SERANGAN IBLIS DALAM PERJANJIAN BARU
Yohanes Dodik Iswanto
PENDAHULUAN
Alkitab dengan tegas mengatakan bahwa orang percaya akan senantiasa mengalami peperangan rohani. Peperangan rohani tersebut bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan roh-roh jahat (Efesus 6:12). Ini adalah peperangan melawan iblis (Yakobus 4:7) yang akan terus berjalan berkeliling hendak menelan orang yang dapat ditelannya (1 Petrus 5:8). Dalam sisi lain, Kristus sudah mengalahkan iblis dan roh-roh jahat. Dia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa (Kolose 2:15), menghakimi (Yohanes 12:31; 16:11), dan membinasakan mereka (Ibrani 2:14-15).
Dalam kehidupan sehari-hari sebagian besar orang Kristen menganggap bahwa peperangan rohani melawan roh-roh jahat masih menjadi ketakutan tersendiri. Karena itu munculah berbagai pertanyaan yang diantaranya apakah iblis dapat menyerang orang Kristen baik secara rohani maupun tubuh jasmani sehingga menyebabkan penderitaan atau bahkan kematian? Atau dalam hal yang sangat ekstrem, apakah iblis dapat mengontrol kehidupan orang percaya? Berdasarkan pertanyaan tersebut maka makalah ini akan membahas berbagai serangan iblis terhadap orang percaya. Diharapkan melalui pemaparan ini, orang percaya mengetahui berbagai serangan iblis dalam ranah sempit perspektif Perjanjian Baru.
PENGAKUAN ALKITAB TENTANG OTORITAS ORANG KRISTEN ATAS ROH-ROH JAHAT
Alkitab mengatakan bahwa orang Kristen yang menerima penebusan karya Yesus memiliki kuasa atas roh-roh jahat. Statement ini sangat penting dibuktikan melalui kesaksian Alkitab sebelum membahas secara kontras terkait dengan serangan Iblis yang dialami orang Kristen. Pertanyaannya adalah jika orang Kristen memiliki otoritas atas iblis, mengapa dalam bagian Alkitab lain, termasuk Perjanjian Baru menceritakan bahwa mereka dapat mengalami serangan Iblis.
Beberapa catatan Perjanjian Baru yang menyatakan otoritas orang Kristen atas iblis sebagai berikut:
- Para murid Yesus diberikan kuasa mengusir setan dalam pelayanan mereka.
Dalam Matius 10:1 menuliskan bahwa Yesus memanggil dan memberi para murid kuasa untuk mengusir setan. Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan (Matius 10:1 ITB). Wewenang tersebut adalah inisiatif dan kehendak Yesus sekaligus sumber dari otoritas bagi para murid karena kuasa yang dimiliki para murid adalah dari Yesus.[1] Bagi Dr. Thomas L. Constable, pemberian kuasa tersebut adalah adalah kuasa baru yang Yesus delegasikan kepada para murid untuk misi yang akan diberikan kepada mereka. Kuasa tersebut merupakan demonstrasi yang nyata dari keagungan Yesus.[2] Yesus menghendaki para murid berperang melawan kuasa-kuasa kejahatan dengan mengusir roh jahat dan menyembuhkan penyakit yang ditunjukkan melalui kuasa peperangan rohani yang dinilai sebagai pernyataan terus menerus dari kerajaan Allah di bumi.[3] Menurut Newman dan Stine, istilah kuasa di sini memakai bahasa Yunani yang mengandung arti ”hak” untuk menggunakan ”kuasa” mengatasi roh-roh jahat. Jadi kuasa ini bukan berarti sebagai keahlian, kekuatan atau kemampuan jasmani. Beberapa penerjemah menggunakan ungkapan ”kuasa untuk memerintahkan”.[4] Ada kemungkinan bahwa otoritas atas roh-roh jahat terkait dengan penyembuhan penyakit. Hal ini terkait pandangan umum bahwa sebagian besar (tidak semua) penyakit disebabkan oleh roh-roh jahat.[5]
Newman dan Stine menjelaskan bahwa istilah harfia roh-roh jahat adalah “roh-roh najis”, ”roh-roh yang tidak bersih”. Dalam budaya Yahudi orang yang dikuasai oleh roh jahat dianggap najis, karena itu mereka dikucilkan dari kehidupan sosial dan agama dalam masyarakat karena dianggap “najis” sehingga mereka tidak boleh mengikuti upacara keagamaan atau membuat seseorang tidak layak untuk menyembah Allah.[6] Roh-roh ini harus dianggap jahat karena mereka menentang rencana Tuhan dan kesejahteraan manusia.[7]
Otoritas dan kuasa para rasul mengusir setan juga terdapat dalam Kisah Rasul 19:12. Alkitab berkata: “Bahkan orang membawa saputangan atau kain yang pernah dipakai oleh Paulus dan meletakkannya atas orang-orang sakit, maka lenyaplah penyakit mereka dan keluarlah roh-roh jahat“ (Kisah Rasul 19:12 ITB). Keunikan pengusiran setan pada ayat itu bahkan menggunakan saputangan atau kain yang pernah dipakai oleh Paulus dan meletakkannya atas orang-orang sakit. Melalui itu, lenyaplah penyakit mereka dan keluarlah roh-roh jahat. Kain tersebut adalah kain keringat, yang biasanya dikenakan di kepala untuk mencegah keringat mengalir ke mata.[8] Menurut Newman dan Nida, saputangan atau kain yang pernah dipakai oleh Paulus merujuk kepada benda-benda yang dipakai Paulus pada waktu bekerja. Kata saputangan diterjemahkan dari istilah yang berarti kain penyeka keringat, yang biasanya dipakai sebagai ikat kepala. Sedangkan kata kain diterjemahkan dari istilah yang berarti kain kerja yang dipakai untuk melindungi pakaian pada waktu bekerja agar tidak kotor (kain pengikat pinggang).[9] Hal ini menunjukan bahwa pengusiran setan tersebut sebagai penolakan terhadap praktik sihir yang banyak dilakukan orang waktu itu yang menggunakan benda-benda bernuansa mistik.[10]
