Berita tentang Akhir Zaman dan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua selalu menarik perhatian manusia sepanjang sejarah. Dorongan alami manusia untuk mengetahui masa depan membuat banyak orang menaruh perhatian khusus terhadap peristiwa-peristiwa besar yang dinubuatkan dalam Alkitab. Namun, di tengah antusiasme ini, penting bagi kita untuk memahami dan membangun sikap yang benar dalam menantikan hari kedatangan Tuhan.
Alkitab memberikan panduan yang jelas mengenai bagaimana seharusnya orang percaya bersikap ketika menanti kedatangan Yesus yang kedua. Sikap ini bukan didasarkan pada ketakutan atau spekulasi, melainkan pada iman yang kokoh, pengharapan yang teguh, dan kasih yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
1. Menantikannya dengan Penuh Kerinduan
Sikap pertama yang diajarkan Alkitab adalah merindukan kedatangan Kristus dengan sungguh-sungguh. Dalam 1 Korintus 16:22, jemaat mula-mula di Korintus memiliki kebiasaan mengakhiri ibadah mereka dengan seruan, “Maranatha!”—yang berarti “Ya Tuhan, datanglah!” Seruan ini mencerminkan hasrat yang mendalam dalam hati mereka untuk segera bertemu dengan Tuhan.
Kerinduan ini juga diungkapkan oleh Rasul Paulus dalam 2 Timotius 4:6-8, ketika ia mengetahui bahwa hidupnya di dunia akan segera berakhir. Ia berkata:
“Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.”
Kata kuncinya adalah kerinduan. Orang percaya sejati bukan hanya menunggu secara pasif, tetapi merindukan perjumpaan dengan Tuhan mereka, seperti seorang kekasih yang menantikan kembalinya orang yang dicintai.
Kerinduan ini membentuk seluruh cara hidup kita: menjadikan kita lebih kudus, lebih bersemangat dalam pelayanan, dan lebih setia dalam menjalani panggilan hidup yang Allah berikan.
2. Siap Sedia Setiap Waktu
Selain merindukan, sikap yang benar dalam menantikan kedatangan Yesus adalah kesiapsiagaan. Dalam Matius 24:36, Yesus sendiri menegaskan:
“Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri.”
Ini berarti tidak ada seorang pun, tidak ada nabi, tidak ada malaikat, bahkan Anak Allah sendiri dalam masa pelayanan-Nya di dunia, yang diberi tahu kapan tepatnya saat itu tiba. Oleh karena itu, kita dipanggil untuk hidup dalam kesiapan rohani setiap saat.
Rasul Paulus dalam 1 Tesalonika 5 menambahkan gambaran bahwa hari Tuhan akan datang “seperti pencuri pada malam.” Karena itu, kita dipanggil untuk berjaga-jaga, tidak hidup dalam kelengahan atau kemalasan rohani.
Petrus juga memperingatkan dalam 2 Petrus 3 bahwa ada orang-orang yang mengejek janji kedatangan Tuhan, namun penundaan itu bukan karena Tuhan lalai, melainkan karena Ia sabar menunggu agar semakin banyak orang bertobat.
Hidup dalam kesiapsiagaan berarti menjaga iman kita tetap menyala, hidup dalam pertobatan harian, dan melayani dengan setia tanpa menyerah.
3. Mendoakan Kedatangan Hari Itu
Selain merindukan dan bersiap, kita juga dipanggil untuk mendoakan kedatangan kerajaan Allah. Dalam Doa Bapa Kami (Matius 6:9-10), kita diajarkan untuk berdoa:
“Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.”
Permintaan ini tidak hanya berbicara tentang penyebaran Injil, tetapi juga tentang penggenapan rencana Allah dalam kedatangan Yesus yang kedua. Ketika kita berdoa “datanglah kerajaan-Mu”, kita sedang memohon agar Kristus segera kembali dan seluruh ciptaan diperbarui.
