Anak bertumbuh kuat ketika ayah dan ibu berdiri dalam satu hati, satu nilai, dan satu arah. Kekompakan orang tua bukan sekadar strategi mendidik, melainkan kesaksian kasih yang memberi rasa aman, membentuk karakter, dan menolong anak mengenal otoritas Tuhan melalui keluarga yang utuh dan konsisten.
PENDAHULUAN
Sudah ribuan tahun lamanya peradaban manusia mengenal dan mempraktikkan pembagian tugas secara seksual. Dalam pandangan tradisional yang bersifat universal ini, wanita sering kali dianggap sudah sewajarnya tinggal di rumah; melahirkan, membesarkan anak, memasak, dan mengerjakan 1001 macam urusan rumah tangga. Sebaliknya, laki-laki dianggap memiliki kewajiban tunggal untuk keluar rumah mencari nafkah bagi keluarganya, entah itu berburu, berladang, bekerja di kantor, atau berniaga. Meskipun anggapan yang melatarbelakangi budaya ini terus berubah dari zaman ke zaman, polanya kerap kali tertinggal dan mengakar kuat dalam keluarga modern.
Menurut pola pembagian tugas tradisional tersebut, mendidik anak sering kali dilemparkan sepenuhnya sebagai tugas ibu. Hal ini sering diperkuat oleh stigma bahwa ibu dinilai lebih sabar, lebih akrab dengan anak, atau memiliki “pendekatan feminin” yang dianggap lebih ampuh untuk pendidikan. Namun, apakah pandangan ini sepenuhnya tepat? Siapakah sebenarnya yang lebih cocok mendidik anak?
Untuk menjawabnya, kita harus memahami terlebih dahulu apa arti mendidik. Mendidik anak adalah proses menanamkan dan menumbuhkan nilai-nilai, perasaan, sikap, kecakapan, keterampilan, perilaku, dan pengetahuan yang diyakini oleh orang tua sebagai hal yang baik. Upaya pembentukan karakter ini memakan waktu bertahun-tahun lamanya dan harus dilakukan secara berencana serta disengaja. Karena cakupannya sangat luas dan dalam, pendidikan pertama-tama menuntut orang tua untuk menyepakati visi tentang “hal yang baik” demi masa depan anak. Jika upaya ini hanya dibebankan kepada ibu, kelak sang ayah mungkin akan terkejut melihat “produk” atau karakter anak yang ternyata tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan atau maksudkan. Di sinilah letak urgensi mutlak dari kerja sama antara suami dan istri.
DASAR ALKITAB
Siapakah yang seharusnya mendidik anak menurut kacamata firman Tuhan? Alkitab memberikan catatan dan panduan yang sangat jelas mengenai hal ini. Bahkan, jauh sebelum konsep kesetaraan modern muncul, Alkitab telah menempatkan ayah sebagai pendidik utama bersama ibu.
Di dalam bangsa Israel purba, meskipun mereka hidup dalam budaya yang didominasi oleh pria, pendidikan justru dipandang sebagai tanggung jawab langsung seorang ayah. Yesaya 38:19 mencatat, “…seorang bapa memberitahukan kesetiaan-Mu kepada anak-anaknya.” Ayah bertugas mengajarkan Taurat dan kebenaran Tuhan. Ini membuktikan bahwa keterlibatan ayah dalam mendidik bukanlah sekadar tren psikologi modern, melainkan ketetapan Ilahi sejak ribuan tahun sebelum Kristus.
Lebih dari itu, Alkitab menegaskan keyakinan bahwa pendidikan adalah tugas bersama antara ayah dan ibu. Pendampingan dan pengawasan sehari-hari atas perilaku anak bukanlah eksklusif tugas salah satu pihak. Dalam Ulangan 21:18-21, dicatat sebuah peraturan yang sangat tegas: jika seorang anak membangkang walaupun sudah ditegur, maka “…haruslah ayahnya dan ibunya memegang dia dan membawa dia keluar kepada para tua-tua kotanya di pintu gerbang…” Ayat ini menunjukkan otoritas yang bersatu; ayah dan ibu harus bertindak bersama-sama dalam mendisiplinkan anak.
Harmoni pengajaran ini juga tertuang indah dalam Amsal 1:8, “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu.” Kedua belah pihak memiliki andil yang setara dan saling melengkapi. Kecenderungan Alkitab yang paling umum adalah sinergi kedua orang tua, seperti yang digambarkan dalam Lukas 2:51 mengenai masa kecil Yesus: “…dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka.” Yesus dididik dan bertumbuh dalam asuhan Maria dan Yusuf sebagai sebuah kesatuan.
Dalam teologi Kristiani, kita meyakini bahwa anak adalah pemberian Tuhan. Menariknya, dalam bahasa Belanda atau Jerman, kata pemberian (Gabe atau gave) secara linguistik dan makna selalu mengandung penugasan (Aufgabe atau opgave). Saat Tuhan memberikan kehidupan seorang anak, di dalam anugerah itu terkandung tanggung jawab yang besar. Tuhan memberikan anak bukan hanya kepada sang ayah atau kepada sang ibu secara terpisah, melainkan kepada keduanya secara bersamaan. Oleh sebab itu, tugas mendidik anak adalah tugas tak terpisahkan bagi keduanya.
