Banyak orang hidup dari hari ke hari tanpa pernah bertanya “untuk apa aku hidup?” Mereka sibuk mengejar karier, membangun keluarga, menumpuk harta, tetapi di dalam hati yang terdalam tetap muncul kekosongan. Mengapa? Karena hidup yang tidak memiliki tujuan yang benar, akan terasa hampa—tak peduli seberapa sibuk dan suksesnya.
Renungan hari ini membantu kita memahami bahwa tujuan hidup bukan ditentukan oleh dunia atau keinginan kita sendiri, tetapi oleh Allah, Sang Pencipta. Dari Dialah asal kita, dan kepada-Nya kita kembali.
Pertama, arti hidup ditentukan oleh tujuan hidup.
Manusia bisa bertahan menghadapi penderitaan jika tahu untuk apa mereka menderita. Tetapi tanpa tujuan, hidup sekaya apapun tetap terasa sia-sia. Seperti seorang pelari yang berlari tanpa garis akhir—meletihkan dan membingungkan.
Tujuan hidup memberikan arah dan makna. Ketika kita tahu untuk apa kita hidup, maka segala pengorbanan, kerja keras, dan keputusan menjadi bermakna. Bahkan hal-hal kecil sekalipun bisa membawa sukacita karena kita tahu semuanya mengarah pada sesuatu yang lebih besar.
Kedua, tujuan hidup manusia ditentukan oleh Sang Pencipta.
Sebagaimana pabrik yang menentukan fungsi alat yang dibuatnya, Tuhan-lah yang menentukan tujuan hidup kita. Kita tidak dibiarkan meraba-raba sendiri.
“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kejadian 1:1) adalah titik awal dari pemahaman kita. Jika kita adalah ciptaan, maka hidup kita bukan milik kita sendiri. Kita bukan kebetulan yang terjadi di alam semesta, melainkan bagian dari rancangan yang agung.
Ketiga, ada dua misteri yang meneguhkan bahwa hidup memiliki tujuan.
- Misteri keberadaan.
Alam semesta ini pernah tidak ada. Lalu mengapa sekarang ada? Dari mana semua ini berasal?
Bagi orang percaya, jawabannya jelas: “Karena Allah menciptakannya.” Tuhan adalah penyebab utama dari segala sesuatu yang ada. Tanpa-Nya, tidak akan ada kehidupan, tidak ada langit, tidak ada bumi. Misteri ini membawa kita pada satu kesimpulan: keberadaan kita bukan tanpa maksud. Jika Allah yang menciptakan kita, tentu ada rencana dan tujuan dalam keberadaan kita. - Misteri keteraturan.
Dunia ini begitu teratur dan kompleks. Tubuh manusia bekerja dengan harmoni yang luar biasa. Alam semesta berputar dengan presisi yang mengagumkan. Keteraturan ini bukan hasil kebetulan. Ada desain, berarti ada perancang.
Pemazmur pun kagum ketika merenungkan hal ini. Ia berseru, “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib.” (Mazmur 139:14). Ketika kita sadar bahwa tubuh, pikiran, dan kehidupan kita adalah hasil karya agung Tuhan, kita akan menghargai hidup dengan lebih dalam.
Keempat, tujuan hidup bukan tentang kita—tetapi tentang Allah.
Kita hidup bukan untuk kepuasan pribadi semata, tetapi untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. Dalam setiap aspek hidup—belajar, bekerja, mengasihi, bahkan menderita—kita punya kesempatan untuk memuliakan-Nya.
Rasul Paulus menulis, “Baik engkau makan atau minum, atau apa pun yang kamu lakukan, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Korintus 10:31). Hidup kita bukan milik kita. Kita diciptakan untuk menyatakan siapa Allah itu, dan menikmati kehadiran-Nya dalam setiap langkah hidup.
Kesimpulan: Hidup Tidak Sia-Sia Bila Hidup dalam Tujuan Allah
Hari ini, mari kita renungkan: Apakah aku sudah menjalani hidup dengan kesadaran akan tujuan ilahi? Apakah keputusan-keputusanku dipimpin oleh kehendak Allah atau hanya ambisi pribadi?
Jangan biarkan hidup berlalu begitu saja tanpa arah. Kita hidup karena Tuhan menghendaki kita ada. Kita bernilai karena diciptakan menurut gambar-Nya. Dan kita bermakna karena dipanggil untuk melayani dan memuliakan-Nya. Temukan kembali tujuan hidupmu di dalam Dia. Maka kau akan menemukan sukacita yang sejati dan ketenangan yang tidak tergoyahkan oleh dunia.
Studi Alkitab mandiri
Bacalah Mazmur 139, lalu jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.
- Dalam keadaan seperti apa Daud menuliskan mazmur ini (ayat 19-22)?
- Mengapa Daud perlu menegaskan beberapa kali bahwa TUHAN mengenal dan menyelidiki dirinya (ayat 1, 23-24)?
- Seberapa jauh TUHAN mengenal dia (ayat 2-12)?
- Daud sangat kagum kepada TUHAN tentang kelahiran dan kehidupannya (ayat 17-18). Apa saja yang membuat dia begitu terkagum-kagum (ayat 13-16)?
Ayat Hafalan
Mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya (Mazmur 139:16)
Pertanyaan Untuk Diskusi
- Kapan terakhir kali Anda secara khusus mengagumi keindahan dan keteraturan alam semesta atau tubuh Anda?
- Bagaimana hal itu mempengaruhi cara Anda untuk menjalani hidup, terutama pada saat menghadapi pergumulan yang berat?
- Adakah momen tertentu dalam hidup yang membuat Anda benar-benar yakin bahwa Allah ada, mengontrol, dan mengarahkan hidup Anda?