2. Adanya para murid yang bukan para rasul juga diberikan kuasa mengusir setan.
Kuasa pengusiran setan tidak hanya dimiliki para rasul. Dalam Kisah Rasul 8:7 menceritakan bahwa orang percaya yang tidak termasuk para rasul pun memiliki kuasa untuk mengusir setan. Alkitab mengatakan: “Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan orang timpang yang disembuhkan” (Kisah Rasul 8:7 ITB). Secara terjemahan literal Newman dan Nida menuliskan: “Sebab roh-roh jahat keluar dari banyak orang yang kerasukan roh-roh itu. Mereka keluar sambil berteriak dengan suara keras”.[11] Pelayanan tersebut dilakukan oleh Filipus. Dia bukanlah rasul Filipus yang dinyatakan dalam Yohanes 1:43-44. Dia adalah seorang Yahudi yang berbahasa Yunani yang penuh dengan Roh dan hikmat (Kisah Rasul 6:3), dan menjadi salah seorang yang dipilih menjadi pelayan jemaat (Kisah Rasul 6:5).[12] Dalam perikop tersebut dikatakan Filipus juga bisa melakukan mujizat seperti Yesus dan para rasul yaitu dia mengusir setan dan menyembuhkan orang-orang yang “buta” dan “lumpuh”.[13]
3. Orang percaya akan terbebas dari berbagai serangan iblis.
Dalam beberapa teks Perjanjian Baru juga menunjukkan bahwa orang percaya akan aman dan terbebas dari berbagai serangan iblis. Misalnya dalam 1 Yohanes 4:4 menjelaskan bahwa Roh di dalam diri orang percaya lebih besar daripada roh apapun yang di dalam dunia. Alkitab menuliskan: “Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia” (1 Yohanes 4:4 ITB).
Dalam bagian lain, khususnya Kolose 1:13, di sana disebutkan bahwa orang percaya juga dilepaskan dari kegelapan. Di sana tertulis: “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih” (Kolose 1:13 ITB). Artinya, secara negatif, Tuhan telah membebaskan kita dari kuasa kegelapan, dan secara positif, Allah telah menempatkan kita di bawah kekuasaan Putra-Nya yang terkasih.[14]
Hal yang sama juga disebutkan dalam kesaksian Yohanes. Dalam doanya, Yesus meminta Allah melindungi umat-Nya dari yang jahat. Yesus berkata: “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat” (Yohanes 17:15 ITB). Frasa ini bisa berarti “jahat”, secara umum frasa tersebut merujuk pada “Si Jahat”, yaitu Setan.[15] konteks ayat ini adalah terkait dengan rencana keselamatan bagi dunia, dimana orang percaya harus tetap ada dalam dunia sebagai saksi dari pemerintahan yang berdaulat dalam Kasih karunia Allah.[16]
Orang percaya mendapatkan jaminan perlindungan dari iblis karena Allah senantiasa menguatkan dan menjaga umat-Nya dari si jahat. Alkitab berkata: “Tetapi Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat” (2 Tesalonika 3:3 ITB). Konteks perikop ini berbicara tentang kejahatan selalu hadir atau banyak dialami orang percaya, tetapi dengan keberadaan Tuhan yang setia, Dia akan menyelamatkan dan melindungi pengikut-Nya dari orang jahat dan Dia akan menguatkan dan melindungi mereka dari si jahat.[17] Paulus yakin bahwa Tuhan akan memberikan kekuatan dan perlindungan bagi jemaat Tesalonika, mengingat janji-Nya yang disediakan bagi umat milik-Nya.[18]
Dalam surat 1 Yohanes 5:18 mengatakan bahwa Iblis tidak dapat menjamah orang percaya. Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya (1 Yohanes 5:18 ITB). Ketika seseorang lahir dari Tuhan, si jahat tidak dapat mencelakakannya. Menurut Constable, orang percaya yang lahir dari Allah akan dijaga dari dosa. Selain itu, setan (“si jahat”) tidak bisa “menyentuhnya”. Ini tidak berarti bahwa Setan tidak dapat menyerang atau menyakiti secara fisik seorang Kristen yang rohani dan taat (lih. Ayub), tetapi lebih menunjukkan bahwa ia tidak dapat menghancurkan orang Kristen yang rohani dan taat dalam iman dan kesaksiannya.[19]
4. Adanya janji kemenangan atas iblis
Alkitab menjanjikan kepada orang percaya kemenangan atas iblis. Meski demikian janji tersebut terkesan bahwa janji tersebut bukanlah tanpa syarat. Syarat pertama, orang percaya harus mengenakan perlengkapan senjata Allah dalam memasuki peperangan rohani dengan iblis (Efesus 6:13-18). Karena itu pertanyaan yang muncul adalah apakah yang akan terjadi kepada orang percaya jika tidak menggunakan senjata Allah dalam peperangan rohani melawan iblis?
