Setiap orang yang menikah pasti memiliki tujuan. Mereka ingin mencapai sesuatu melalui pernikahan tersebut. Bahkan orang yang dipaksa kawin pun memiliki tujuan tertentu mengapa ia pada akhirnya mau dikawinkan secara paksa (mungkin menghindari tuntutan adat, tidak ingin mengecewakan orang tua, dsb).
Berikut ini adalah beberapa tujuan pernikahan yang salah yang sering kita jumpai dalam masyarakat kita:
- Melepaskan diri dari kungkungan orang tua (mencari kebebasan)
- Memenuhi tuntutan sosial masyarakat (tidak menikah dianggap tabu)
- Melampiaskan dorongan biologis (menghindarkan diri dari perzinahan atau ingin menikmati seks secara sah)
- Menutupi aib (sudah hamil sebelum menikah)
- Mencari kehidupan dengan tingkatan ekonomi dan sosial yang lebih baik
- Dipaksa oleh orang tua
Apakah tujuan dari pernikahan Kristen? Pertanyaan ini tidak akan dapat terjawab dengan tepat jikalau kita tidak bertanya kepada Allah yang telah merancang pernikahan. Jika kita percaya bahwa lembaga pernikahan didirikan oleh Allah sendiri (Kej 2:18-24), maka kita juga harus menerima bahwa tujuan pernikahan juga ditentukan oleh Allah. Dialah yang berhak menentukan tujuan pernikahan kita.
Kita perlu bersyukur karena kita tidak perlu susah-payah menentukan tujuan pernikahan kita. Lebih jauh, Allah bukan hanya menentukan, tetapi Ia juga sudah menyatakan tujuan tersebut dengan jelas dalam firman-Nya. Kita hanya perlu menyelidiki dan tunduk pada tujuan yang Ia sudah gariskan bagi kita.
Pertama, pernikahan Kristen harus merefleksikan kejamakan dan ketunggalan dalam diri Allah. Kejadian 1:26 menyatakan, “Baiklah Kita (jamak) menjadikan (tunggal) manusia…”. Bagaimana kita menjelaskan bentuk jamak dan tunggal dalam ayat ini? Untuk memahami hal ini kita harus memperhatikan konteks ayat 26-27 secara lebih seksama. Perhatikan dua ayat berikut ini:
Kej 1:27: Maka Allah menciptakan manusia (tunggal) itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia (tunggal); laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka (jamak).
Kej 5:1b-2a: Pada waktu manusia (tunggal) itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia (tunggal) menurut rupa Allah; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka (jamak).
Dari dua ayat di atas terlihat bahwa manusia – yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah – diciptakan sebagai kesatuan dalam kejamakan. Tidak heran di Kejadian 2:18 Allah melihat kesendirian manusia sebagai sesuatu yang tidak baik. Selanjutnya, setelah Allah menciptakan kejamakan manusia (laki-laki dan perempuan), Ia menghendaki supaya mereka berada dalam kesatuan yang utuh (Kej 2:23-24 “mereka akan menjadi satu tubuh”).
Kedua, pernikahan Kristen harus melayani Allah. Ketika Allah menciptakan Adam dan Hawa, Ia memberikan tugas khusus yang harus dikerjakan mereka berdua, yaitu supaya mereka berkuasa atas ciptaan lain (Kej 1:26). Tugas ini diulangi lagi di Kejadian 1:28, tetapi kali ini lebih eksplisit. Allah memberikan berkat dan perintah di ayat 28, yaitu memiliki keturunan à memenuhi bumi à menaklukkan bumi. Dari sini kita bisa melihat bahwa perintah untuk berkembang biak dan memenuhi bumi hanyalah sarana untuk mencapai tujuan akhir yang ditetapkan Allah, yaitu menguasai bumi. Di sinilah manusia memainkan peranan penting sebagai gambar Allah yang mewakili Allah menguasai bumi.
