Menelusuri Jejak Ekklesia dari Kekekalan hingga Kekekalan
Ketika kita berbicara tentang “gereja”, pertanyaan yang sering muncul adalah: Sejak kapankah gereja itu ada? Banyak orang Kristen akan menjawab dengan cukup yakin bahwa gereja lahir pada zaman Perjanjian Baru, khususnya saat peristiwa Pentakosta sebagaimana dicatat dalam Kisah Para Rasul pasal 2. Pada hari itulah, Roh Kudus dicurahkan dan para rasul mulai memberitakan Injil dengan kuasa. Tidak sedikit orang memahami peristiwa ini sebagai momen “kelahiran gereja”.
Namun, pandangan ini perlu ditinjau ulang dalam terang Alkitab secara keseluruhan, terutama ketika kita menyelami teologi Reformed yang sistematis dan konsisten. Dalam berbagai pengakuan iman dan katekismus Reformed, kita justru menemukan bahwa gereja tidak bermula di Kisah Para Rasul 2, tetapi jauh sebelumnya—yakni sejak zaman Perjanjian Lama. Bahkan, jika kita memahaminya lebih mendalam, gereja telah ada dalam rencana kekal Allah, bahkan sebelum dunia dijadikan.
Apa Itu Gereja?
Sebelum menjawab “sejak kapan gereja itu ada?”, penting untuk memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan gereja. Dalam Perjanjian Baru, kata yang diterjemahkan sebagai “gereja” adalah ekklesia, yang berarti “kumpulan orang-orang yang dipanggil keluar”. Kata ini tidak menunjuk kepada bangunan atau institusi, melainkan kepada komunitas umat Allah—mereka yang telah dipanggil keluar dari dunia untuk menjadi milik-Nya.
Dengan pemahaman ini, maka gereja bukanlah sekadar realitas Perjanjian Baru, melainkan sebuah keberlangsungan dari karya penebusan Allah yang dimulai sejak manusia jatuh ke dalam dosa. Allah yang penuh kasih tidak membiarkan manusia binasa, tetapi segera menyatakan janji penebusan dalam Kejadian 3:15, yang sering disebut protoevangelium atau “Injil yang pertama”. Di sanalah benih pertama dari gereja diletakkan—di dalam janji bahwa keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular.
1. Perjanjian Baru Menyebut Umat Perjanjian Lama Sebagai Ekklesia
Alasan pertama yang mendukung bahwa gereja sudah ada sejak Perjanjian Lama adalah penggunaan istilah ekklesia dalam Perjanjian Baru untuk menyebut umat Allah di masa lampau. Salah satu contoh paling jelas adalah dalam Kisah Para Rasul 7, ketika Stefanus, sebelum dirajam mati, memberikan khotbah panjang kepada Mahkamah Agama Yahudi. Ia menceritakan sejarah karya Allah mulai dari Abraham hingga Yesus Kristus. Dalam ayat 38, Stefanus menyebut Musa dan umat Allah di padang gurun sebagai “jemaat di padang gurun”—dalam bahasa aslinya: ekklesia en te eremo.
Ini berarti bahwa kata ekklesia tidak hanya digunakan untuk menggambarkan komunitas orang Kristen setelah Yesus naik ke surga, tetapi juga kepada umat Allah di masa Musa. Dengan kata lain, gereja sudah ada di padang gurun—di tengah umat Israel yang sedang berjalan menuju tanah perjanjian. Tentu saja, ini bukanlah sekadar permainan kata, tetapi penegasan teologis bahwa Allah telah membentuk umat-Nya jauh sebelum peristiwa Pentakosta.
2. Gereja Berdiri di Atas Dasar Para Nabi dan Para Rasul
Alasan kedua terletak dalam Efesus 2:20, di mana Rasul Paulus menulis bahwa gereja dibangun “di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.” Pernyataan ini sangat penting, karena menunjukkan bahwa fondasi gereja bukan hanya Perjanjian Baru (rasul-rasul), tetapi juga Perjanjian Lama (para nabi).
Para nabi mewakili umat Allah dalam Perjanjian Lama, sedangkan para rasul mewakili umat dalam Perjanjian Baru. Keduanya bersama-sama menjadi fondasi gereja, yang menandakan bahwa gereja melintasi batas waktu dan perjanjian. Ini adalah satu umat Allah yang sama, dibangun oleh Allah sendiri, disatukan oleh karya penebusan Kristus, yang telah direncanakan sejak semula.
3. Gambaran Gereja di Surga Mewakili Kedua Perjanjian
Wahyu pasal 21 memberikan gambaran tentang Yerusalem Baru, kota kudus tempat tinggal Allah bersama umat-Nya kelak. Dalam ayat 12, dituliskan bahwa kota itu memiliki dua belas pintu gerbang, di atasnya tertulis nama dua belas suku Israel. Lalu dalam ayat 14 disebutkan bahwa tembok kota itu memiliki dua belas batu dasar, yang tertulis nama kedua belas rasul Anak Domba.