Dalam Efesus 6:13, Paulus memberikan peringatan bahwa karena kita melawan kuasa-kuasa jahat, maka kita harus memakai perlengkapan dari Allah.[20] Tindakan yang diharapkan oleh Paulus adalah “ambilah” yang bermakna “pergunakanlah” yang berarti mengambil persenjataan dan membawa atau mengenakannya untuk berperang. Selain itu “mengadakan perlawanan” yang secara harfiah adalah “berdiri melawan” yang berarti sikap bertahan, melawan dan membalas serangan musuh rohani itu.[21] Dengan demikian orang percaya perlu mengingat bahaya dengan menganggap enteng atau meremehkan strategi dan kekuatan Iblis sehingga tidak mengenakan seluruh perlengkapan senjata yang diperlukan.[22]
Kedua, orang percaya harus tunduk kepada Allah sebagai syarat mutlak kemenangan atas iblis. Hal ini tampak dalam Yakobus 4:7 yang berkata: “Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!”. Karena itu pertanyaan yang perlu dibahas adalah apakah yang akan terjadi jika orang percaya tidak mau tunduk kepada Allah?
Menurut Constable, pengertian “tunduk” adalah “kerendahan hati”. Artinya menjadikan apa yang penting bagi Allah adalah penting bagi kita, mengatur prioritas kita selaras dengan prioritas Allah. Itu berarti orang percaya tidak hidup untuk memenuhi ambisi pribadi tetapi menggunakan hidup untuk memenuhi kehendak-Nya. Ketundukan tidak identik dengan ketaatan. Ketundukan melibatkan penyerahan kehendak yang menghasilkan ketaatan.[23] Ropes berpendapat bahwa ketundukan yang dimaksud dalam arti penyerahan seluruh jiwa kepada Tuhan. Ketundukan lebih dari ketaatan, sebab ketundukan lebih melibatkan kerendahan hati.[24] Menurut Loh dan Hatton, frasa “Tunduk kepada Allah” berarti merendahkan diri, taat kepada dan menempatkan diri di bawah kuasa Allah. Karena itu tunduk kepada Allah berarti taat secara mutlak kepada Allah.[25] Selain tunduk kepada Allah, ayat ini juga menyatakan bahwa orang percaya juga diperintah untuk melawan Iblis, dan iblis akan lari.[26]
BERBAGAI SERANGAN IBLIS TERHADAP ORANG PERCAYA
Alkitab memberikan nasihat serius tentang berbagai serangan iblis yang dapat dialami orang percaya. Sedangkan di sisi lain, Alkitab juga dengan tegas menyatakan jaminan serta perlindungan Allah terhadap kuasa iblis. Dengan demikian, sepertinya ada kemungkinan bahwa dalam taraf tertentu iblis dapat menyerang dan mempengaruhi orang Kristen. Dari beberapa ayat Alkitab yang memberi peringatan serius untuk senantiasa mewaspadai iblis, setidaknya ada beberapa hal yang dapat menunjukan serangan iblis pada orang percaya.
Dalam 2 Korintus 2:11 Paulus mengingatkan bahwa iblis dapat mengambil keuntungan dari kehidupan orang percaya. Paulus mengatakan: “Supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya” (2 Korintus 2:11 ITB). Perikop tersebut terkait dengan disiplin rohani. Menurut Utley, ini menarik untuk diketahui bahwa setan menggoda dengan sikap yang memiliki kecenderungan kepada kejahatan atau sebuah penyimpangan dari kebaikan. Karena itu sikap yang tidak tepat, tidak mau mengampuni, marah, atau sombong yang dimiliki jemaat bisa membuka pintu bagi setan untuk mengganggu persekutuan.[27] Selain itu iblis juga dapat mengambil kesempatan untuk mengganggu kehidupan tubuh Kristus. Nasihat ini dikatakan Paulus: “Dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis” (Efesus 4:27 ITB). Ayat ini terkait dengan penguasaan diri terhadap kemarahan. Iblis tidak boleh diberi kesempatan memanfaatkan orang percaya berbuat dosa . Kata “kesempatan” secara harfiah berarti “tempat” atau “kedudukan”[28].
