Natal selalu identik dengan sukacita, cahaya, dan harapan baru. Di tengah gemerlap lampu dan lagu-lagu meriah, ada sebuah kisah yang seringkali tersembunyi, namun mengandung makna yang mendalam tentang iman, kesetiaan, dan pengharapan. Kisah itu adalah tentang seorang tokoh bernama Simeon—seorang pria yang telah lama menantikan penggenapan janji Allah, dan yang akhirnya memeluk sang Janji dalam bentuk seorang bayi mungil, Yesus dari Nazaret.
Kisah Simeon, yang tercatat dalam Lukas 2:25-35, merupakan bagian dari narasi kelahiran Yesus yang kaya makna. Di antara para malaikat yang bernyanyi, gembala yang datang terburu-buru, dan bintang yang memandu orang-orang majus, Simeon muncul sebagai seorang tokoh yang hening, namun menggugah. Ia bukan seorang raja, bukan pula seorang nabi besar, tapi seorang yang hidup benar, saleh, dan penuh pengharapan. Melalui perjumpaannya dengan bayi Yesus, ia menyampaikan sebuah nyanyian pengharapan yang abadi, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi seluruh dunia.
Siapakah Simeon? (Lukas 2:25-27)
Tradisi luar Alkitab dari abad-abad awal menyebut bahwa Simeon adalah seorang imam berusia lanjut—bahkan ada yang menyebut usianya mencapai 112 tahun. Namun, Injil Lukas tidak memberikan rincian tentang jabatan atau umur Simeon. Ini adalah isyarat penting dari penulis Injil: yang lebih penting dari status dan usia adalah spiritualitas seseorang.
Simeon tinggal di Yerusalem, sebuah kota yang menjadi pusat harapan mesianis bangsa Israel. Namun, domisili ini bukanlah fokus utama Lukas. Penekanan sesungguhnya terletak pada kualitas rohani Simeon. Ia digambarkan sebagai seseorang yang “benar dan saleh,” dua kata yang dalam Alkitab menunjuk pada kualitas hidup yang berkenan di hadapan Allah dan sesama.
Kata “benar” (dikaios) dalam konteks Injil menunjuk pada integritas dan ketaatan dalam menjalani hidup. Ini bukan hanya soal status rohani di hadapan Allah, seperti yang banyak dikemukakan dalam surat-surat Paulus, melainkan soal kesaksian hidup yang nyata. Dikaios adalah sebutan bagi orang-orang yang hidupnya menjadi teladan—seperti Zakharia dan Kornelius, dua tokoh lain yang juga disebut “benar” dalam tulisan Lukas.
Simeon juga digambarkan sebagai orang “saleh” (eulabēs), suatu kata yang menunjukkan sikap hati yang penuh hormat dan teliti terhadap hukum Allah. Dalam konteks Yahudi, istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan mereka yang setia mengikuti peraturan agama dan hidup dengan penuh rasa takut akan Tuhan. Spiritualitas Simeon tidak berhenti pada kesalehan pribadi, tapi juga diwujudkan dalam tindakan menanti “penghiburan bagi Israel”—sebuah frasa yang kaya akan makna eskatologis dan penuh harapan akan datangnya Mesias.
Yang menarik, Lukas menyebut Roh Kudus tiga kali dalam penggambaran Simeon. Ini bukan kebetulan. Kehadiran Roh Kudus menjadi tanda bahwa Simeon bukan hanya hidup dalam kesalehan, tetapi juga dalam relasi yang intim dengan Allah. Roh Kudus memberinya pewahyuan khusus bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias (ayat 26), dan Roh itu jugalah yang menuntunnya masuk ke Bait Allah saat bayi Yesus dibawa ke sana (ayat 27). Di sinilah spiritualitas dan pengharapan Simeon bertemu dalam satu momen kudus.
Simeon Memuji Allah: Nyanyian yang Menggetarkan Jiwa (Lukas 2:28-32)
Momen pertemuan Simeon dengan bayi Yesus adalah momen yang sakral dan menggetarkan. Lukas mencatat bahwa Simeon “menyambut-Nya dan menatang-Nya sambil memuji Allah.” Tindakan Simeon bukan sekadar formalitas. Ia tidak mengambil bayi itu sewenang-wenang, melainkan “menerima”—sebuah isyarat bahwa bayi itu adalah pemberian Allah. Karena itu, dalam tradisi Gereja Timur, Simeon dijuluki sebagai Theodochos—“Penerima Allah.”
Dengan penuh haru, Simeon berseru, “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu.” Ini bukan ungkapan putus asa atau kelelahan, tetapi pernyataan damai batin seorang yang telah melihat penggenapan janji Tuhan dalam hidupnya. Kata “pergi” di sini secara implisit menunjuk pada kematian, namun bukan kematian yang menakutkan. Ini adalah kematian yang tenang, penuh rasa syukur, karena hidupnya telah mencapai tujuan utama: melihat keselamatan dari Allah.