Penyelidikan Alkitab mandiri
- Pernahkah Anda menemukan sebuah pernikahan yang dimulai dengan sebuah tujuan yang salah? Jelaskan tujuan tersebut secara singkat!
- Bacalah Kejadian 2:18-25. Tuliskan beberapa poin penting yang menunjukkan bahwa kehadiran Hawa adalah murni inisiatif Allah!
- Hawa diberikan Allah kepada Adam sebagai seorang penolong (Kej 2:18). Penolong dalam hal apa (Kej 1:28; 2:15-17)? Apakah tanpa Hawa Adam mampu melaksanakan tugas yang Allah berikan kepadanya? Jelaskan!
- Apakah Allah berhak menentukan tujuan pernikahan kita yang tampaknya untuk kepentingan Dia saja? Mengapa? (Mzm 119:91; Rom 11:36; 1Kor 8:6; 2Kor 5:15; Kol 1:16b)
- Menurut Kejadian 1:28, tujuan pernikahan yang ditetapkan Allah merupakan berkat sekaligus perintah bagi kita. Apakah hal ini membawa perbedaan signifikan bagi kita jika dibandingkan dengan pernikahan sebagai berkat saja atau perintah saja? Jelaskan!
- Kita kadangkala dapat menemukan pernikahan non-Kristen yang harmonis dan dalam taraf tertentu juga menguasai bumi. Apakah pernikahan semacam ini sudah tepat? Mengapa? (Rom 10:2-3).
- Mungkinkah dua tujuan pernikahan yang diajarkan Alkitab dapat tercapai tanpa penebusan Kristus? Kalau begitu, apa kaitan antara penebusan Kristus dan pencapaian tujuan tersebut? (Efesus 5:22-32)
Penerapan konkrit
- Bagi yang sudah menikah: tuliskan dua contoh penerapan praktis dari pernikahan yang sesuai dengan tujuan Allah yang SUDAH atau BELUM Anda lakukan dalam pernikahan Anda! (contoh yang BELUM: ketika menelepon isteri dari luar kota yang pertama kali ditanyakan adalah masalah pekerjaan bukan keadaan isteri; contoh yang SUDAH: membelikan oleh-oleh kesukaan isteri tanpa diminta).
- Bagi yang belum menikah: bagaimana dua tujuan pernikahan pernikahan yang sudah ditetapkan Allah dapat menjadi pedoman bagi kita ketika memilih pasangan hidup? Pasangan hidup seperti apa yang sesuai untuk mencapai tujuan tersebut?
Tugas selama seminggu
Bagi yang sudah menikah: pilihlah seseorang yang sangat mengenal keluarga Anda (orang tua, mertua, anak, pembantu rumah tangga, baby sitter, karyawan, sahabat, tetangga, dsb). Mintalah tolong kepada dia untuk menuliskan 5 keunikan dari pernikahan Anda jika dibandingkan dengan pernikahan-pernikahan non-Kristen yang lain! Jika dia mampu menemukan 5 keunikan itu dengan mudah, maka pernikahan Anda tergolong lumayan baik. Jika dia tidak mampu menemukan atau membutuhkan waktu yang lama untuk menemukan keunikan tersebut, maka pernikahan Anda membutuhkan pemulihan yang segera.
Bagi yang belum menikah: temukan contoh konkrit dari sebuah keluarga yang ideal (sesuai dengan tujuan Allah) dan selama ini menjadi cita-cita Saudara dalam membangun mahligai rumah tangga.
Rangkuman
- Pernikahan adalah inisiatif Allah, karena itu hanya Allah yang berhak untuk menentukan tujuannya.
- Pernikahan Kristen harus merefleksikan keharmonisan Allah Tritunggal dan harus melayani Dia.
- Tujuan ini perlu diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan pernikahan.
Ayat emas yang harus dihafalkan
Kejadian 1:28 “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”