Dalam perikop lain Alkitab menjelaskan bahwa seseorang yang baru bertobat rawan terhadap jerat iblis. Di sana Paulus menasihatkan bahwa petobat baru dilarang menjadi pemimpin rohani (1 Timotius 3:6-7). Alkitab berkata: “Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis. Hendaklah ia juga mempunyai nama baik di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam jerat Iblis” (1 Timotius. 3:6-7 ITB). Istilah “jerat iblis” yang dimaksud di sini adalah jerat yang dipasang oleh iblis untuk menangkap mereka yang angkuh dan penuh kesombongan. Artinya, iblis akan menjeratnya, Iblis akan membuatnya terperangkap, atau iblis akan menipunya dan menguasainya.[29] Jadi konteks dalam perikop tersebut terkait pandangan Paulus yang memperhatikan adanya peperangan rohani (lihat. 1 Timotius 6:9-10; Efesus 2:1-3; 4:14; 6:10-19). Karena itu kesalehan adalah suatu senjata, tapi keegoisan adalah sebuah pintu yang terbuka bagi kejahatan.[30]
Dalam bagian lain Alkitab, Petrus memperingatkan bahwa iblis mencari orang yang dapat ditelan olehnya (1 Petrus 5:8). Petrus berkata: “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1 Petrus 5:8 ITB). Perintah yang serius ini adalah panggilan kepada pembaca untuk mempersiapkan diri dalam pikiran dan semangat untuk masuk dalam pertempuran yang menentukan dengan satu musuh besar mereka, yaitu iblis.[31] Petrus menjelaskan suatu pencobaan yang berasal dari pribadi setan yang bekerja melawan kehendak Tuhan supaya orang percaya tunduk kepada iblis sebagai kebalikan dari ketekunan dalam iman (5:9). Karena itu kehidupan Kristen menuntut kesetiaan kepada Allah daripada kepada musuh iman atau keinginan manusia yang muncul dari penyembahan berhala (4:2–3).[32]
Dari peringatan-peringatan serius diatas, maka pertanyaan yang akan dijawab adalah apa saja bentuk serangan iblis yang dapat terjadi pada orang percaya? Dalam materi ini tidak akan membahas topik kerasukan secara khusus, tetapi bentuk-bentuk serangan iblis terhadap pribadi atau komunitas orang percaya dari kacamata Perjanjian Baru. Gambaran umum serangan iblis terhadap orang percaya antara lain:
- Perpecahan adalah salah satu bentuk serangan iblis dalam komunitas orang percaya.
Alkitab menyebutkan beberapa ayat yang menunjukan peran iblis dalam bentuk perpecahan di tengah orang percaya. Berdasarkan pernyataan Efesus 4:27 yang berisi nasihat Paulus agar tidak memberi kesempatan kepada iblis, konteks perikop menunjukan bahwa jemaat Efesus sedang mengalami kondisi yang tidak harmonis (Efesus 4:25-32). Di sana Paulus memberikan empat nasihat singkat tentang kebohongan (25), kemarahan (26), pencurian (28) dan ucapan tidak murni (29) sebagai nasihat mengatasi permasalahan dalam jemaat.[33] Nasihat tersebut adalah pembaharuan akal budi dari kehidupan sebagai ciptaan baru untuk mengatakan kebenaran dan mengendalikan kemarahan, menerapkan kejujuran dan kebaikan berbicara, memberikan pengampunan, kasih dan penguasaan diri secara seksual sebagai yang berkaitan dengan hubungan pribadi di dalam tubuh Kristus (25).[34] Jadi nasihat-nasihat tersebut sangat diperlukan untuk tidak memberi kesempatan pada iblis mengambil kesempatan jemaat berbuat dosa dalam tubuh Kristus.
Kondisi yang hampir sama juga terjadi kepada jemaat Korintus dimana mereka menghadapi masalah terkait pengampunan (2 Korintus 2:10-11). Dalam konteks tersebut Paulus meminta kelompok mayoritas untuk mengampuni (ayat 7, 10) dan meyakinkan mereka tentang keramahan dan pengampunannya yang berkelanjutan terhadap orang yang menyakiti.[35] Jadi Paulus memberi nasihat tentang bagaimana mengantisipasi perpecahan dalam jemaat yang dapat dimanfaatkan iblis.
Surat Yakobus juga menyatakan kondisi yang sama. Yakobus menuliskan kepada jemaat yang sedang berselisih dan menganggap diri berhikmat, dimana Yakobus dengan tegas menyatakan bahwa hikmat seperti itu sebenarnya berasal dari setan-setan (Yakobus 3:15). Yakobus mengatakan: “Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan.“ Pernyataan tersebut terkait hikmat yang berasal dari dunia, hawa nafsu dan setan karena dipengaruhi oleh iri hati dan pementingan diri. “Kebijaksanaan” yang menimbulkan kecemburuan dan keberpihakan berasal dari iblis.[36] Perilaku tersebut adalah perilaku yang mirip setan atau perilaku yang dianggap “dihasut oleh setan”.[37]
Dari beberapa bagian ayat Alkitab diatas dapat disimpulkan bahwa perpecahan dalam jemaat bukan sekadar terkait dengan karakter yang buruk, ketidakdewasaan rohani dan ketidakmampuan menguasai diri, tetapi iblis memiliki andil di dalamnya. Bahkan sangat tegas beberapa ayat diatas menyatakan iblis dapat memanfaatkan atau menyebabkan perpecahan jemaat.