Gambaran ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Wahyu, yang merupakan kitab penuh simbol dan penglihatan, menunjukkan kesatuan umat Allah dari dua era: Israel (Perjanjian Lama) dan gereja (Perjanjian Baru). Dua belas suku dan dua belas rasul berdiri berdampingan sebagai penanda bahwa umat Allah adalah satu kesatuan dari zaman ke zaman. Ini menegaskan bahwa gereja tidak dimulai di Kisah Para Rasul, tetapi merupakan keberlanjutan dari umat Allah yang telah dipelihara sejak zaman nenek moyang mereka.
4. Keturunan Abraham adalah Orang-Orang yang Beriman
Alasan keempat berasal dari surat Paulus kepada jemaat di Roma, khususnya Roma 4:9–25, di mana Paulus menekankan bahwa keturunan Abraham bukan ditentukan oleh garis darah atau etnis, melainkan oleh iman. Paulus menulis bahwa “Abraham adalah bapa semua orang percaya.” Ini berarti bahwa siapa saja yang percaya kepada Allah sebagaimana Abraham percaya, mereka adalah anak-anak rohani Abraham.
Oleh karena itu, orang percaya pada masa Perjanjian Baru—yang bukan keturunan Yahudi secara biologis—tetap disebut sebagai keturunan Abraham berdasarkan iman. Ini adalah dasar kuat bahwa gereja tidak dimulai dari satu generasi atau etnis tertentu, melainkan dari mereka yang hidup oleh iman kepada Allah. Dan Abraham, bapa orang beriman, adalah representasi awal dari gereja.
Gereja: Rencana Allah Sejak Kekekalan
Keempat alasan di atas membawa kita kepada satu kesimpulan teologis yang mendalam: gereja bukan sekadar institusi historis, tetapi adalah bagian dari rencana kekal Allah. Efesus 1:4 berkata bahwa Allah telah memilih kita di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan. Ini berarti keberadaan gereja sudah ada dalam hati Allah bahkan sebelum penciptaan.
Sejak kejatuhan manusia pertama, Allah tidak tinggal diam. Dia mulai memanggil, menguduskan, dan menyelamatkan orang-orang pilihan-Nya. Dari Adam dan Hawa, Nuh, Abraham, Musa, hingga Daud dan para nabi, Allah telah menyatakan kasih-Nya dan mengumpulkan umat-Nya. Semua ini menunjukkan bahwa gereja adalah karya Allah yang tidak terputus, progresif, dan terus berjalan menuju kesempurnaan di dalam Kristus.
Gereja Tidak Akan Pernah Gagal
Pemahaman ini membawa penghiburan yang besar. Jika gereja berasal dari manusia, maka ia mudah gagal dan hancur. Namun karena gereja berasal dari Allah, maka gereja tidak akan pernah gagal. Yesus sendiri berjanji dalam Matius 16:18, “di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.”
Janji ini menggarisbawahi bahwa eksistensi gereja adalah jaminan Allah sendiri, bukan hasil usaha manusia. Gereja akan tetap ada, bahkan dalam masa-masa penuh tantangan, penganiayaan, dan kesesakan. Gereja telah bertahan sepanjang sejarah—melewati kekaisaran, perang, dan zaman gelap—karena Allah yang memeliharanya.
Kesimpulan: Kita Adalah Bagian dari Gereja yang Kekal
Mengetahui bahwa gereja sudah ada sejak Perjanjian Lama dan merupakan rencana kekal Allah memberikan makna yang dalam terhadap identitas kita sebagai orang percaya. Kita bukan sekadar bagian dari komunitas lokal atau anggota denominasi tertentu. Kita adalah bagian dari ekklesia Allah yang kekal, yang telah dimulai sejak dahulu kala dan akan digenapi di dalam kekekalan.
Pemahaman ini menumbuhkan rasa syukur dan tanggung jawab. Gereja bukan sekadar tempat ibadah atau organisasi sosial. Gereja adalah tubuh Kristus yang hidup, yang telah ditebus oleh darah-Nya, yang dipanggil untuk menjadi terang dan garam dunia.
Sebagai anggota gereja, kita dipanggil untuk hidup sesuai dengan panggilan kita: setia, kudus, penuh kasih, dan mengabarkan Injil kepada semua bangsa. Kita bukan generasi pertama, dan bukan yang terakhir. Kita adalah bagian dari satu benang merah sejarah penebusan Allah yang tidak pernah terputus. Dan sebagaimana Allah telah setia sejak zaman para nabi, Ia juga akan setia menyertai kita hari ini—dan sampai selama-lamanya.