Status Orang Percaya (2): Anak-anak Allah

Dewasa ini banyak orang berpikir bahwa menjadi anak-anak Allah berarti menjadi anak-anak Raja. Sebagai anak Raja, orang Kristen pasti akan kaya raya dan bisa mendapatkan apapun yang kita inginkan. Pemikiran seperti ini merupakan penyelewengan dari ajaran Alkitab.  

Pertama, konsep “anak Raja” yang harus kaya raya di dunia tidak pernah diajarkan dalam Alkitab. Bahkan sebutan “anak Raja” pun tidak pernah dipakai dalam Alkitab. Allah memang Raja (1Kor 15:24-25) dan kita anak-anak-Nya (Rom 8:16), tetapi orang Kristen tidak pernah disebut sebagai “anak Raja”.

Kedua, satu-satunya teks yang mengaitkan status kita sebagai anak Allah dengan konsep tentang Kerajaan adalah Matius 13:38 “benih yang baik itu adalah anak-anak Kerajaan”.        

Ketika Yesus menyebut orang percaya sebagai “anak-anak Kerajaan”, Dia tidak menyinggung sama sekali tentang kekayaan. Dia justru lebih menekankan perbedaan kekudusan hidup antara anak-anak Kerajaan dan anak-anak si jahat (ayat 37-42). Kemuliaan anak-anak Kerajaan baru akan disaksikan di akhir jaman (ayat 43).

Ketiga, Yesus pernah menyebut orang-orang Yahudi sebagai “anak-anak Kerajaan”, namun Dia menegaskan bahwa mereka akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap (Mat 8:12). Sebagai gantinya, orang-orang non-Yahudi yang percaya justru akan menikmati perjamuan kekal bersama para leluhur Israel (Mat 8:11). Teks ini semakin meyakinkan kita bahwa konsep “anak-anak Kerajaan” tidak berkaitan dengan kekayaan materi.

Terakhir, konsep Alkitab tentang orang-orang percaya sebagai “anak-anak Allah” tidak berhubungan dengan kekayaan secara materi di dunia ini. Status ini justru membawa tanggung-jawab yang besar bagi kita. Memang kita juga mendapat hak sebagai anak-anak Allah, tetapi hak itu sama sekali berbeda dengan yang biasanya dipikirkan banyak orang.     

Penyelidikan Alkitab mandiri

  1. Apakah semua orang – baik Kristen maupun non Kristen – dapat disebut anak Allah dalam arti mereka semua berasal dari Allah (Luk 3:38; Kis 17:28b)?
  1. Apakah perbedaan antara status di atas dengan status orang-orang Kristen sebagai anak-anak Allah (Yoh 1:12-13; Yoh 3:3, 5; Rom 8:15)?
  1. Bagaimana kita dapat menjadi anak-anak Allah (Gal 3:26; Yak 1:18 “menjadikan” = “melahirkan”)?
  1. Apakah saja tanggung-jawab kita sebagai anak-anak Allah (Mal 1:6; Mat 5:45-48; Luk 6:35; 1Pet 1:17)? Jelaskan!
  1. Jika kita gagal menjalankan tanggung-jawab tersebut, apakah yang akan Bapa lakukan pada kita (Ibr 12:6-7)? Apakah ini berarti bahwa Bapa tidak menyayangi kita (Ibr 12:8-11)? Jelaskan!
  1. Apa yang membedakan anak-anak Allah dengan yang bukan (Rom 8:14; 1Yoh 3:10)?
  1. Bacalah Roma 8:15-23. Apa saja hak-hak kita sebagai anak Allah? 
  1. Apakah kita juga memiliki hak secara materi yang dapat dinikmati selama di dunia ini (Mat 6:26, 32; 7:11)? Apakah hal ini berarti bahwa kita pasti mendapatkan apapun yang kita minta? Jelaskan!

Penerapan konkrit

Diskusi: apa saja kesamaan dan perbedaan antara Bapa kita di surga dengan bapa/ayah kita di dunia ini?

Tugas selama seminggu

Setiap anggota belajar melakukan satu hal yang baru yang merupakan manifestasi dari status kita sebagai anak-anak Allah yang harus meniru Bapa di surga. Berikan contoh yang spesifik dan konkrit! Contoh: kita mengasihi semua orang tanpa terkecuali, karena Bapa di surga juga memberi hujan untuk orang benar dan orang fasik (Mat 5:44-48)

Rangkuman

  1. Status kita sebagai anak-anak Allah merupakan anugerah Allah yang dimulai dengan kelahiran kembali, melalui media firman Tuhan dan kita terima melalui iman. 
  2. Status ini memberi kita tanggung-jawab yang besar untuk meniru Bapa kita.
  3. Status ini sekaligus memberi hak istimewa, baik di dunia ini dan – terutama – di dunia yang akan datang.

Ayat emas yang harus dihafalkan

Matius 5:48  “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna”