Salah satu tokoh yang paling dikenal dalam Perjanjian Baru adalah Thomas, seorang murid Yesus yang sering kali disebut sebagai “Sang Peragu” atau “the Doubter.” Pengenalan ini berasal dari peristiwa setelah kebangkitan Yesus, ketika Thomas menolak untuk percaya sebelum melihat dan menyentuh bekas luka di tubuh Yesus (Yohanes 20:24-29). Namun, apakah label ini sepenuhnya adil bagi Thomas? Apakah ia benar-benar seorang yang selalu ragu, atau ada sisi lain dari karakternya yang patut kita teladani?
Thomas: Murid yang Rasional dan Pemberani
Dalam Injil Yohanes, Thomas muncul dalam beberapa peristiwa penting yang menunjukkan bahwa ia bukan sekadar seorang peragu. Yohanes mencatat setidaknya empat kemunculannya, yakni dalam Yohanes 11:16, 14:5, 20:24-28, dan 21:2. Dari berbagai peristiwa ini, Thomas tampak sebagai sosok yang berpikir rasional dan penuh keberanian.
Saat Yesus ingin kembali ke Yudea untuk menemui Lazarus, para murid khawatir karena sebelumnya Yesus hampir dirajam batu di sana. Namun, Thomas dengan spontan berkata, “Mari kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia” (Yohanes 11:16). Pernyataan ini menunjukkan keberaniannya dalam menghadapi bahaya, bahkan jika itu berarti mati bersama Yesus.
Dalam Yohanes 14:5, Thomas kembali mengungkapkan pemikirannya secara rasional ketika Yesus berbicara tentang tujuan kepergian-Nya. Yesus mengatakan bahwa Ia akan pergi ke tempat yang tidak bisa diikuti oleh murid-murid-Nya, dan Thomas dengan jujur bertanya, “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” (Yohanes 14:5). Pertanyaan ini mencerminkan sikap kritis dan keinginannya untuk memahami lebih dalam ajaran Yesus.
Pemikiran yang rasional bukanlah sesuatu yang salah. Tuhan sendiri menciptakan manusia dengan akal budi, dan Paulus mengingatkan bahwa kita harus memperbaharui akal budi kita agar dapat membedakan kehendak Allah (Roma 12:2). Namun, kesalahan muncul ketika seseorang hanya mengandalkan rasio dan mengabaikan iman. Thomas menunjukkan keterbatasan rasio manusia dalam memahami realitas spiritual, sesuatu yang juga terjadi pada banyak orang dalam kehidupan beriman mereka.
Ketidakpercayaan Thomas dan Tuntutannya Akan Bukti
Setelah kebangkitan Yesus, murid-murid yang lain telah melihat Tuhan dan menyampaikan berita itu kepada Thomas. Namun, Thomas menolak untuk percaya sebelum ia melihat dan menyentuh bekas luka di tubuh Yesus. “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu serta mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yohanes 20:25).
Sikap Thomas mungkin tampak ekstrem, tetapi jika kita menelaah lebih jauh, semua murid juga baru percaya setelah melihat bukti tertentu. Murid yang dikasihi Yesus percaya setelah melihat kubur yang kosong (Yohanes 20:8), dan semua murid lainnya baru bersukacita setelah mereka melihat luka di tangan dan lambung Yesus (Yohanes 20:20, 25). Namun, Thomas lebih vokal dalam menyatakan keraguannya dibandingkan murid-murid lain.
Dalam tradisi Yahudi, kesaksian seorang perempuan tidak memiliki bobot hukum yang kuat, sehingga tidak mengherankan jika Thomas tidak segera mempercayai kesaksian Maria Magdalena. Namun, yang menarik adalah bahwa murid-murid lainnya telah berulang kali meyakinkan Thomas selama delapan hari (bentuk imperfek dalam bahasa Yunani menunjukkan tindakan yang terus-menerus), namun ia tetap tidak percaya. Ia menginginkan lebih dari sekadar mendengar kesaksian; ia ingin bukti konkret.
