Pelayanan tidak selalu berjalan mulus. Dalam kenyataannya, tidak sedikit dari kita yang mengalami luka di tengah pelayanan—baik karena konflik, kesalahpahaman, atau ketegangan dengan sesama rekan sepelayanan. Perselisihan dalam pelayanan bukanlah hal baru. Ini sudah menjadi “berita klasik” di banyak gereja dan komunitas Kristen. Tapi meskipun klasik, tetap saja menyakitkan, bahkan mengancam kelangsungan komunitas rohani itu sendiri.
Perbedaan dan gesekan memang wajar dalam hidup bersama. Namun, perpecahan seharusnya tetap bisa dihindari. Rasul Paulus bahkan menyebut perpecahan sebagai tanda ketidakmatangan rohani (1Kor. 3:1–3) dan pintu masuk bagi Iblis untuk merusak kesatuan tubuh Kristus (Ef. 4:26–27). Bahkan lebih dalam lagi, konflik yang tidak terselesaikan mendukakan Roh Kudus (Ef. 4:30).
Lalu, bagaimana seharusnya kita menyikapi konflik atau luka dalam pelayanan? Banyak tips praktis bisa ditemukan, tapi Injil memberi kita perspektif yang jauh lebih dalam—bukan hanya untuk menyelesaikan gejala luar, tapi juga untuk menyentuh akar persoalan.
Pertama, Injil menolong kita menyadari bahwa perselisihan adalah konsekuensi dari natur dosa.
Orang yang memandang dunia melalui Injil tahu bahwa dosa itu sangat serius. Dosa bukan hanya perilaku yang tampak, tapi juga dorongan yang tersembunyi dalam hati. Jika dosa tidak begitu serius, mengapa Allah sampai rela mengutus Putra-Nya sendiri untuk menebus kita?
Maka, ketika terjadi perselisihan dalam pelayanan, kita tidak perlu heran. Bahkan Paulus dan Barnabas—dua tokoh besar dalam sejarah gereja—pernah berselisih tajam hingga berpisah (Kis. 15:36–41). Tidak ada seorang pun yang kebal terhadap konflik. Semua orang, termasuk pelayan Tuhan, bisa jatuh dalam dosa jika tidak hidup dipimpin oleh Roh Kudus (Gal. 5:15–16).
Kedua, Injil menahan kita untuk tidak mudah terlibat dalam perseteruan.
Banyak pertikaian dalam pelayanan muncul dari kesombongan hati: kita merasa paling benar, paling berjasa, paling layak didengar. Tapi Injil mengajarkan sebaliknya—Yesus yang paling layak justru merendahkan diri-Nya. Dia tidak membela diri saat disalahpahami. Dia tidak membalas saat dikhianati. Dia mengalah untuk menyelamatkan. Itulah Injil: Allah yang merendahkan diri demi menyelamatkan manusia yang lemah.
Ketika kita sungguh memahami dan hidup dalam Injil, kita akan lebih mudah menahan diri. Kita tidak perlu menang sendiri. Kita mau belajar mengerti dan menjumpai orang lain di posisinya. Bahkan ketika kita dilukai, kita bisa berkata dalam hati, “Tuhan Yesus juga mengalami luka yang lebih dalam—dan Dia tetap mengasihi.” Setiap luka dalam pelayanan bisa menjadi jalan untuk semakin mengenal dan menyatu dengan penderitaan Kristus.
Ketiga, Injil memampukan kita untuk menyelesaikan konflik dengan kerendahan hati.
Masalah seringkali berlarut-larut karena kita gengsi untuk mengakui kesalahan atau mengambil inisiatif damai. Tapi ketika kita melihat diri dalam terang Injil, kita sadar bahwa kita pun penuh dosa. Tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar baik di hadapan Allah (Rm. 3:23). Kebenaran kita hanyalah seperti kain kotor (Yes. 64:6). Kita semua berdiri di hadapan salib dengan kerendahan hati—hanya karena kasih karunia kita bisa diampuni dan diangkat.
Dengan kesadaran ini, kita tidak lagi melihat orang lain sebagai lebih buruk dari kita. Bahkan kalaupun dia salah, kita tetap bisa merendahkan diri dan berkata, “Saya juga berdosa. Mari kita berdamai.” Injil melembutkan hati dan memulihkan relasi. Injil adalah kekuatan untuk menciptakan damai.
Kesimpulan
Dalam pelayanan, luka itu wajar. Tapi tidak semua yang wajar itu benar. Wajar marah, wajar sakit hati, wajar kecewa—tapi belum tentu benar jika kita membiarkan itu tumbuh menjadi akar kepahitan. Ketika konflik datang, mari jangan berhenti di rasa sakit, tetapi bawa semua itu kepada terang Injil.
Injil membantu kita melihat akar dosa, memberi kekuatan untuk menahan diri, dan keberanian untuk berdamai. Tidak ada luka pelayanan yang tidak bisa dijamah oleh kasih Kristus. Semua yang terjadi bisa menjadi sarana pertumbuhan jika kita menanggapinya dalam terang salib. Mari tetap melayani dengan hati yang lembut, dengan kerendahan hati, dan dengan Injil yang hidup di dalam kita.
Studi Alkitab Mandiri
Bacalah Filipi 2:1-11, setelah itu jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini!
- Apa saja modal penting yang disediakan di dalam Kristus bagi kita (ayat 1)? Terangkan manfaatnya bagi kesatuan!
- Sikap apa saja yang diperlukan untuk memelihara kesatuan (ayat 2-4)?
- Teladan apa saja yang diajarkan melalui inkarnasi dan kematian Kristus (ayat 5-8)?
- Apa yang dilakukan oleh Allah kepada orang yang rendah hati (ayat 9-11)?
Ayat Hafalan
Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! (Roma 12:18)
Pertanyaan Untuk Diskusi
- Sifat atau sikap rekan pelayanan seperti apa yang paling menjengkelkan bagi Anda?
- Apa saja kekurangan Anda yang mungkin membuat rekan pelayanan Anda merasa kurang nyaman atau sering bertengkar dengan Anda?
- Tindakan mengalah apa yang paling berat yang Anda pernah lakukan terhadap orang lain? Ceritakanlah!