TUJUAN PERNIKAHAN

Banyak pasangan suami-istri tidak memahami tujuan pernikahan mereka. Tidak mengherankan, banyak pasangan yang hendak menikah juga belum mengetahui tujuan pernikahan yang benar. Kurangnya pemahaman ini sering kali mengaburkan keunikan pernikahan Kristen sebagai rancangan Allah yang kudus dan penuh makna.

Aktivitas: Memahami Tujuan Pernikahan

Untuk memahami lebih dalam, pertanyaan mengenai tujuan pernikahan harus diajukan kepada pasangan yang hendak menikah. Mengapa mereka ingin menikah? Apa tujuan pernikahan menurut mereka? Dalam proses konseling pranikah, konselor sebaiknya membiarkan pasangan menjawab dengan jujur tanpa langsung diarahkan kepada jawaban yang benar. Konselor dapat mengajukan pertanyaan tambahan untuk memperjelas poin yang disampaikan pasangan.

Tujuan yang Salah atau Tidak Ideal

Pengalaman konseling menunjukkan bahwa banyak pasangan memiliki tujuan yang beragam dan sering kali tidak ideal saat memutuskan untuk menikah. Beberapa bahkan baru memikirkan tujuan pernikahan mereka saat sesi konseling pranikah. Berikut adalah beberapa tujuan pernikahan yang salah atau kurang ideal:

  1. Memenuhi tanggung jawab. Misalnya, pernikahan dilakukan karena kehamilan sebelum pernikahan.
  2. Menutupi perasaan bersalah atau kasihan. Contohnya, perasaan bersalah karena hubungan yang sudah terlalu jauh atau kekhawatiran pasangan akan kecewa atau mengalami tekanan emosional jika hubungan diputuskan.
  3. Melampiaskan kekecewaan. Beberapa orang menikah karena tidak ingin gagal dalam hubungan untuk kesekian kalinya.
  4. Mencari kebebasan dari orang tua. Pernikahan dianggap sebagai solusi untuk keluar dari lingkungan keluarga yang tidak harmonis.
  5. Mencari solusi atas kesendirian. Pasangan menikah untuk mengatasi rasa kesepian atau kurangnya kasih sayang.
  6. Mencapai ambisi tertentu Misalnya, untuk meningkatkan taraf ekonomi atau mendapatkan pengakuan sosial.
  7. Memenuhi tuntutan sosial atau budaya. Pernikahan dilakukan karena tekanan sosial yang menganggap selibat sebagai sesuatu yang tidak wajar.
  8. Menghindari dosa seksual. Beberapa pasangan menikah untuk menghindari godaan dosa seksual tanpa pemahaman yang mendalam tentang arti pernikahan.

Tujuan-tujuan ini mencerminkan kurangnya pemahaman tentang makna sejati pernikahan menurut pandangan Kristen.

Tujuan Pernikahan Menurut Doktrin Penciptaan

Untuk memahami tujuan pernikahan secara benar, langkah yang paling tepat adalah melihatnya dari perspektif doktrin penciptaan. Dalam Injil Matius 19:3-6, Yesus merujuk pada Kejadian 1-2 untuk menjawab pertanyaan orang Farisi mengenai perkawinan. Doktrin penciptaan memberikan gambaran ideal tentang tujuan pernikahan sesuai rancangan Allah. Berdasarkan Kejadian 1-2, berikut adalah dua tujuan utama pernikahan:

  1. Merefleksikan Keintiman Allah Tritunggal. Kejadian 1:26-27 menunjukkan kejamakan dan ketunggalan Allah. Allah yang satu menciptakan manusia sebagai gambar-Nya dengan kejamakan dan ketunggalan: laki-laki dan perempuan. Relasi antara laki-laki dan perempuan dalam pernikahan merefleksikan keintiman Allah Tritunggal yang memiliki kesatuan dan kejamakan.
    Dalam Perjanjian Baru, Paulus menekankan bahwa relasi Kristus dengan jemaat-Nya adalah pola ideal dalam pernikahan Kristen (Efesus 5:22-31). Keintiman ini terwujud melalui kasih, penghormatan, dan saling mendukung dalam kehidupan suami-istri.
  2. Menggenapi Rencana Allah bagi Dunia. Pernikahan juga bertujuan untuk melaksanakan rencana Allah bagi dunia. Dalam Kejadian 1:28, Allah memberkati manusia untuk bertambah banyak, memenuhi bumi, menaklukkannya, dan berkuasa atas ciptaan-Nya. Pernikahan menjadi sarana untuk menghasilkan keturunan yang membawa nilai-nilai Kerajaan Allah.
    Melalui pernikahan, orang percaya dipanggil untuk mencetak generasi ilahi yang serupa dengan Kristus (Maleakhi 2:15, Roma 8:29). Keluarga Kristen menjadi wadah bagi transformasi dunia melalui ajaran dan penerapan nilai-nilai ilahi.

Implikasi bagi Pernikahan Kristen

Pemahaman tentang tujuan pernikahan yang benar membawa beberapa implikasi penting bagi pasangan Kristen:

  1. Pentingnya Waktu Bersama. Suami-istri harus menyediakan waktu berkualitas bersama, baik untuk membangun keintiman maupun mendidik anak-anak. Kesibukan dan keletihan tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan hubungan keluarga.
  2. Menghindari Perpisahan Emosional dan Fisik. Perpisahan yang berkepanjangan, baik secara tempat maupun emosional, harus dihindari. Keintiman keluarga jauh lebih berharga daripada pencapaian materi atau karier.
  3. Pernikahan sebagai Proses Pembentukan. Pernikahan adalah tempat di mana pasangan saling membentuk karakter dan semakin serupa dengan Allah. Konflik yang muncul harus dilihat sebagai peluang untuk bertumbuh, bukan sebagai alasan untuk menyerah.
  4. Mendukung Rencana Allah melalui Keturunan. Kelahiran anak merupakan bagian dari rencana Allah. Pasangan Kristen didorong untuk memiliki anak sesuai kemampuan mereka, baik secara finansial maupun emosional. Bagi mereka yang tidak dapat memiliki anak, adopsi adalah pilihan mulia untuk tetap berpartisipasi dalam rencana Allah.
  5. Mengajarkan Nilai-Nilai Ilahi. Keluarga adalah tempat pertama bagi anak-anak untuk belajar nilai-nilai Kerajaan Allah. Orang tua harus memberikan teladan yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
  6. Menghormati Panggilan Anak. Tugas orang tua bukan menentukan jalan hidup anak, tetapi membantu mereka menemukan panggilan khusus dari Tuhan. Ambisi pribadi orang tua tidak boleh membebani anak-anak.

Kesimpulan: Memahami dan Menghidupi Tujuan Pernikahan

Tujuan pernikahan bukan hanya tentang kebahagiaan atau pemenuhan kebutuhan pribadi. Dalam perspektif Kristen, pernikahan adalah rancangan Allah yang kudus untuk merefleksikan keintiman-Nya dan menggenapi rencana-Nya di dunia. Pemahaman ini menuntun pasangan untuk menjalani pernikahan dengan kesadaran penuh akan panggilan ilahi mereka.

Dengan memahami tujuan pernikahan yang benar, pasangan dapat menghindari tujuan-tujuan yang keliru dan membangun hubungan yang sehat, kuat, dan berpusat pada Allah. Pernikahan bukan hanya tentang cinta, tetapi juga tentang panggilan untuk hidup seturut kehendak Tuhan.