Respon Yesus terhadap Keraguan Thomas
Yang luar biasa adalah bahwa Yesus tidak menegur Thomas dengan keras, melainkan dengan penuh kasih menunjukkan diri-Nya kepada Thomas delapan hari kemudian. Pada hari Minggu berikutnya, Yesus kembali menampakkan diri kepada murid-murid dan secara khusus mengundang Thomas untuk melihat dan menyentuh luka-Nya (Yohanes 20:26-27).
Tindakan Yesus menunjukkan bahwa Ia memahami pergumulan Thomas. Thomas mengungkapkan keraguannya di hadapan murid-murid, bukan langsung kepada Yesus, tetapi Yesus tetap mengetahui isi hatinya. Hal ini menegaskan bahwa Tuhan mengetahui setiap keraguan dan pergumulan kita, bahkan sebelum kita mengungkapkannya dalam doa.
Selain itu, Yesus memberikan apa yang paling dibutuhkan Thomas: damai sejahtera. Dalam ketakutan dan ketidakpercayaannya, Thomas membutuhkan kepastian yang hanya bisa diberikan oleh Tuhan. Inilah sebabnya Yesus mengucapkan, “Damai sejahtera bagi kamu” (Yohanes 20:26). Damai sejahtera ini tidak sekadar salam, tetapi sebuah jaminan bahwa Tuhan hadir di tengah keraguan dan pergumulan kita.
Yesus juga tidak menolak permintaan Thomas untuk melihat dan menyentuh luka-Nya, meskipun dalam ayat berikutnya Ia menekankan bahwa iman yang sejati tidak bergantung pada bukti fisik semata (Yohanes 20:29). Tindakan ini menunjukkan bahwa Tuhan berkenan menolong kita dalam kelemahan iman kita. Ia tidak menuntut iman yang sempurna, tetapi bersedia menuntun kita hingga kita dapat percaya sepenuh hati.
Pengakuan Iman yang Terindah
Reaksi Thomas setelah bertemu Yesus sangat luar biasa. Ia segera berseru, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28). Ini adalah pengakuan iman yang paling kuat dalam seluruh Injil Yohanes. Pengakuan ini menegaskan dua hal penting:
- Yesus adalah Tuhan (Kyrios) – Dalam budaya Yahudi, menyebut seseorang sebagai “Tuhan” memiliki makna yang sangat mendalam. Ini bukan sekadar panggilan hormat, tetapi pengakuan bahwa Yesus adalah penguasa atas kehidupan.
- Yesus adalah Allah (Theos) – Pernyataan Thomas merupakan penegasan keilahian Yesus, yang selaras dengan pembukaan Injil Yohanes: “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yohanes 1:1).
Pengakuan Thomas sangat personal, menggunakan kata “ku,” yang menandakan keyakinan pribadinya. Ia tidak hanya mengakui keilahian Yesus secara teologis, tetapi juga secara pribadi mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah bagi dirinya sendiri.
Berkat bagi Mereka yang Percaya Tanpa Melihat
Yesus kemudian menutup peristiwa ini dengan pernyataan yang sangat penting: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yohanes 20:29). Pernyataan ini mengindikasikan bahwa iman yang sejati bukanlah iman yang bergantung pada bukti fisik, tetapi iman yang lahir dari kepercayaan kepada firman Tuhan.
Dalam kehidupan modern, kita sering kali ingin melihat bukti sebelum mempercayai sesuatu. Namun, iman Kristen mengajarkan bahwa kepercayaan kepada Tuhan tidak selalu datang dari pengalaman langsung, melainkan dari pengenalan akan kebenaran firman-Nya. Seperti yang dinyatakan dalam Roma 10:17, “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”
Kesimpulan
Kisah Thomas mengajarkan kita bahwa iman bukanlah sekadar soal melihat dan membuktikan, tetapi tentang kepercayaan kepada Tuhan meskipun kita tidak selalu memahami segala sesuatu. Thomas memang mengalami keraguan, tetapi ia juga menunjukkan keberanian, kejujuran, dan akhirnya mencapai pengakuan iman yang luar biasa.
Sebagai orang percaya, kita diajak untuk meneladani Thomas dalam keberaniannya mencari kebenaran dan kesediaannya mengakui Tuhan sebagai Allah dan Raja dalam hidupnya. Maukah kita percaya tanpa harus melihat? Pilihan ada di tangan kita.