2. Serangan iblis dapat dalam bentuk serangan fisik.
Setan adalah makhluk rohani. Meski demikian mereka memiliki kuasa tertentu yang dapat menyerang manusia. Dalam beberapa teks Perjanjian Baru, ada beberapa ayat yang mengindikasikan bahwa dalam kasus dan kondisi tertentu, iblis dapat menyerang atau menjamah tubuh orang percaya. Salah satu teks yang mengindikasikan hal tersebut adalah Lukas 13:10-17. Dalam perikop tersebut dikisahkan adanya seorang perempuan yang mengalami penyakit bungkuk yang dikatakan akibat dirasuk roh jahat. Lukas menuliskan bahwa: “Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk roh sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak” (Lukas 13:11 ITB).
Dalam perikop ini Lukas mencatat tingkat penderitaan yang dialami wanita tersebut untuk menyoroti kehebatan penyembuhan yang dilakukan Yesus, dimana rupanya setan berperan dalam penderitaan wanita itu. Dengan demikian pelayanan penyembuhan yang dilakukan Yesus melibatkan kuasa supernatural dan juga kondisi natural (penyakit).[38] Secara paparan kisah, Nolland berpendapat bahwa Lukas menceritakan kisah itu dalam bentuk bahasa yang lebih cocok untuk penyembuhan daripada pengusiran setan.[39] Meski demikian wanita itu mengalami serangan oleh roh jahat yang menyebabkan kondisinya lumpuh.[40] Setan berdiri di belakang penderitaan hidup.[41] Hasil dari kehadiran roh jahat adalah bahwa wanita itu membungkuk. Ia tidak dapat berdiri tegak.[42]
Jadi dalam perikop tersebut Lukas sebenarnya menggambarkan kondisi rohani dan jasmani seorang wanita di rumah ibadat.[43] Tidak menutup kemungkinan bahwa wanita ini adalah orang yang sudah percaya ketika Yesus menyebut perempuan ini sebagai keturunan Abraham (16), dimana iblis sudah membelenggu perempuan ini dengan penyakitnya selama delapan belas tahun tentu dia patut dilepaskan walaupun pada hari Sabat.[44] Jika benar bahwa meskipun perempuan ini adalah keturunan Abraham tetapi masih memungkinkan mendapat serangan iblis, maka kasus semacam ini sangat mirip dengan kasus yang dialami Ayub. Dikatakan meskipun dia adalah orang yang saleh (Ayub 1:1), namun dalam otoritas-Nya, Tuhan tetap memberi izin kepada iblis untuk menjamah tubuhnya (Ayub 2:4-6).
3. Bentuk serangan iblis kadangkala melalui penganiayaan terhadap orang percaya.
Bentuk serangan iblis pada orang percaya salah satunya melalui penderitaan dan aniaya. Hal ini terjadi sejak zaman gereja mula-mula. Dalam kitab Wahyu 2:9-10 membicarakan tentang aniaya yang dialami orang percaya yang dipenjarakan. Meski demikian rasul Yohanes mengkaitkan penderitaan tersebut dengan iblis. Iblis dianggap melemparkan orang percaya ke dalam penjara supaya mereka mengalami penderitaan. Disana tertulis bahwa: “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu namun engkau kaya dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis. Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan” (Wahyu 2:9-10 ITB). Bahkan dalam catatan Wahyu 2:13 menyatakan bahwa saksi Tuhan pun dibunuh di tempat iblis berdiam, dengan demikian menyatakan bahwa pembunuhan ini melibatkan intervensi iblis. Alkitab mengatakan: “Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat takhta Iblis; dan engkau berpegang kepada nama-Ku, dan engkau tidak menyangkal imanmu kepada-Ku, juga tidak pada zaman Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu, di mana Iblis diam” (Wahyu 2:13 ITB).
Constable menjelaskan konteks perikop tersebut bahwa orang percaya digambarkan menderita “kesengsaraan” yang secara harfiah adalah “tekanan” sebagai akibat dari kesaksian iman mereka. Selain itu mereka juga tergolong orang yang mengalami “kemiskinan” yang hina. Meski demikian terlepas dari kemiskinan fisik mereka, orang-orang Kristen di Smirna disebut “kaya”, secara rohani. Ini adalah cobaan yang akan digunakan Setan (“kamu akan diuji”) untuk membujuk orang percaya agar menjauh dari Tuhan.[45] Dengan kata lain pembunuhan ini tetap berkaitan dengan aktivitas kuasa kegelapan, walaupun kita tidak mengetahui apakah mereka langsung membunuh orang percaya atau mereka menggunakan para penganiaya.[46]
Bratcher dan Hatton menjelaskan pelaku aniaya tersebut disebutkan adalah orang Yahudi. Secara jasmani orang-orang itu memang Yahudi, namun secara rohani mereka bukanlah Yahudi; mereka adalah jemaah Iblis. Jemaah Iblis bisa dimengerti sebagai “jemaah milik Iblis” dan bisa juga “jemaah yang melayani Iblis” bukan Tuhan Allah (lihat Yohanes 8:44). Kata jemaah sebaiknya diterjemahkan dengan arti “kumpulan orang”. Iblis diterjemahkan dari bahasa Ibrani yang berarti ”musuh” atau “lawan”, yakni nama kepala semua kuasa jahat. Dan jemaah Iblis merupakan lawan dari ”jemaah Allah”.[47]
