadi sekadar pengkhususan tanpa seleksi.
Predestinasi dan Tanggung Jawab Manusia
Sanggahan berikutnya menyatakan bahwa apabila kebinasaan seseorang telah termasuk dalam ketetapan Allah, orang tersebut tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas dosanya. Menurut keberatan ini, tanggung jawab hanya masuk akal apabila manusia sepenuhnya menentukan nasibnya sendiri.
Pemikiran tersebut tidak membedakan antara ketetapan Allah dan penyebab moral dosa manusia. Dalam teologi Reformed, reprobasi atau tindakan Allah membiarkan sebagian orang dalam kebinasaan bukanlah sumber dari keberdosaan mereka. Allah tidak perlu menciptakan kebencian baru di dalam hati manusia agar mereka menolak-Nya. Manusia telah memiliki natur berdosa dan dengan sukarela mengikuti keinginannya.
Manusia berdosa bukan dipaksa untuk mengasihi dosa dalam keadaan menolak kejahatan. Ia melakukan dosa karena memang menghendakinya. Karena itu, ia tetap bertanggung jawab secara moral.
Alkitab berkali-kali mempertemukan kedaulatan Allah dan tanggung jawab manusia tanpa menganggap keduanya bertentangan. Kisah penyaliban Kristus merupakan contoh yang paling jelas. Kisah Para Rasul 4:27–28 menyatakan bahwa Herodes, Pontius Pilatus, bangsa-bangsa, dan umat Israel berkumpul untuk melakukan apa yang telah ditentukan Allah sebelumnya. Namun, mereka tetap dipandang bersalah karena bertindak berdasarkan maksud yang jahat.
Ketetapan Allah tidak menjadikan dosa sebagai tindakan yang baik. Sebaliknya, tanggung jawab manusia tidak membuat rencana Allah gagal.
Apakah Allah Menghendaki Semua Orang Diselamatkan?
Keberatan yang lebih rumit berasal dari ayat-ayat yang tampaknya menyatakan bahwa Allah menghendaki keselamatan semua manusia. Yehezkiel 18:23 dan 33:11 menegaskan bahwa Allah tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan menghendaki pertobatannya. Dalam 1 Timotius 2:4, Allah dikatakan menghendaki semua orang diselamatkan. Kedua Petrus 3:9 menyatakan bahwa Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.
Untuk memahami teks-teks tersebut, perlu dibedakan antara kehendak Allah yang menetapkan dan kehendak Allah yang dinyatakan sebagai perintah atau kesukaan moral-Nya. Kehendak yang menetapkan berkaitan dengan rencana Allah yang pasti terlaksana. Kehendak yang dinyatakan mengungkapkan apa yang diperintahkan, disenangi, atau dipandang benar oleh Allah.
Alkitab menunjukkan bahwa tidak semua hal yang secara moral dikehendaki Allah dilakukan manusia. Allah melarang dosa, tetapi manusia tetap berdosa. Yesus menghendaki mengumpulkan penduduk Yerusalem seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya, tetapi mereka tidak mau (Mat. 23:37). Pada saat yang sama, Alkitab menyatakan bahwa tidak ada rencana Allah yang dapat digagalkan (Ayb. 42:2).
Dua hal tersebut tidak harus dipahami sebagai kontradiksi. Dalam kehidupan manusia, seseorang dapat menghendaki sesuatu pada satu sisi, tetapi memutuskan hal lain karena pertimbangan yang lebih luas. Seorang pasien tidak menginginkan kehilangan tangannya, tetapi dapat menyetujui amputasi untuk menyelamatkan hidupnya. Tindakan tersebut merupakan keputusan yang sungguh dikehendaki, walaupun kehilangan anggota tubuh bukan sesuatu yang disukai pada dirinya sendiri.
Konteks setiap ayat juga perlu diperhatikan. Dalam 1 Timotius 2:1–4, Paulus sedang mendorong doa bagi semua golongan manusia, termasuk raja dan penguasa. Karena itu, ungkapan “semua orang” dapat dipahami sebagai semua jenis atau kelompok manusia tanpa membedakan kedudukan sosial, bukan selalu setiap individu tanpa pengecualian.
Dalam 2 Petrus 3:9, kata “kamu” merujuk kepada penerima surat, yaitu komunitas orang percaya. Petrus membedakan antara “kamu” dan para pengejek yang disebut “mereka” dalam ayat-ayat sebelumnya. Dengan demikian, ayat tersebut dapat dipahami sebagai pernyataan kesabaran Allah terhadap umat-Nya sampai seluruh maksud keselamatan-Nya tercapai.
Reprobasi dan Kebaikan Allah
Keberatan yang paling menyentuh persoalan moral adalah anggapan bahwa reprobasi bertentangan dengan kebaikan Allah. Jika Allah mengasihi semua ciptaan-Nya, bagaimana mungkin sebagian manusia dibiarkan berada dalam kebinasaan?
Jawabannya perlu mempertimbangkan konsep anugerah umum. Orang-orang yang tidak menerima keselamatan kekal tetap mengalami berbagai bentuk kebaikan Allah selama hidupnya.
Pertama, Allah membatasi kejahatan manusia. Tanpa pemeliharaan-Nya, manusia dapat mengekspresikan dosa dalam bentuk yang jauh lebih merusak. Kejadian 20:6, misalnya, mencatat bahwa Allah mencegah Abimelekh melakukan dosa tertentu. Allah juga membatasi pekerjaan iblis, sebagaimana terlihat dalam kisah Ayub.
Kedua, Allah menahan pelaksanaan murka-Nya. Walaupun manusia berdosa, hukuman tidak selalu dijatuhkan seketika. Kesabaran Allah memberikan kesempatan bagi manusia untuk bertobat dan memungkinkan sejarah kehidupan terus berlangsung.
