Kesempurnaan sering menjadi ambisi banyak orang, baik dalam hal fisik, pencapaian, maupun kehidupan sosial. Namun, Alkitab mengajarkan sebuah kesempurnaan yang berbeda, yaitu kesempurnaan berdasarkan sifat Allah. Dalam Matius 5:48, Yesus memerintahkan, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Teks ini memberikan panduan penting tentang apa artinya menjadi sempurna dalam pengertian Kristiani.
Keutamaan Kesalehan Kristiani
Pembacaan konteks Matius 5:48 menunjukkan bahwa Yesus menuntut kesalehan yang melampaui standar dunia. Kasih yang Yesus ajarkan bukan hanya kepada mereka yang baik kepada kita, tetapi juga kepada musuh-musuh kita (ayat 46-47). Standar ini sangat tinggi dibandingkan dengan perilaku manusia pada umumnya.
Kesalehan orang percaya juga harus melebihi kesalehan orang Farisi dan ahli Taurat (ayat 20). Mereka dikenal teliti dalam menjabarkan hukum Taurat, bahkan hingga hal-hal kecil (Matius 23:23). Namun, kesalehan mereka sering kali bersifat munafik, karena mereka melakukannya untuk mendapat pujian, bukan untuk memuliakan Allah (Matius 23:5-7). Dengan demikian, kesalehan Kristiani harus melampaui standar tersebut, tidak hanya dalam tindakan tetapi juga dalam motivasi yang berasal dari hati yang tulus.
Keunikan Kesalehan Kristiani
Tidak semua kesalehan sejati adalah kesalehan yang benar. Paulus menekankan bahwa upaya kesalehan tanpa pengertian yang benar dapat menjadi kesalahan besar (Filipi 3:1-6; Kolose 2:20-23). Matius 5:48 memberikan tiga poin utama tentang keunikan kesalehan Kristiani:
1. Bersumber dari Sifat Allah
Kesalehan sejati dalam kekristenan tidak hanya berfokus pada aturan, tetapi pada sifat Allah sendiri. Yesus mengajarkan bahwa semua perintah dan larangan dalam hukum Taurat berakar pada karakter Allah, dimana Allah yang penuh kasih menentang kebencian. Allah yang kudus menolak perzinahan. Allah yang benar menuntut integritas. Allah yang murah hati memerintahkan kasih kepada semua orang.
Karena itu, perilaku kita harus mencerminkan sifat Allah. Seperti yang dikatakan dalam 1 Petrus 1:16, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Selain itu, tindakan kasih kita kepada sesama seharusnya menjadi terang yang memuliakan Allah (Matius 5:16). Dengan kata lain, kesalehan kita adalah gambaran Allah yang kita sembah.
2. Berfokus pada Proses, Bukan Hasil
Perintah untuk menjadi sempurna sering kali membingungkan. Kata “sempurna” dalam bahasa Yunani (teleios) memang berarti “sempurna,” tetapi menekankan kesempurnaan sebagai sebuah proses. Persoalan ini terlihat ketika Yesus berkata bahwa kesempurnaan Allah harus menjadi standar kita. Tentu, manusia tidak mungkin mencapai tingkat kesempurnaan Allah. Namun, yang terpenting dalam ajaran Yesus adalah proses menuju kesempurnaan tersebut.
Paulus menggambarkan perjalanan ini dalam Filipi 3:13-14: “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Orang Kristen dipanggil untuk terus bertumbuh, meskipun akan jatuh dan gagal. Namun, dalam setiap kegagalan, mereka dipanggil untuk bangkit kembali (Mazmur 37:24; Amsal 24:16).
3. Didasarkan pada Anugerah Allah
Yesus menyadari bahwa manusia tidak mampu mencapai kesempurnaan yang dituntut oleh hukum Taurat. Karena itu, Ia datang untuk menggenapi hukum Taurat (Matius 5:17). Kristus, melalui pengorbanan-Nya di kayu salib, memenuhi tuntutan hukum Taurat yang tidak dapat kita penuhi. Paulus menegaskan bahwa Kristus adalah pencipta dan penyempurna iman kita (Ibrani 12:2).
Melalui anugerah Kristus, orang percaya disempurnakan sehingga mereka dapat berdiri tanpa cela di hadapan Allah (Efesus 1:4; Kolose 1:22). Ketaatan orang Kristen bukanlah hasil dari keterpaksaan, tetapi respons syukur atas kasih karunia Allah. Melalui Kristus, kita disempurnakan untuk menjadi alat yang memuliakan Allah.
Kesimpulan
Matius 5:48 mengajarkan bahwa kesempurnaan dalam kekristenan bukanlah soal pencapaian pribadi, tetapi tentang mencerminkan sifat Allah. Keutamaan kesalehan Kristiani terlihat dalam pengenalan sifat-sifat Allah, kesalehan yang melampaui kemunafikan, dan ketaatan yang didasarkan pada anugerah.
Kesalehan sejati bersumber dari Allah, berfokus pada proses bertumbuh dalam iman, dan didasarkan pada pengorbanan Kristus. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk terus bertumbuh dalam kesempurnaan, bukan dengan mengandalkan diri sendiri, tetapi dengan bersandar sepenuhnya pada kasih karunia Allah. Seperti yang Paulus katakan, “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Galatia 2:20). Mari kita hidup mencerminkan kesempurnaan Allah dalam setiap aspek kehidupan kita.