4. Iblis dapat mempengaruhi manusia jatuh dalam dosa.
Salah satu aktivitas iblis yang banyak disebutkan Alkitab adalah mempengaruhi manusia dalam hal dosa. Iblis dapat menjatuhkan siapa saja dalam dosa, baik orang percaya maupun tidak percaya. Dosa orang berdosa bersumber dari “iblis” (1 Yohanes 3:8-10).[48] Meski demikian Yohanes tidak bermaksud bahwa dengan berbuat dosa menunjukkan bahwa seseorang belum diselamatkan (1:7-10). Ini terkait kehidupan sebelum dilahirkan oleh Allah adalah orang yang senantiasa berbuat dosa.[49] Frasa “barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis” menggambarkan bahwa anak-anak Allah dikenal dari bagaimana mereka hidup, demikian juga anak-anak setan (lihat 3:10; Efesus 2:1-3).[50]
Dalam bagian catatan Alkitab disebutkan bahwa tidak setiap dosa disebabkan oleh iblis (Yakobus 1:14-15), tetapi pada sisi lain Alkitab memberikan banyak bukti bahwa iblis terlibat dalam dosa-dosa tertentu dalam kehidupan manusia. Misalnya dalam pernyataan Kisah Rasul 5: 3 menyebutkan bahwa dosa kemunafikan adalah bentuk dikuasai iblis. Alkitab berkata: “Tetapi Petrus berkata: “Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?” (Kisah Rasul 5:3 ITB). Selain itu dosa perzinahan adalah godaan iblis (1 Korintus 7:5). Paulus menuliskan: “Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak” (1 Korintus 7:5 ITB). Satu contoh dosa lain adalah kecongkakan yang juga berasal dari pengaruh iblis dan harus dilawan (Yakobus 4:6-10). Yakobus menuliskan bahwa: “Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” (Yakobus 4:6-7 ITB).
5. Aktivitas iblis dapat berupa penyesatan.
Ajaran sesat adalah salah satu masalah yang terjadi dalam sejarah gereja. Ada banyak ayat yang menunjukan hal tersebut. Terkait dengan serangan iblis terhadap komunitas atau pribadi orang percaya adalah penyesatan Banyak teks yang memberi indikasi tentang hal itu. Salah satu diantaranya adalah 1 Timotius 4:1 yang menyatakan bahwa ajaran yang sesat merupakan hasil dari pekerjaan roh-roh penyesat dan setan-setan. Paulus mengatakan: “Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan.” (1 Tim. 4:1 ITB).
Dalam perikop ini, Paulus mengingatkan Timotius tentang kemurtadan yang telah dinubuatkan Yesus Kristus, untuk memperlengkapi dia, untuk mengenali dan menghadapinya.[51] Berbeda dengan wahyu Allah yang benar, pengajaran palsu akan muncul seiring berjalannya waktu. Adanya istilah “Roh” merujuk kepada Roh Kudus, yang “dengan tegas”, artinya pesan yang disampaikan “dengan jelas” atau “terus terang” sehingga pesan dari Roh Kudus mudah dimengerti.[52] Berbeda juga dengan pengajaran roh-roh jahat yang menyesatkan berserta dengan ajaran-ajaran mereka.[53] Hal ini terjadi sebagai pengaruh dari pendekatan dan argumen-argumen menyimpang yang diajukan oleh musuh-musuh rohani Allah dan figur yang berada di belakang mereka yaitu “setan-setan” (ay. 1).[54]
6. Iblis menyerang orang percaya atas seizin Allah.
Dari berbagai serangan iblis yang disebutkan dalam Alkitab, salah satu kasus yang unik adalah pengalaman Paulus yang mengindikasikan salah satu bentuk serangan iblis atau orang percaya. Dalam 2 Korintus 12:7-8, Paulus mengatakan bahwa dia diberi (pasif) suatu duri dalam daging. menariknya, Paulus sendiri menyebut duri dalam daging ini sebagai utusan iblis yang menggocoh dia. Makna dari ungkapan “duri dalam daging” sampai saat ini masih terus menjadi perdebatan.[55] Meski demikian, pemahaman sederhana tidak menghilangkan fakta bahwa iblis dalam taraf tertentu memang diberi izin oleh Tuhan untuk menyerang orang percaya.[56]
Berdasarkan penjelasan di atas, beberapa bentuk serangan iblis tidak hanya terkait langsung dengan pribadi orang percaya, tetapi juga bisa dialami komunitas orang percaya yaitu gereja. Serangan tersebut dapat bersifat disharmonisasi sosial atau komunitas, menghalangi proses pemberitaan Injil, penyakit fisik dan berbagai penderitaan, keterkaitan dengan hal rohani khususnya dosa-dosa tertentu, serta serangan terkait intelektual dengan adanya penyesatan.