Berdoa untuk kedatangan Tuhan memperbaharui hati kita setiap hari, mengarahkan fokus kita kepada nilai-nilai kekekalan dan bukan pada kenikmatan duniawi yang sementara.
4. Memberitakan Injil kepada Semua Bangsa
Sikap berikutnya yang diajarkan Alkitab adalah memberitakan Injil ke seluruh dunia. Sesaat sebelum naik ke sorga, dalam Kisah Rasul 1:6-8, Yesus memberi misi yang jelas kepada murid-murid-Nya:
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem, dan di seluruh Yudea dan Samaria, dan sampai ke ujung bumi.”
Yesus tidak memerintahkan mereka untuk menghitung-hitung masa kedatangan-Nya, tetapi untuk memberitakan Injil. Inilah prioritas orang percaya yang hidup dalam zaman akhir: memperluas Kerajaan Allah dengan bersaksi tentang kasih, pengampunan, dan keselamatan di dalam Kristus.
Dalam Matius 24:14, Yesus mengajarkan bahwa:
“Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.”
Setiap tindakan penginjilan adalah bagian dari mempercepat kedatangan hari Tuhan. Menyebarkan kabar baik bukan hanya tugas, tetapi kehormatan dan sukacita bagi setiap orang percaya.
5. Menjauhi Spekulasi yang Tidak Sehat
Di sisi lain, kita juga harus mewaspadai sikap yang keliru dalam menantikan kedatangan Yesus, yaitu terlalu memusingkan waktu dan spekulasi.
Yesus dengan tegas berkata dalam Matius 24:36 bahwa tidak seorang pun tahu hari dan saat-Nya. Namun, dalam sejarah gereja, banyak orang yang tergoda untuk mencoba menghitung atau memprediksi kapan Kristus akan kembali.
Dalam Kisah Rasul 1:6-7, murid-murid bertanya kepada Yesus tentang kapan pemulihan kerajaan Israel akan terjadi. Namun Yesus menjawab bahwa mereka tidak perlu mengetahui masa dan waktu itu, melainkan harus fokus kepada tugas untuk menjadi saksi.
Bahkan di jemaat Tesalonika (2 Tesalonika 2), ada kelompok yang begitu terobsesi dengan kedatangan Tuhan sehingga mereka berhenti bekerja dan menjadi beban bagi komunitas. Ini adalah peringatan bahwa spekulasi tentang waktu hanya akan melahirkan kekacauan, kemalasan, bahkan pengabaian tanggung jawab.
Setiap orang yang mengaku mengetahui waktu pasti kedatangan Kristus, bertentangan dengan ajaran langsung dari Tuhan Yesus sendiri. Oleh karena itu, kita harus hidup dalam kesiapan, bukan dalam spekulasi.
Kesimpulan: Menantikan dengan Iman, Harapan, dan Kasih
Menanti kedatangan Tuhan Yesus yang kedua bukan berarti menunggu dalam kekhawatiran atau kegalauan, melainkan dalam iman yang teguh, pengharapan yang penuh sukacita, dan kasih yang aktif.
Sikap yang benar meliputi:
- Merindukan kedatangan-Nya setiap hari.
- Siap sedia dalam iman, bertumbuh dalam kekudusan.
- Berdoa agar Kerajaan Allah datang segera.
- Memberitakan Injil sebagai tugas utama.
- Menjauhi spekulasi yang sia-sia tentang waktu kedatangan.
Kiranya kita semua menjadi orang-orang yang, seperti dikatakan Paulus, “merindukan kedatangan-Nya” (2 Timotius 4:8) dan siap menyambut Raja segala raja dengan hati yang bersih dan tangan yang aktif bekerja bagi kemuliaan-Nya.
Seperti tertulis dalam Ibrani 10:37:
“Sebab masih sedikit, sangat sedikit waktu lagi, Ia yang akan datang sudah akan datang dan tidak akan menunda-nunda.”
Maranatha! Ya Tuhan, datanglah segera!