APA YANG TERJADI SEKARANG
Dalam realita keluarga saat ini, keseimbangan Gabe dan Aufgabe ini sering kali terganggu. Banyak ayah yang sangat sukses di tempat kerja namun “absen” secara emosional dan spiritual di rumah, menyerahkan seluruh urusan pembentukan karakter anak kepada istri. Di sisi lain, tidak sedikit ibu yang merasa kelelahan karena harus menjadi “orang tua tunggal” di dalam pernikahan yang utuh, mengambil peran ganda sebagai pengasuh, pendidik, dan penegak disiplin tanpa dukungan suaminya.
Ketidakterlibatan satu pihak ini sering kali memicu lahirnya ketidakkompakan. Ketika ayah dan ibu tidak berdiskusi dan menyepakati nilai-nilai yang ingin ditanamkan, anak akan melihat celah perbedaan tersebut. Muncullah dinamika yang merusak: anak menjadi cerdik memanfaatkan ketidakkompakan orang tua. Apa yang dilarang dengan tegas oleh ibunya, diam-diam diperbolehkan oleh ayahnya demi menghindari konflik. Atau sebaliknya, saat ayah sedang mendisiplinkan atau mengecam perilaku buruk anak, sang ibu justru datang membela dan menyanjung anak tersebut secara berlebihan.
Ketidakkonsistenan ini sangat membahayakan perkembangan jiwa anak. Mereka tumbuh dalam kebingungan moral, tidak memiliki batasan yang pasti, dan pada akhirnya kehilangan rasa hormat terhadap otoritas kedua orang tuanya. Tubuh keluarga menjadi tidak sehat karena dua kepala keluarga bergerak ke arah yang berlawanan.
APA YANG HARUS DILAKUKAN?
Langkah pertama yang paling krusial bagi pasangan suami istri adalah menyamakan visi dan nilai-nilai (values). Luangkan waktu khusus untuk berdiskusi: Karakter seperti apa yang ingin kita bangun pada diri anak kita? Aturan apa yang berlaku di rumah ini? Kesepakatan di belakang layar adalah kunci keberhasilan di panggung pengasuhan.
Selanjutnya, wujudkanlah kesatuan otoritas tersebut dalam tindakan nyata sehari-hari. Tugas mendidik harus dilakukan sebagai sebuah kesatuan yang utuh dan solid. Ingatlah kaidah emas ini: Apa yang dilarang oleh ibu, janganlah diperbolehkan oleh ayah. Apa yang dikecam ayah, jangan disanjung ibu. Jika salah satu pihak sedang mendisiplinkan anak, pihak yang lain harus memberikan dukungan, bukan justru melemahkan otoritas pasangannya di depan anak. Jika ada ketidaksetujuan mengenai cara mendidik, simpanlah argumen tersebut dan diskusikanlah secara pribadi di dalam kamar, jauh dari pendengaran anak.
Para ayah harus dengan sengaja mengambil peran aktif, meluangkan waktu, dan tidak berlindung di balik alasan kesibukan pekerjaan. Ayah dipanggil untuk menjadi imam yang menanamkan kebenaran firman Tuhan. Sementara para ibu perlu memberikan ruang dan kepercayaan kepada suami untuk ikut campur tangan dalam mendidik anak, menghargai gaya pengasuhan suami yang mungkin berbeda, namun berharga.
RANGKUMAN
Mendidik anak adalah tugas mulia sekaligus proses panjang yang disengaja untuk menanamkan kebenaran, di mana Tuhan memanggil ayah dan ibu untuk mengerjakannya bersama-sama. Berdasarkan prinsip firman Tuhan di dalam Yesaya, Ulangan, Amsal, dan Lukas, pengasuhan bukanlah ranah eksklusif salah satu gender. Anak adalah pemberian (Gabe) sekaligus penugasan (Aufgabe) bagi suami dan istri. Oleh karena itu, kekompakan adalah syarat mutlak. Pasangan suami istri harus saling mendukung dan tidak membatalkan otoritas satu sama lain; memastikan bahwa apa yang ditegakkan oleh ayah juga didukung oleh ibu, sehingga anak bertumbuh dalam lingkungan yang aman, konsisten, dan penuh hikmat.
PERTANYAAN
- Apakah selama ini ada nilai atau aturan yang Anda dan pasangan pandang berbeda dalam mendidik anak? Bagaimana kalian biasanya menyikapi perbedaan tersebut?
- Pernahkah terjadi situasi di mana “apa yang dikecam ayah justru disanjung ibu” (atau sebaliknya) di dalam rumah tangga Anda? Apa dampak yang Anda lihat pada anak?
- Langkah konkret apa yang dapat Anda dan pasangan sepakati hari ini untuk membangun kekompakan yang lebih solid, agar anak melihat Anda berdua sebagai satu kesatuan otoritas yang utuh?