KESIMPULAN
Sebagai kesimpulan, Alkitab memberikan kepastian dan jaminan kepada orang percaya berotoritas atas iblis dan mendapat perlindungan dari serangan iblis oleh karena kuasa Allah. Meski demikian dalam hal tertentu iblis masih dapat menyerang orang percaya maupun komunitas gereja. Jika dicermati lebih saksama, serangan iblis memiliki batasan-batasan tertentu dalam dampak yang ditimbulkan dari serangan tersebut. Iblis dapat menyerang dalam hal fisik maupun non fisik. Meski demikian semuanya terjadi atas seizin otoritas Allah. Jika serangan iblis terkait dengan hal spiritualitas orang percaya, maka ayat-ayat Alkitab yang mengindikasikan bahwa serangan iblis tidak akan berdampak sampai-sampai keselamatan orang percaya dapat hilang.
[1] Davies, W. D., & Allison, D. C., A critical and exegetical commentary on the Gospel according to Saint Matthew (London; New York: T&T Clark International, 2004) 150.
[2] Thomas L. Constable, Dr. Constable’s Notes on Matthew (Sonic Light, Edisi 2021) 278-279.
[3] Alkitab Hidup Berkelimpahan (Malang: Penerbit Gandum Mas, 2015) 1520.
[4] Barclay M. Newman dan Philip C Stine, Pedoman Penafsiran Alkitab, Kitab Matius (Jakarta: LAI, 2008) 277.
[5] Hagner, D. A., Word Biblical Commentary: Matthew 1-13 (edisi elektronik Logos Library System) (Dallas: Word, Incorporated, 1998) 265.
[6] Barclay M. Newman dan Philip C Stine, Pedoman Penafsiran, 277.
[7] Morris, L., The Gospel according to Matthew (Grand Rapids, Mich.; Leicester, England: W.B. Eerdmans; Inter-Varsity Press, 1992) 242.
[8] Barrett, C. K., A critical and exegetical commentary on the Acts of the Apostles. The international critical commentary on the Holy Scriptures of the Old and New Testaments (Edinburgh: T&T Clark, 2004) 907.
[9] Barclay M. Newman dan Eugene Nida, Pedoman Penafsiran Alkitab, Kisah Rasul-rasul (Jakarta: LAI, 2008) 532.
[10] Talbert, C. H., Reading Acts : A Literary and Theological Commentary on the Acts of the Apostles (Rev. ed.). Reading the New Testament series (Macon, GA: Smyth & Helwys Publishing,2005) 169.
[11] Barclay M. Newman dan Eugene Nida, Pedoman Penafsiran Alkitab, Kisah Rasul-rasul, 230.
[12] Alkitab Hidup Berkelimpahan Seri: Life Application Study Bible (Malang: Penerbit Gandum Mas, 2016) 2267.
[13] Thomas L. Constable, Dr. Constable’s Notes on Acts (Sonic Light, Edisi 2021) 194.
[14] O’Brien, Peter T., Word Biblical Commentary : Colossians-Philemon Vol. 44 (electronic ed.). Logos Library System; Word Biblical Commentary (Dallas: Word, Incorporated,1998) 27.
[15] Thomas L. Constable, Dr. Constable’s Notes on John (Sonic Light, Edisi 2021) 440.
[16] Beasley-Murray, G. R., Word Biblical Commentary : John, Vol. 36 (electronic ed.). Logos Library System; Word Biblical Commentary (Dallas: Word, Incorporated,1998) 300).
[17] Bob Utley, Surat-surat Pertama Paulus: Galatia dan I & II Tesalonika (Texas, Bible Lesson International, 2010) 231.
[18] Thomas L. Constable, Dr. Constable’s Notes on 2 Thessalonians (Sonic Light, Edisi 2021) 39.
[19] Thomas L. Constable, Dr. Constable’s Notes on 1 John (Sonic Light, Edisi 2021) 122.
[20] Robert G. Bratcher dan Eugene A. Nida, Pedoman penafsiran Alkitab-Surat Paulus Kepada Jemaat di Efesus (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia dan Yayasan Kartidaya, 2013) 165.
[21] Robert G.Bratcher dan Eugene A. Nida, Pedoman penafsiran Alkitab-Surat Paulus Kepada Jemaat di Efesus, 165.
[22] Warren W. Wiersbe, Hidup bersama Firman, Roma-Wahyu (Jakarta: Yayasan Gloria, 2011) 68.
[23] Thomas L. Constable, Dr. Constable’s Notes on James (Sonic Light, Edisi 2005) 51-52.