Keselamatan yang dilihat Simeon bukanlah konsep abstrak. Ia melihatnya dalam rupa seorang bayi. “Sebab mataku telah melihat keselamatan dari-Mu,” katanya (ayat 30). Di dalam Kristus, keselamatan menjadi nyata, konkret, dapat disentuh dan dipeluk. Dan keselamatan ini bersifat universal. Simeon menyatakan bahwa keselamatan itu “telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa: terang untuk menyatakan kehendak-Mu kepada bangsa-bangsa lain dan kemuliaan bagi umat-Mu Israel” (ayat 31-32).
Pernyataan Simeon ini sangat penting. Sebelumnya, nyanyian Maria dan Zakharia berfokus pada pemulihan Israel. Tapi Simeon meluaskan cakupan harapan itu. Ia melihat bahwa Mesias bukan hanya datang untuk satu bangsa, tetapi untuk seluruh umat manusia. Terang itu akan menyinari semua bangsa. Untuk bangsa-bangsa lain, terang itu akan menjadi “penyataan”—membuka mata terhadap kebenaran. Untuk Israel, terang itu adalah “kemuliaan”—penggenapan janji-janji Allah sejak dahulu kala.
Keselamatan yang dilihat Simeon juga bukan hasil kebetulan. Kata “telah Engkau persiapkan” menunjukkan bahwa karya ini adalah bagian dari rencana kekal Allah. Dari sejak semula, Allah telah menyiapkan jalan keselamatan ini, dan melalui Yesus, jalan itu kini terbuka lebar.
Simeon Memberkati: Sukacita dan Kesedihan yang Berdampingan (Lukas 2:33-35)
Yusuf dan Maria terheran-heran mendengar pujian Simeon. Ini adalah reaksi yang manusiawi. Meskipun mereka telah menerima wahyu dari malaikat, mendengar orang lain yang dipimpin Roh Kudus menyatakan hal yang serupa tentu memperdalam penghayatan mereka akan siapa Yesus itu. Dalam konteks ini, keheranan bukanlah bentuk ketidaktahuan, melainkan kekaguman yang penuh rasa hormat.
Setelah itu, Simeon memberkati mereka. Namun, berkat yang diberikan tidak hanya berisi kabar gembira. Ia menyampaikan nubuat yang menyiratkan penderitaan. Kepada Maria, ia berkata, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan—dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri—supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (ayat 34-35).
Nubuat ini menyingkapkan realitas ganda dari kehadiran Yesus. Di satu sisi, Ia datang membawa keselamatan. Tapi di sisi lain, kehadiran-Nya akan memicu konfrontasi. Ada yang menerima-Nya, ada pula yang menolak-Nya. Ia akan menjadi batu ujian bagi hati manusia.
Bagi Maria sendiri, jalan pengikutannya akan penuh luka. “Pedang akan menembus jiwamu sendiri,” kata Simeon. Ini adalah gambaran kepedihan yang dalam. Ia akan menyaksikan bagaimana anak yang dilahirkannya, yang ia rawat dengan kasih, akan mengalami penolakan, penderitaan, dan kematian di salib. Namun semua itu adalah bagian dari rencana Allah, agar keselamatan bisa menjadi milik semua orang.
Simeon dan Kita: Pengharapan yang Digenapi
Apa yang bisa kita pelajari dari Simeon? Pertama, bahwa hidup yang berkenan kepada Allah bukan tentang posisi sosial atau usia, tetapi tentang kesetiaan dalam menanti dan taat kepada Roh Kudus. Simeon hidup dalam pengharapan, dan ketika pengharapan itu digenapi, ia tidak menyia-nyiakan momen tersebut. Ia merespons dengan pujian dan damai.
Kedua, bahwa pujian lahir dari pengenalan akan karya Allah. Simeon tidak memuji berdasarkan perasaan semata, tetapi berdasarkan kenyataan bahwa ia telah melihat keselamatan dari Allah. Pujian sejati lahir dari perjumpaan pribadi dengan Kristus.
Ketiga, bahwa keselamatan dalam Kristus adalah terang bagi semua bangsa. Ini adalah panggilan bagi kita untuk menjadi saksi terang itu, bukan hanya menikmati kemuliaan, tetapi juga membagikannya kepada dunia yang masih berjalan dalam kegelapan.
Akhirnya, jika Simeon yang hanya melihat “cicipan” keselamatan Allah sudah begitu bersukacita, apalagi kita yang telah melihat penggenapannya dalam kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Natal bagi kita bukan lagi sebatas pengharapan, tetapi perayaan atas kenyataan. Maka, tidak ada alasan untuk kuatir, tidak ada alasan untuk takut. Ada begitu banyak alasan untuk bersyukur, memuji, dan hidup dalam damai.