Ketiga, Allah memberikan berkat temporal kepada semua manusia. Ia menyediakan makanan, hujan, sinar matahari, keteraturan musim, pemerintahan, kekayaan, keluarga, dan ketertiban sosial. Matius 5:45 menyatakan bahwa Allah menerbitkan matahari bagi orang jahat maupun orang baik serta menurunkan hujan bagi orang benar maupun orang yang tidak benar.
Keempat, Allah memungkinkan orang yang belum diselamatkan melakukan kebaikan relatif. Mereka dapat mengasihi keluarga, menolong sesama, menjalankan pemerintahan, dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Tindakan tersebut tidak menjadi dasar keselamatan, tetapi tetap merupakan bagian dari kebaikan Allah yang memelihara dunia.
Kelima, Allah memberikan wahyu umum melalui ciptaan dan hati nurani. Roma 1:18–21 menyatakan bahwa kuasa dan keilahian Allah dapat dipahami melalui karya ciptaan-Nya. Roma 2:14–16 menjelaskan kesaksian hati nurani dalam diri manusia.
Keenam, dalam beberapa peristiwa Allah juga memberikan karunia atau pengalaman rohani sementara kepada orang-orang yang akhirnya tidak hidup dalam ketaatan. Bileam menerima penyataan ilahi, Saul pernah mengalami pekerjaan Roh dalam bentuk tertentu, dan Yudas Iskariot terlibat dalam pelayanan bersama para murid.
Semua ini menunjukkan bahwa reprobasi tidak berarti Allah sama sekali tidak menunjukkan kebaikan kepada mereka yang akhirnya binasa. Persoalannya bukan ada atau tidaknya kebaikan Allah, tetapi bentuk, tujuan, dan jangka waktu kebaikan tersebut.
Manfaat Praktis Pemilihan Tanpa Syarat
Pemilihan tanpa syarat memberikan pengharapan kepada orang berdosa. Tidak seorang pun perlu berkata bahwa dosanya terlalu besar atau hidupnya terlalu rusak untuk diselamatkan. Karena keselamatan tidak didasarkan pada kelayakan manusia, kedalaman dosa tidak mampu mengalahkan kuasa anugerah Allah.
Doktrin ini juga memberi kepastian ketika orang percaya merasa tidak layak dikasihi. Jika Allah memilih dan mengasihi manusia ketika masih menjadi seteru-Nya, tidak masuk akal apabila Ia meninggalkan mereka setelah diperdamaikan melalui Kristus. Roma 5:10 menjadi dasar penghiburan bahwa karya Allah tidak bergantung pada kestabilan perasaan manusia.
Pemilihan juga mendorong orang percaya mengambil inisiatif dalam mengasihi. Allah lebih dahulu memilih dan mengasihi umat-Nya. Karena itu, kasih kepada sesama seharusnya tidak selalu menunggu kelayakan atau tanggapan positif dari orang lain.
Doktrin ini mematikan kesombongan rohani. Tidak ada orang percaya yang dapat membanggakan keputusan, kecerdasan, moralitas, atau imannya sebagai penyebab utama keselamatan. Seluruh kemuliaan dikembalikan kepada Allah.
Pemilihan tanpa syarat juga memberi makna kekal bagi kehidupan. Hidup orang percaya bukan rangkaian peristiwa tanpa tujuan. Kehidupan mereka berakar dalam rencana Allah sejak kekekalan dan diarahkan kepada persekutuan kekal dengan-Nya. Tujuan utama manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya.
Dalam penginjilan, doktrin ini menghasilkan kerendahan hati dan pengharapan. Ketika seseorang bertobat melalui pelayanan gereja, tidak ada alasan untuk membanggakan metode atau kemampuan pemberita. Sebaliknya, ketika Injil terus ditolak, gereja tidak perlu kehilangan harapan karena Allah sanggup membuka hati orang yang paling keras sekalipun.
Doktrin ini juga mengingatkan gereja bahwa pertumbuhan rohani maupun jumlah jemaat tidak terutama bergantung pada program, strategi, tokoh berpengaruh, atau kemampuan organisasi. Semua sarana tersebut tetap penting, tetapi hanya berfungsi sebagai alat dalam tangan Allah. Sumber keberhasilan sejati tetap berada pada anugerah dan kedaulatan-Nya.
Penutup
Berbagai keberatan terhadap pemilihan tanpa syarat memperlihatkan bahwa doktrin ini menyentuh persoalan besar mengenai keadilan Allah, tanggung jawab manusia, penginjilan, keselamatan, dan kebinasaan. Tidak semua pertanyaan dapat dijawab secara sederhana. Namun, kesulitan tersebut tidak menghapus kesaksian Alkitab tentang kebebasan Allah dalam memberikan belas kasihan.
Pemilihan tanpa syarat tidak mengajarkan bahwa Allah berlaku sewenang-wenang, bahwa manusia tidak bertanggung jawab, atau bahwa penginjilan tidak diperlukan. Doktrin ini justru menegaskan bahwa keselamatan adalah anugerah, bahwa Allah memakai pemberitaan Injil sebagai sarana panggilan-Nya, dan bahwa manusia tetap bertanggung jawab atas dosa yang dilakukan dengan kehendaknya sendiri.
Respons yang tepat terhadap doktrin ini bukanlah kesombongan atau sikap pasif, melainkan kerendahan hati, rasa syukur, keberanian memberitakan Injil, kasih kepada sesama, dan keyakinan bahwa seluruh rencana keselamatan berada dalam tangan Allah yang adil, baik, berhikmat, dan berdaulat.