[24] Ropes, J. H., A critical and exegetical commentary on the Epistle of St. James (New York: C. Scribner’s sons, 1916) 268.
[25] I-Jin Loh dan Howard A. Hatton, John Nolland, Word Biblical Commentary : Luke 9:21-18:34
[26] Martin, R. P., Word Biblical Commentary: James (electronic ed.). Logos Library System; Word Biblical Commentary (Dallas: Word, Incorporated, 1998) 152.
[27] Bob Utley, Surat-surat Paulus kepada Sebuah Gereja Yang Bermasalah: I dan II Korintus (Texas: Biblle Lesson International, 1997) 308.
[28] Robert G.Bratcher dan Eugene A. Nida, Pedoman penafsiran Alkitab-Surat Paulus Kepada Jemaat di Efesus, 118.
[29] Daniel C. Arichea, Pedoman Penafsiran Alkitab – Surat-surat Kepada Timotius dan Titus (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia dan Yayasan Kartidaya, 2014) 68.
[30] Bob Utley, Perjalanan Penginjilan Paulus ke-4: I Timotius, Titus dan II Timotius (La Habra: The Lockman Foundation, 2013) 37.
[31] Michaels, J. Ramsey, Word Biblical Commentary : 1 Peter (electronic ed.). Logos Library System; Word Biblical Commentary Vol. 49 (Dallas: Word, Incorporated, 1998) 297.
[32] Earl J. Richard, Reading 1 Peter, Jude, and 2 Peter: A literary and theological commentary. Reading the New Testament series (Macon: Smyth & Helwys Publishing, 2000) 217.
[33] Ernest Best, A critical and exegetical commentary on Ephesians (Edinburgh: T&T Clark International, 1998) 443.
[34] Peter T. O’Brien, The letter to the Ephesians. The Pillar New Testament commentary (Grand Rapids, Michigan: W.B. Eerdmans Publishing Co., 1999) 334.
[35] Bob Utley, Surat-surat Paulus kepada Sebuah Gereja Yang Bermasalah, 307.
[36] Martin, R. P., Word Biblical Commentary : James (electronic ed.). Logos Library System Vol. 48 (Dallas: Word, Incorporated, 1998) 131.
[37] Ralph P. Martin, Word Biblical Commentary : James (electronic ed.). Logos Library System; Word Biblical Commentary Vol. 48 (Dallas: Word, Incorporated, 1998) 131.
[38] Thomas L. Constable, Dr. Constable’s Notes on Luke (Sonic Light, Edisi 2021) 314.
[39] John Nolland, Word Biblical Commentary: Luke 9:21-18:34 (electronic ed.). Logos Library System Vol. 35B (Dallas: Word, Incorporated, 1998) 723.
[40] Robert H. Stein, The New American Commentary – Luke. Logos Library System; (electronic ed.)(Nashville: Broadman & Holman Publishers, 2001) 373.
[41] John Nolland, Word Biblical Commentary: Luke 9:21-18:34, 724.
[42] Darrell L. Bock, Baker exegetical commentary on the New Testament – Luke Volume 2 (Grand Rapids, Michigan: Baker Books, 1996) 1215.
[43] Darrell L. Bock, Baker exegetical commentary on the New Testament – Luke, 1215.
[44] J. Reiling, J. L. Swellengrebel dan Robert Bratcher, Pedoman Penafsiran Alkitab – Injil Lukas (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia dan Yayasan Kartidaya, 2015) 458.
[45] Thomas L. Constable, Dr. Constable’s Notes on Revelation (Sonic Light, Edisi 2021) 49.
[46] Thomas L. Constable, Dr. Constable’s Notes on Revelation, 50.
[47] Robert G. Bratcher dan Howard A. Hatton, Pedoman Penafsiran Alkitab – Wahyu kepada Yohanes (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia dan Yayasan Kartidaya, 2009) 43.
[48] Thomas L. Constable, Dr. Constable’s Notes on 1 John, 75.
[49] Thomas L. Constable, Dr. Constable’s Notes on 1 John, 76-77.
[50] Bob Utley, Injil Yohanes dan Surat Yohanes (Texas, Bible Lesson International, 1996) 297.
[51] Bob Utley, Perjalanan Penginjilan Paulus ke-4: I Timotius, Titus dan II Timotius, 84.
[52] Daniel C. Arichea, Pedoman Penafsiran Alkitab – Surat-surat Kepada Timotius dan Titus, 82.
[53] Daniel C. Arichea, Pedoman Penafsiran Alkitab – Surat-surat Kepada Timotius dan Titus, 83.
[54] Bob Utley, Perjalanan Penginjilan Paulus ke-4: I Timotius, Titus dan II Timotius, 85.
[55] Ralph. P. Martin, Word Biblical Commentary : 2 Corinthians Vol. 40 (electronic ed.). Logos Library System (Dallas: Word, Incorporated. 1998) 411.
[56] Charles H. Talbert, Reading Corinthians : A literary and theological commentary on 1 & 2 Corinthians (Rev. ed.). Reading the New Testament series (Macon, GA: Smyth & Helwys Publishing, 2002) 152.